Minggu, 03 November 2013

When There is a Will, There is a Way

Lampiran

Dengan ini saya Aristi Aminna Dian Pradana menyatakan bahwa cerpen berjudul When There Is A Will There Is A Way orisinil dan belum pernah dipublikasikan ke media manapun sebelumnya. Kepada pihak Aneka Yess! mohon mempublikasikan cerpen saya. Terimakasih atas perhatiannya dan kesediaan mempublikasikan cerpen saya.



















Tertanda Aristi Pradana

When There is a Will, There is a Way

 “Gila! Kardigan jelek mirip gombal masak nyokap gue gini aja Rp 300.000,-. Sadis amat yang ngasih harga!” umpat Olin saat melihat-lihat baju di salah satu kawasan perbelanjaan.
“Ehem-ehem!” tiba-tiba terdengar deheman keras dari belakang Olin.
Olin yang lagi naik darah kontan langsung memaki orang tersebut tanpa melihat siapa orang tersebut terlebih dahulu, “Kalau lagi batuk diobatin donk! Jorok tau sampe dahakan gitu!” makinya.
“Jorok ya?” sahut orang tersebut dengan nada tenang.
“Ya iyalah!” protes Olin sebal. Pake nanya!
“Tadi ngatain jelek. Sekarang nagtain jorok. Berani bayar berapa buat bayar denda atas tindakan tidak sopan?” tiba-tiba orang tersebut menantang. Nah lho! Kok orang itu marah-marah Olin ngatain kardigan yang dijual di toko ini jelek.  Jangan-jangan.....
 Olin berbalik perlahan dan berharap semoga feelingnya salah. Namun, ternyata bukan Dewi Fortuna yang menyertainya saat ini. Melainkan Dewi Apes yang menyertainya. Jadilah Olin apes, karena ternyata yang di belakangnya adalah sang pemilik toko!
“Em...e..” Olin geragapan. Bingung  mau berkata apa pada sang pemilik toko tersebut, “Em...ada yang lebih mahal nggak dari ini? Soalnya harga kan biasanya menentukan banget ya kan? Nah ini cuma Rp 300.000,-.  Jadi  ya...kurang okelah! Ada yang 2 juta nggak? Kalau ada saya ambil yang 2 juta itu aja deh, Bu!” Olin beralasan. Semoga dengan berlagak sok kaum borjuis seperti ini dapat menyelamatkan harga dirinya!
Ibu paruh baya dengan dandanan heboh plus menor disana-sini yang ternyata sang pemilik toko itu langsung menatap Olin dari atas sampe bawah―bolak-balik pulak!―dengan tatapan yang mengisyaratkan sejuta arti. Nggak percaya, nggak mungkin, mustahil dan segala bentuk ketidakpercayaan kalau Olin ini tajir.
Dalam hati ibu itu berniat mau mengambilkan saja baju seharga 2 juta. Biar mati nih anak nggak bisa bayar. “Ya sudah tunggu sebentar saya ambilkan bajunya.” kata ibu itu lalu menghilang di balik deretan baju yang berjuntai indah bikin semua orang laper mata.
Tapi Olin ternyata lebih pinter ketimbang ibu-ibu nggak sadar umur itu. Pas si ibu itu masuk ke dalam ngambilin baju, Olin langsung kabur dari toko. Nggak peduli mbak-mbak SPG-nya pada ngeliatin Olin. Yang penting selamet dari rajanya dulu. SPG, urusan belakangan. Orang nggak kenal aja.
Selamat dari badak menor itu, Olin kembali ke misinya beburu baju murah tapi tetap up-to-date untuk acara pensi lusa nanti. Niatnya sih dia mau nggak datang. Tapi nggak ikut pensi akan berakibat mengubah dirinya seakan-akan menjadi manusia purba yang kesasar di tahun 2010. Mengapa? Karena nanti ia akan diberondong cemooh berbunyi, ‘Dari abad berapa sih lo dateng? Masa sampe nggak ikut pensi?’. Sadis kan? Jadi jangan sampe deh ngalamin bencana bernama ’Nggak Ikut Pensi’!
Sudah hampir 3 jam Olin muter-muter di Mangga Dua sampe betisnya udah nggak bisa dibedain lagi sama pemain sepak bola. Tapi, perburuannya belum juga membuahkan hasil. Ya gimana lagi. Olinnya sih yang kelewat kere. Dia nggak mau nabung jauh-jauh hari buat prepare pensi. Alhasil dia cuma mematok budget Rp 30.000,-  untuk mendapatkan satu stel baju lengkap dari atas sampe bawah. Dapet apaan coba. Angkotnya ke sana aja udah makan dana Rp 3000,- ?! Sebenarnya Olin juga sudah tahu segala kemustahilan itu dari awal. Tapi, ia terus berusaha menentramkan pikirannya dan terus memaksa otaknya untuk percaya bahwa keajaiban itu ada. Tapi nyatanya....
 “Ah...270.000! Angka nol di duit gue kurang satu nih. Coba nol di duit gue bisa ditambahin. Jadi deh nih baju gue bawa pulang.” gerutunya dalam verse ke-1. “Halah! Keliatannya aja Diskon 50% plus 15%! Tapi kalau harga awalnya 300.000 juga sama aja nggak kebeli!” itu verse ke-2. “Ha! Ada yang 27.000 nih!” pekiknya girang. Namun beberapa saat kemudian, “Ya ampun ternyata cuma kaos oblong putih doangan. Mana buat cowok pula! Sama juga boong!” itu verse ke-3 nya.
Dan kenyataannya adalah nggak ada keajaiban! Nelangsa banget tuh bocah. Jalan-jalan sendirian, muka juga kelipet-lipet BT gitu. Udah mirip anak ilang. Tapi Olin nggak mau nyerah. Ia tetap berkeliling menelusuri hingga ke sudut-sudutnya. Meneliti setiap baju yang ia temui dengan rumus pengeliminasian. Yaitu mengeliminasi yang harganya nggak kompromi sama kantong, dan mempertimbangkan yang sesuai persyaratan (murah dan up-to-date). Namun perbandingan keduanya hampir sejuta banding seperempat. Alias banyakan yang nggak cocok dari pada yang cocok. Huh! deretan baju ini bener-bener bikin ngeces! Pikir Olin.
Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh sebuah vest yang keren abis. Bahannya jins hitam dengan hiasan manik-manik pink dan abu-abu yang membentuk gambar tengkorak. Pasti di-mix sama kaos stripes-stripes pink putih bagus, pikirnya. GUE MAU YANG INI. Rasanya  Olin ingin teriak. Namun suaranya tertahan oleh rasa kecewa karena harganya mahal. Urgh...!
%%%%%

 “Kalau gue mau pake dress biru gue yang baru itu,” ujar Mita nggak mau kalah dengan Kikan yang katanya pensi nanti mau pake terusan Dolce & Gabbana yang asli dibeliin kakaknya dari Milan.
“Warna dress lo bagus, lho Mit! Biru laut! Kalau terusan D&G gue itu warnanya peach-peach gitu. Trus model kerahnya yang mirip kimono itu keren banget bikin terusan gue keliatan kalau asli branded. Dan untung gue punya tas tangan Fendi warna putih kan match banget sama D&G gue itu,” jelas Kikan panjang lebar dengan penekanan lebih pada setiap kata D&G dan Fendi. Bilang aja mau pamer. Pake embel-embel muji dressnya Mita segala biar nggak keliatan pamer! Batin Olin sengit.
“Lin besok lo mau pake apa?” tanya Mita kepada Olin, hanya sekedar untuk menyiasati Kikan yang sudah siap-siap mau mamerin terusan D&Gnya lagi, supaya mingkem!
“Gue sih yang jelas mau pake baju bukan karung beras.” jawab Olin cuek.
“Ih....Olin! Ngelawak mulu! Serius nih!” desak Mita kepada Olin yang emang jago ngebanyol, “Jadi baju lo ntar gimana? Awas ya kalau jawabnya ngaco lagi!” ancam Mita.
Duh...Mita ngebet banget sih pingin tau baju gue ntar. Baju gue kan jauh gila levelnya sama dia. Bisa ajlok nih karisma gue. Pikir Olin.
Olin memutar otak. Dan kayaknya kabur menjadi satu-satunya jalan keluar saat ini. “Aduh, Mit! Kayaknya perut gue kangen kamar mandi deh! Gue ke kamar mandi dulu, ya! Emergency!” seru Olin bohong dan langsung kabur tanpa menghiraukan 2 teman sekelasnya yang hanya bisa bengong.
%%%%%
Dengan wajah kusut, Olin masuk ke kamarnya dan langsung membanting diri di atas ranjang tempat tidurnya. Tamatlah riwayat gue! Batinnya nelangsa. Udah nangis bombay sampe mata pedes cuma biar Mama luluh mau mengucurkan dana, e...nggak taunya Mama tetep keukeuh nggak mau bagi duit sedikitpun. Sambil menerawang langit-langit kamarnya, Olin masih membayangkan vest yang ia temui kemarin.
“Keren banget!” desahnya pelan dengan wajah mupeng yang kembali kumat. Dari jins item, trus ada manik-manik tengkoraknya. Pasti kalau dipaduin sama kaos garis-garis pink putih yang gue punya cocok. Batinnya lagi. Di sisi lain, Olin menyalahkan dirinya. Kenapa dia tidak menabung dari beberapa minggu yang lalu. Coba dia mau nabung. Nggak perlu repot-repot deh nyari sponsor dana.
Eh...wait! Olin mendadak bangun dari posisi tidurnya. “Kain vest-nya tadi dari jins item. Itu kan  sama kayak baju hamil Mama dulu.” gumamnya. “Aha! Gue punya ide!” pekiknya saat tiba-tiba ada sebuah ide terinstal di otaknya. 
Sedetik kemudian Olin langsung membongkar gudang untuk mencari baju hamil mamanya di tumpukan baju lama. Setelah mendapatkannya, ia segera ke kamar dan bersemedi mencari ilham untuk menyulap baju hamil Mamanya menjadi sebuah vest keren ala Olin. Mau tau gimana cara nyulapnya? Yang jelas nyulapnya bukan dengan cara ala Limbad, atau dengan mantranya Harry Potter. Melainkan dengan menjahitnya. Yup! Olin akan menjahit.
Langkah pertama yang harus Olin lakukan adalah membuat pola. Lewat majalah, ia mengamati bentuk vest untuk lebih detailnya. Lalu ia mengambil salah satu bajunya untuk menjiplak ukuran tubuhnya. Setelah itu barulah ia menggambar pola vest pada selembar kertas besar.
Selesai menggambar, ia menggunting kain jins tersebut dengan mengikuti pola yang telah ia buat. Setelah digunting, kain tersebut dijahit. Ini dia part yang paling sulit. Karena menjahit itu perlu kesabaran. Apalagi menjahitnya secara manual alias nggak pake mesin jahit. Perlu ekstra sabar nih.
“Adow!” jerit Olin saat tak sengaja jarinya tertusuk jarum, “Ah! Belum apa-apa tangan gue udah KO!” gerutunya. Namun bukan Olin namanya kalau stok semangatnya tipis. Dengan semangat full Olin terus berjuang hingga titik keringat penghabisan. Ya...Walaupun ia penjahit amatir, tapi paling nggak dulu pas pelajaran menjahit di SD dia masuk teruslah. Jadi lumayan tahu serba-serbi menjahit.
Berkat  ketidakmalasannya di masa lampau yang nggak pernah absen pelajaran menjahit, dan berkat semboyan ‘Ada niat ada hasil’ yang terus dikobarkannya, akhirnya vest tersebut selesai juga! “Nah...tinggal nambah pernak-pernik deh!” ujarnya girang sambil mengusap keringat di dahinya.
Dengan modal pita, kancing-kancing lucu, dan payet warna-warni, Olin benar-benar berhasil
menyulap baju hamil mamanya menjadi sebuah vest keren yang kalau dipajang di distro sudah bisa disebut sebagai karya designer terkenal.
 Karena baju hamil Mama ternyata gede banget, sehingga masih ada banyak sisa yang bisa dimanfaatkan, Olin kembali memutar otak. Dibikin rok mini aja! Pikirnya. Tak lama kemudian ia kembali berkutat dengan sejoli yang tak dapat dipisahkan. Yakni jarum dan benang.
Ia langsung menggunting jins tersebut sesuai dengan lingkar pinggangnya. Agar roknya tidak terlihat hanya kotak polos begitu saja, ia menambah  aksen rimple pada bagian bawahnya. Sebagai aksesoris Olin  melintangkan pita berglitter pink dan silver di atas rimple agar matching dengan kaos stripes pink-putihnya. Sesaat Olin merasa amazing sendiri. Kok tangannya jadi lincah menjahit gini ya? Apa ini yang disebut keajaiban semangat when there is a will there is a way?
%%%%%
Pensi pun tiba. Terpeta jelas di wajah Olin kepuasan dan kepercayaan diri karena menggunakan baju made in me-nya. Ia yakin bahwa ia tidak akan minder bila nanti bertemu Kikan dengan baju branded-nya ataupun Mita dengan dress anggunnya. Karena ia punya sesuatu yang lebih membanggakan.
Olin nampak manis dengan kaos stripes pink-putihnya, dilapisi vest buatannya, dan rok berrimple yang juga buatannya. Untuk rambut, Olin mengenakan bandana putih. Rambutnya yang sudah dari pabriknya sono curly di bagian bawahnya, kian menambah manis penampilanya malam itu.
Tidak jauh dari tempat Olin berdiri sekarang, terlihat Mita dan Kikan sedang berbincang-bincang. Dilihat dari ekspresi excited Kikan dan ekspresi bosan Mita, Olin sudah bisa menebak bahwa Mita sedang menjadi korban sebagai objek ajang pamernya Kikan. Kasihan Mita. Semoga ia diberi ketabahan ekstra dari yang Maha Kuasa untuk menghadapi spesies macam Kikan. Amin. Batin Olin.
“Hai ,Mit, Kan!” sapa Olin.
“Olin!” Mita nampak surprise melihat Olin, “Baju lo keren lho, Lin!” pujinya langsung.
 “Roknya cute abis...manik-maniknya...perpaduan warnanya semua perfect.” gumam Kikan terpana.
“Thanks! Ini bikin sendiri lho, Kan!” kata Olin semakin PD.
“Oh..eh...!” Kikan yang berprinsip anti muji kelebihan orang lain, langsung geragapan setelah nyadar kalau barusan dia muji Olin. “Nah!Ini lho D&G yang gue ceritain kemarin, Lin!” pamer Kikan.
“Oh itu D&G lo! Kalo ini gue bikin sendiri. Tanpa musti capek-capek ke Milan pula!” Olin balik pamer sekalian nyindir Kikan yang langsung cemberut tersindir sedangkan Mita tersenyum puas. Sukurin!
“Halo...anak-anak!” Miss Raifa guru bahasa Inggris yang charming banget menyapa. “Lho, ini Olin ya? You look so gorgeous...” Miss Raifa nampak takjub juga melihat Olin. Yang dipuji jelas langsung tersanjung mendengarnya, “Thanks Miss. Anyway, ini bikinan sendiri lho, Miss, ” pamer Olin.
“Oh...ya...bagus lho....kalau begitu kamu jadi designer saja. Trus nanti Miss pesen baju ke kamu. Tapi diskon ya?” sanjung Miss Raifa lagi. Olin hanya mengacungkan jempol dan tersenyum girang.
 Tak lama kemudian pandangan Miss Raifa bergulir pada Kikan. Lebih tepatnya pada kerah Kikan yang ada merknya. “Kikan, baju kamu beneran D&G ?” tanya beliau. Dengan semangat Kikan langsung mengagguk dan mengatakan kalau belinya langsung di Milan.
“Kikan, tapi D&G yang asli jahitannya kuat dan nggak gampang lepas,” tutur beliau seraya menarik sehelai benang yang mencuat di pundak Kikan. Kontan aja Kikan langsung keki. Masa D&G yang harganya jutaan jahitannya lepas?
“Dan...sepertinya kamu ketipu, Kan! Bahannya juga beda lho. Seperti ini di Jakarta juga banyak.” ujar Miss Raifa lagi. Dalam hitungan detik muka Kikan langsung merah padam karena malu kebohongannya ketauan. Olin dan Mita senyam-senyum sendiri melihat Kikan ketauan ngibul. 
“Eh, Kan! Itu stand Aksesorisnya udah buka. Ayo ke sana katanya mau beli bandana. Ya udah ya Miss...Mau berburu aksesoris dulu!” cerocos Olin panjang lebar lalu menarik Kikan dan Mita pergi untuk menyelamatkan harga diri Kikan. Fiuh...untung Olin baik hati. Kalau nggak, bisa mewek di tempat tuh si Kikan kemakan malu. Hihihi...

Hai-Hai lagi! Hehe...
Nah, ini cerpen yang usianya juga udah cukup bangkotan. Nih cerpen selesai gue tulis pada tanggal 6 November 2010. Karena berbulan-bulan nggak ada kabar, berarti kesimpulannya nih cerpen resmi ditolak. hehe...
Oya, di cerpen ini kan ada lampiran segala tuh. Itu lampirannya salah. Jangan ditiru ya. Hehe maklum masih pemula.
Jadi, gini ceritanya. Cerpen ini mau gue kirim ke majalah Aneka Yess. Pada tahun itu majalah Aneka Yess mengharuskan para pengirim cerpen untuk mengirimkan cerpennya disertai surat pengantar. Berhubung gue waktu itu belum punya modem dan males ke warnet, jadi waktu itu gue males searching tentang format surat pengantar yang bener itu kayak apa . Jadinya ya udah, gue bikin aja surat pengantar asal-asalan. 
Yaaa... Next time deh. Gue posting contoh surat pengantar tuh kayak apa.
Oke, sekian postingan gue. Thanks sudah mampir yaaah :D

Dramma da Rome (Sandiwara dari Roma)


Cut!” teriakkan Pak Han praktis menghentikan jalannya geladi resik. “Vea, kemari sebentar!” Beliau mengedikkan dagu pada sosok gadis manis yang didaulat memerankan tokoh Putri Isolde.
Pak Han menaikkan kaca matanya yang melorot sebelum berbicara pada gadis manis penyandang nama Vea yang kini telah berdiri di depannya itu. Sepasang manik hitam mata nya yang kental akan ketegasan menulusuri wajah Vea sesaat. Membuat anak didiknya itu harus menetralkan degup jantungnya yang bertalu-talu karena mengira akan menerima hembusan lahar kemarahan.
 “Tatapan matamu ke Pangeran Tristan harusnya memuja karena Tristanlah cinta Isolde,” tukas Pak Han, “Sedangkan ke Raja Marke harusnya biasa saja. Tapi kenapa kamu malah membaliknya?!”
“Maaf, Pak. Saya akan berusaha lagi.” Vea menunduk, galau. Ia belum bisa mengekspresikan jatuh cinta pada sosok Pangeran Tristan yang diperankan Ryd karena ia membenci Ryd. Ia juga belum bisa mengekspresikan rasa benci pada sosok Raja Marke yang diperankan Tristan karena ia mencintai Tristan. Ia tahu ia harus profesional. Tapi, prahara yang membalur ketiganya amat sukar diusir sejenak demi totalitas akting. Ia masih memainkan hatinya di kehidupan nyata. Lagipula mengapa Pak Han tidak memilih Tristan yang memerankan Pangeran Tristan? Nama keduanya saja sudah ditakdirkan sama.
*
Berbutir-butir bintang yang tersemai di langit Roma kian meleburkan romantisme drama Tristan dan Isolde. Teater outdoor yang digelar di halaman Universitas La Sapienza ini cukup berhasil mengumpulkan para pemuda Indonesia yang menempa ilmu di Roma, serta para WNI yang tinggal di sana. Pertunjukkan ini memang untuk ajang kumpul orang Indonesia.

Sembari menunggu gilirannya tampil, Vea sibuk melakukan re-reading dengan orang yang paling ia benci. Ryd. Perannya sebagai Isolde menuntutnya banyak menghabiskan waktu dengan Ryd.
Seharusnya Tristan pemeran Pangeran Tristan. Karena ia murni memiliki bakat akting. Sedangkan Ryd, ia hanya modal tampang dan uang sogokan! Hatinya menggerutu masih tak terima.
“Seneng ya bisa ngalahin abang sendiri?” ia mencoba sedikit renyah.
Ryd menyeringai, “Tristan? Ya, abang tiriku itu memang jago akting. Tapi akhirnya aku pemeran utamanya kan? Dan dia hanya peran kedua.”
Well, Kamu hebat. Selama ini gak ada anak teater yang bisa nyaingin bakat alami Tristan. Kalaupun ada pasti nyogok. Haha...najis banget!” sindirnya.
Ryd berpura-pura mengumbar tawa menganggap hal itu bodoh. Padahal di hatinya rasa malu jelas terpapar. Vea tahu tabiat Ryd yang satu ini dan dalam hati ia menertawakannya. Itu sangat menyenangkan. Seperti berhasil melucuti topeng bidadari milik si buruk rupa yang mengaku secantik bidadari.
Tak lama kemudian, sosok Tristan turun dari panggung. Vea pun buru-buru mengejarnya dan  tak lupa mengatakan alasan klise kepada Ryd sebelum melenggang pergi, “Aku mau ke toilet!”
*
Tristan berdiri di jembatan kuno yang melengkung di atas kanal kecil tak jauh dari area teater. Pandangannya begitu serius menjurus pada riak sungai yang memantulkan sepotong bulan sabit.
Vea meredam bunyi langkah stilettonya agar Tristan tak pergi bila tahu ia datang.
“Mau apa ke sini?” Deg! Belum ada 5m ia mendekat, Tristan sudah menegurnya.
Sedikit kendur niatnya, tapi ia tetap memberanikan diri. “Boleh ngobrol sebentar? Kita udah lama gak ngobrol.”
“Habis ini adeganku,” tukas Tristan tanpa menaruh pandangan sedikit pun padanya dan buru-buru bertolak pergi.
Namun, ia segera menangkap tangan Tristan, menghalanginya pergi. “Gak baca script ya? Masih ada 2 scene lagi baru adeganmu.”
Tristan melepaskan gamitan lembut Vea yang membungkus lengannya. “Sori, aku mau ke toilet!”
Alasan basi! Batin Vea geram. “Gak! Kamu gak mau ke toilet. Aku tahu itu karena aku juga sering pakai alasan itu!” Ia mencegat langkah Tristan dan berdiri di hadapannya, “Aku punya hak untuk memilih, Tristan! Dan aku milih kamu!”
Tristan masih tak menatapnya sama sekali. Sikapnya begitu dingin sekarang. “Aku juga punya hak untuk menolak!”
“Atas dasar apa kamu menolak? Karena balas budi kepada ayah angkatmu? Karena ia telah berjasa kepada keluargamu dan kamu harus balas budi kepadanya dengan menyerahkan aku ke adik tirimu, Ryd?” Vea terengah-engah mengatakannya. Dadanya sampai naik turun terbawa emosi. “Kamu pikir aku bola yang bisa dioper-oper? Kamu gak mikir bola itu kesakitan ditendang-tendang?! Kamu gak gentle! Kamu gak ngehargain aku sebagai manusia! Kamu cuma mikirin dirimu sendiri dan nganggep aku barang barter!”
“Tristan, Vea! Ada instruksi sebentar!”
Suara itu memaksa Vea menahan kegeramannya yang kian menjadi karena suara itu menyebabkan Tristan pergi secara legal. Tristan terselamatkan oleh Pak Han!
Vea mendesah. “Kenapa kamu membuat cerita kita seperti kisah Tristan dan Isolde, Tristan?”
*
Tristan dan Isolde adalah legenda dari daratan Eropa pada jaman medievale1. Kisah ini mengisahkan cinta segitiga dimana Tristan harus menyerahkan gadis pujaannya, Isolde, kepada ayah angkatnya, Raja Marke. Pada akhirnya Isolde memang menikah dengan Raja Marke, namun diam-diam ia menjalin hubungan terlarang dengan Tristan.
Dan versi Tristan-Vea-Ryd pun memiliki kisah yang tak jauh beda. Tristan harus menyerahkan gadis pujaannya, Vea, kepada saudara tirinya, Ryd. Tapi bedanya, Vea dan Tristan tidak menjalin hubungan gelap walaupun menurut presepsi orang mereka memiliki hubungan spesial...
*
Didukung Backdrop2 taman, dan follow spot3 yang sempurna, adegan romantis Tristan dan Isolde sukses menghanyutkan penonton ke dalam ke-kartasis4-an.
Pangeran Tristan membelai sayang rambut Isolde. Malam ini akting Ryd sangat natural. Pandangan penuh kasihnya menghujan deras di matanya. Entahlah mungkin ia melibatkan perasaan pribadinya yang memang mengincar Vea. Sebaliknya, Vea melakukan semua adegan ini hanya atas dasar profesionalisme. Tidak lebih. Titik.
Di balik layar, diam-diam sosok Tristan selalu membidik setiap adegan yang dimainkan Vea. Hatinya kian retak tatkala adegan Pangeran Tristan mendaratkan kecupan di dahi Isolde. Sudah cukup sepanjang adegan tangan Vea diremat Ryd. Hatinya bak digurat lidah api cemburu. Tapi ia harus mulai membiasakan diri. Karena Ryd akan menuangkan semua adegan ini ke dalam alur nyata kehidupan kelak bila ia melepas gadisnya.
Tristan tak ingin melepas Vea. Tapi Ryd harus mendapatkan Vea. Ia terdiam. Abstain. Ia biarkan hatinya menelan ketidakpastian.
*
Gemuruh di dada Tristan kian meraja. Inilah saatnya ia sepanggung dengan Vea. adegan Raja Marke dengan Isolde akhirnya tiba. Itu sebabnya ia begitu gugup berakting. Ia belum siap menatap Vea. apalagi di scene ini ada adegan Raja Marke menyatakan cintanya pada Isolde, yang berarti ia menyatakan cinta pada Vea....
Di scene ini dikisahkan di acara makan malam, dusta Isolde terkuak karena saat Raja Marke menyatakan cintanya, Isolde tak sengaja malah menyebut nama Tristan bukan nama Raja Marke.
Sementara Vea, ia mengebalkan telinganya agar saat untaian kata cinta Tristan mengalun begitu merdu di lorong telinganya, ia tak melambung karena itu hanya dialog. Bukan kenyataan. Ia juga berusaha memingit hatinya di lingkup sandiwara. Aku adalah putri Isolde...batinnya.
Atmosfer canggung mulai membungkus. Mereka duduk berhadapan terpisahkan meja makan bergaya Baroque5.
“Isolde.” Diraihnya jemari lentik Vea yang terkulai anggun di sisi meja.  Ia menelan ludah susah payah. Inilah saatnya. Aku adalah Raja Marke... Bisiknya menstimulus diri.
 “Isolde, kau adalah ratuku...wanitaku...penghuni hatiku...pemilik cintaku,” desahnya mengungkapkan perasan Raja Marke yang sebenarnya selama ini juga sangat ingin ia ungkapkan. “Isolde, apakah aku juga pemilik cintamu?” Raja Marke menatap Isolde, menunggu jawaban.
Vea membeku. Akting Tristan yang menawan memburaikan pertahanannya. Ia terbuai dialog sakti Tristan dan melupakan kata pertama dalam kalimat itu.
“Vea,” Tristan mengguncang pelan tangan Vea, menyadarkan.
Vea terhenyak. Lalu lamat-lamat ia mengucapkan dialognya, “Aku...sangat mencintaimu...Tristan.” Vea menatap Tristan. Begitu dalam. Tristan dapat membaca tatapan mata Vea yang menegaskan bila Tristan yang Vea maksud bukanlah Tristan-nya Isolde. Melainkan ia. Hatinya remuk. Vea mencintainya begitu tulus. Tapi, ia harus melepasnya.
Di atas panggung, batin mereka saling terkoneksi. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di atas panggung sebenarnya. Ini bukan kisah Tristan & Isolde. Tapi Tristan & Vea.
“Raja Marke marah!” tiba-tiba Pak Han berbisik dari balik tirai, mengingatkan.
Tristan sedikit geragapan dan segera ingat dialognya. “Isolde, apa yang kau katakan?”
“Em...m-maksudku, aku mulai mencintai Tristan sebagai anakku, Raja.”
“Bohong! Kalian berhubungan di belakangku!” tuding Raja.
Kini, panggung yang sesungguhnya telah kembali. Raja Marke yang sedang murka kepada Isolde-lah yang ada di atas panggung.
“Pengawal, panggil Tristan!”
Ryd naik ke atas panggung sebagai Pangeran Tristan dan langsung meluncur bersujud di kaki Raja. “A-aku...mengaku bersalah. Ampuni aku, Ayah!” pintanya.
 “Aku bukan ayahmu! Kau hanya anak angkat!” bentak Raja. Bug! Tanpa belas kasih, Raja menendangnya. “Dasar anak hina!”
Pangeran terisak dan merangkak kembali meminta ampun, “Ayah, ampuni anak angkatmu yang hin―”
 “KAU BUKAN LAGI PANGERAN KERAJAAN CORNWALL! MENJIJIKAN! ANAK ANGKAT TAK TAHU DIRI! KAU TAK LAYAK HIDUP!” Bug! Lagi, Raja menendangnya  seperti menyingkirkan kucing kotor dari kakinya.
Ryd berakting terjerembab. Sedetik kemudian ia bangkit dari jatuhnya. Namun, ada yang ganjil di air mukanya. Seperti ekspresi marah dan tidak terima.
“DASAR ANAK ANGKAT ! KAU SAMPAH!”
“CUKUP!” Ryd tiba-tiba memotong dialog Tristan. Ada apa dengannya?
Bug! Tiba-tiba Ryd menghunuskan tinju di ulu hati Tristan. “Kau yang tak tahu diri, kau yang sampah, bodoh! Ayahku telah menyisihkan uang untuk pengemis sepertimu hingga kau bisa kuliah di Roma! Dan sekarang kau berniat mengambil Vea? Hah?! ”desis Ryd. Ini tak ada di script! Ryd tersulut emosi. Ia tak terima dikatai menjijikan, sampah, dan sebagainya karena menurutnya yang patut dipredikati kata itu adalah Tristan, si anak angkat.
“Ryd! Akting!” Tristan mengingatkan Ryd. Namun Ryd makin beringas. Semua orang tercengang. Para pemain yang ada di atas panggung bingung harus berbuat apa.
“Hei! Apa mereka masih berakting? Orang itu benar-benar berdarah!” pekik salah seorang penonton. Sial! Para penonton yang tadinya mengira itu bagian akting mulai cemas saat bibir Tristan sobek dan berdarah terkena tinju Ryd.
“Bodoh! Apa maksud Ryd?!” di balik layar, Pak Han khawatir. Ini bukan plotnya!
Mengerti drama ini di ujung tanduk, Vea segera ambil bagian walau ini bukan gilirannya. “Stop!” Ia menarik Ryd. “Tristan, ia ayahmu. Kau bukan pendendam! Jangan lakukan itu!” Ia memisahkan keduanya dengan topeng Isolde.
Ryd menatap Vea, bingung. Yang diucapkan Vea tak ada di script. Ia tak tahu Vea berimprovisasi. Ilmu aktingnya terlalu dangkal.
Alih-alih kasihan pada Tristan, Vea berpura-pura membatu Raja Marke. “Raja, Biar kubantu berdiri,” Isolde hendak mendirikan Raja. Tapi tanpa kasihan Raja malah mendorong Isolde hingga tersungkur.
“Aku terlalu suci kau sentuh!” bentak Raja tak begitu jelas dengan bibir berdarah-darah. Tristan menahan nyeri.
“Raja...maafkan kami!” Isolde kembali mengemis.
“Untuk apa memaafkan perempuan jalang sepertimu!” Sama seperti memperlakukan Pangeran Tristan, Raja juga menendang Isolde.
“Raja....” Isolde menghambur kembali bersujud di kaki raja dengan lelehan air mata.
Drama kembali berjalan normal. Bahkan lebih apik. Beberapa adegan yang hilang karena insiden Ryd, tak disadari penonton. Para penonton bahkan tak rela berkedip demi menontonnya. Di balik tirai, Pak Han tersenyum penuh rasa bangga terhadap pemainnya yang dapat melakukan improvisasi.
Sementara Ryd, ia menyadari bahwa bakat akting tak bisa dibeli. Ia malu kepada kakak tirinya, Tristan. Perlahan, ia ikut dalam improvisasi. Ia mau bersimpuh di kaki Tristan untuk akting dan... untuk semua tindakkannya kepada Tristan.
“Maafkan aku...,” mohon Ryd. “Tristan,” tambahnya lirih.
Tristan mendengar bukan nama Raja Marke yang disebut Ryd, melainkan namanya. Ia tersenyum samar kepada adik tirinya di balik akting penuh kemarahan yang sedang dilakoninya.
*
Cosa desidera da ordine?6 Pelayan itu menyuguhkan menu.
Prendero questo7,” Vea menunjuk gelato rasa fichi di kertas menu.
Si pelayan mencatat pesanan Vea lalu berganti menyodorkan kertas menu pada Tristan.
Stesso8.” Tristan menolak kertas menu itu. Lantas, si pelayan mengangguk dan segera hilang di keramaian kafe kecil di sudut kota Roma itu.
Disinilah, Tristan mengajak Vea untuk bertemu setelah sekian lama ia menarik diri begitu jauh dari Vea. Ia ingin menunjukkan sikap jantan. Ia ingin meminta maaf. Tapi ternyata itu tak semudah kelihatannya. Beberapa menit suasana kikuk menguasai mereka. Mereka hanya melakukan gerakan-gerakan tidak penting seperti garuk-garuk kepala dan mengubah posisi duduk, menandakan bila mereka salah tingkah.
Hanya agar ada sesuatu yang bisa dikerjakan, Tristan berinisiatif hendak mengeruk beberapa sendok gula dari cangkir gula di tengah meja untuk coffe late-nya. Tapi tak disangka, ternyata Vea memiliki ide yang sama. Akhirnya kedua tangan mereka bertemu di gagang sendok gula kuno bergambar Marcopolo itu. Keadaan pun menjadi semakin kikuk.
“Maaf,” Vea mengalah dan menarik tangannya. Namun, Tristan segera menariknya lagi. Takkan dibiarkannya Vea hilang dari genggamannya, lagi.
“Aku yang minta maaf,” tuturnya kalem. “Kamu sudah terlalu banyak mengalah.” didorongnya cangkir gula itu pada Vea.
Vea tercenung sejenak. Lekas, ia menngangsurkan gula ke dalam coffe lattenya sebanyak dua sendok.  Namun, di sendokkan kedua riak wajahnya berubah seperti terkejut dan ia menunda menakarkan gula itu ke dalam lautan coffe latte. Ia tertarik pada gundukkan gula di sendok itu. Sepertinya gundukkan gula itu mengubur sesuatu.
“Punya siapa ya?” Vea menemukan selingkar cincin terkubur di dalamnya. Diamatinya cincin itu. Ia tertawa kecil saat mengetahui hiasan cincin itu ternyata berbentuk televisi. Unik. Pikirnya.
“Televisi dilambangkan huruf T & V yang berarti Tristan dan Vea,” jelas Tristan tenang. Dikeluarkannya sebuah cincin yang sama persis dari sakunya.
Riak mata bening Vea seketika terperangah dibuatnya. “K-kamu...”
“Aku minta maaf, karena telah mencampakkanmu dan karena....terlalu lama memutuskan bertunangan.”
T-t-tristan....melamarnya? Benarkah? Speachless, Vea hanya bisa tertawa renyah dibarengi kilatan-kilatan air mata yang tanpa seizinnya menutupi kebeningan matanya.
Tristan tersenyum teduh dan mengeluarkan sehelai sapu tangan wanginya, “Dasar cewek! Aku udah siapin ini!” disodorkannya sapu tangan itu.
Lagi. Vea dibuatnya tak bisa berujar apa-apa. Di ujung sapu tangan itu terdapat jahitan huruf yang sangat tidak rapi yang membuktikan bahwa si penjahit itu adalah Tristan sendiri. Dan jahitan itu bertuliskan Ti amo9...
Ti amo troppo10, Tristan....”

Oleh. Aristi Pradana
Glosarium


1)        Abad pertengahan
2)        Latar belakang
3)        Lampu spot yang dapat mengikuti arah gerak pemain
4)        Pencucian jiwa
5)        Gaya interior abad ke-16 bernuansa klasik
6)        Mau pesan apa?
7)        Saya pilih yang ini
8)        Sama
9)        Aku mencintaimu
10)    Aku juga mencintaimu (Italia)



Hai-hai, ya itu tadi cerpen gue yang ditolak redaksi. Cerpen ini dulu mau gue kirim ke majalah Story. Nih cerpen gue tulis bulan Maret 2011. Di cerpen ini gue belum ngerti bahwa pentingnya sebuah cerpen itu adalah bagaimana membuat cerpen itu terasa "bernyawa". Di cerpen ini gue cuma berusaha tampil bagus dengan senjata "diksi". Padahal untuk nyiptain cerpen bagus itu nggak perlu diksi tingkat tinggi. Dengan diksi minimalis pun sebuah cerita juga bakalan jalan dan berasa apik. Kayak novel-novelnya Mbak Orizuka. Menurut gue novel beliau terasa apik justru karena diksinya yang minimalis. 
Ya udah deh, itu tadi persembahan cerpen dari gue. Thanks udah mampir baca-baca ya :D

NB: O ya, nih cerpen sama sekali nggak mengalami perbaikin. Cerpen ini keadaannya bener-bener sama kayak ketika nih cerpen gue kirim ke majalah.









Pikun yang Melanda Jiwa

Hai! Kali ini gue mau mosting cerpen gue yang gagal masuk redaksi alias ditolak. hehe... nggak punya malu banget yah. Udah ditolak malah diposting. Udah jelas nih cerpen pasti jelek. Hehe... yaa gue nggak punya maksud apa-apa sih. Cuma pengen blog gue rame aja. Lagian, daripada cerpen-cerpen gue nganggur di laptop, dihinggapi virus-virus trojan dan kawan-kawannya itu. Kali aja kalo diposting malah dapet komen. Ya walopun mungkin komennya bakalan nyelekit. Tapi gue nggak kaget kok. Soalnya emang gue akuin cerpen-cerpen gue yang ditolak media ini masih banyak kekurangan di sana-sini. Oya, dan cerpen ini bener-bener orisinil ya. Maksudnya keadaan cerpen ini bener-bener sama dengan keadaan cerpen waktu gue kirim. Sama sekali nggak gue perbaikin sedikit pun.
Well, so ini cerpen yang PERTAMMMMMAK kali gue kirim ke majalah. Waktu itu kalo nggak salah mau gue kirim ke majalah Hai. Kalo nggak salah. Hehe gue udah lupa. Cerpen ini gue tulis tahun 2007 (kalo nggak salah juga hehe) pokoknya pas gue awal-awal kelas 2 SMP gitu. Ya udah deh, siap-siap ilfil, berasa norak, atau gimana lah reaksi kalian. hahaha... Monggo diwaos (Silakan dibaca)


Pikun yang Melanda Jiwa

Hari ini emang asli sial banget. Nunggu bus lama gila. Udah berjam-jam gue berdiri di trotoar kayak tiang peringatan ‘Dilarang berjualan di sini’. Gue juga udah melakukan berbagai macam pose untuk mengatasi bengkaknya betis, dan kaki kesemutan. Mulai dari pose hot yakni nungging, sampe pose yang biasanya dikasi  peringatan ‘Dilarang meniru adegan berbahaya berikut’ yakni duduk lesehan.
Petualangan menderita gue ternyata nggak brenti sampe di sini aja. Selain udah disiksa dengan kaki pegel, sekarang perut gue ikut-ikutan nyiksa gue. Pagi tadi nyokap bertindak sadis banget. Masa anak sendiri nggak dikasi makan. Terpaksa deh ntar gue musti nyari makan di got ato di sampah sekolah. Lumayan lah buat mampet-mampetin perut.
Nggak dinyana-nyana bus yang gue damba-dambakan akhirnya datang juga. Gue pun  segera melambai centil secentil Torro Margen, “ Bang, bus donk ah!” teriak gue.
“Ayo ayo naik !”ajak Bang Kernetnya. Seketika gue jadi inget sama lagu paporit gue yang bunyinya gini,”Naik kereta api tut tut tut” tapi kalo naik bus aransemennya jadi gini, ”Naik bus warna ijo brot brot brot” gitu. Seru kan?
Guepun segera naik ke dalam bus. Tapi langkah gue terhenti di ambang pintu bus gara-gara Bangker (biar cepet Bang Kernet disingkat aja) ngajak ngobrol.
“Dik, mau nyari tarif murah ya?” tanya Bangker yang nggak ada cakep-cakepnya  itu.
“Nyari dimana Bang? Di kolong meja?” gue balik nanya. Bingung. 
Bangker tersenyum jumawa dan berkata, “Di dalem bus nggak ada meja, Dik!” katanya. Ya kalau di bus nggak ada meja juga gue tau!
“Itu lho! Kok pake seragam SMA? Mau nyari tarif  murah?” Bangker masih ngotot  membahas tentang tarif murah. Dan gue mulai males nanggepin dia.
“Tarif murah opo to iki? Aku ra donge, Mas!” tanya gue pake aksen Jawa. Biar mingkem deh tuh abang-abang satu. Terjemahan : Tarif murah apaan sih? Gue nggak ngerti, Bang!
Bener aja. Denger omongan gue Bangker langsung diem dan malah bingung sendiri. Ya sudah. Saya mengenyahkan diri saja dari hadapannya. Emang tarif murah apa sih? Terus tadi Bangker kenapa bingung gue pake seragam? Emang salah ke sekolah pake seragam? Atau jangan-jangan semalem pemerintah telah mencanangkan peraturan baru bahwa ke sekolah harus pake swim suit. Makanya Bangker bingung.
“Puuuuut!” di sela-sela hiruk pikuk keramaian bus, gue mendengar seseorang  memanggil nama gue. Yup! Nama gue Syarifudin. Udah itu doank. Nggak pake embel-embel nama depan atau belakang. Sejarah nama gue bisa dipanggil ‘Put’ adalah begini;  Tersebutlah seorang pangeran tampan nan ganteng bernama Syarifudin (Iye gue ngerti! Gue cakep itu cuma isapan jempol kaki gue aja!). Jadi, awalnya nama gue bermetamorfosis menjadi Fud. Lalu pada tahun 1500 SM  nama gue bereinkarnasi  menjadi Put gara-gara lidah orang kampung yang nggak bisa ngomong ‘F’. Jadi deh nama gue ‘Put’.
“Oiiiiii... Put!” suara itu manggil lagi. Gue nengok. Ternyata itu Arthur temen sekelas gue. Namanya rada-rada barat ya? Tapi tampangnya jauh dari kesan barat. Yang ada juga malah deket sama kesan Jawa Barat. Gue langsung mendatangi Arthur. Kebetulan kursi di sebelah Arthur kosong. Ya sudah saya samber saja kursi itu.
“Eh, Lo naek bus ini juga? Kok bisa kebetulan sebus ya? Jarang-jarang lho!” tutur Arthur.
“Mungkin kita emang  jodoh, Thur! Dua hati menjadi satu. Dan aku...aku...mau bilang...I love you!” ujar gue sok puitis.
“Hueek! Najong banget! Kita kan sama-sama lekong gemblung!” protes Arthur sambil noyor pala gue. Gue cuma ngakak ngeliat reaksi Arthur.
“Heh, Bro! BT banget nih sama tuh kernet. Masa gue dikira nyari tarif murah cuma gara-gara pake seragam? Ape hubungannye coba?” keluh gue.
“Mungkin hubungannya.......si tarif murah punya affair sama si seragam. Trus, si tarif mahalnya jelous. Dan akhirnya si tarif mahal ngelabrak si tarif murah! Mungkin gitu hubungannya.” Arthur menduga-duga dengan argumentasi ngawur. Gue hanya ber-istghfar  dan pasrah punya temen kayak si Arthur,”Yang gendeng sapa ya?” sindir gue.
“Mungkin yang gendeng si tarif mahal, Put! Eh...apa si tarif murah kali ya?” Arthur malah balik nanya.
“Gue salut sama lo, Thur!” gue menepuk pundaknya bangga. Arthur kontan aja jadi  ke-PD-an, “Karena elo memang lelaki yang menjunjung tinggi sikap idiotisme dan bloonisme!” lanjut gue sambil mengubah tepukan gue jadi tempeleng keras di mukanya.
“Yeee! Kok elo malah nampar gue sih?!”
“Habisnya elo begonya bersambung mulu nggak tamat-tamat!” gue mulai es-mo-si, ”Gue mau cerita kalo tuh Kernet nuduh gue nyari tarif murah cuma gara-gara gue pake seragam. Nah karena itu turun donk harga diri gue. Masa nyari yang murah-murah? Gue aja kalo naik taksi bayarnya gue lebihin 50.000 masa bus yang cuma serebu musti nyari tarif murah? Tengsin donk!” jelas gue berapi-api.
“Ya iyalah lo kalo  bayar dilebihin 50.000 kan buat bayar utang  lo yang udah karatan dari jaman babu lo belum lair!”
“Sialan lo! Gue sama babu gue  lairnya duluan dia tau! Lagian utang lo kan lebih banyak dari pada gue! Sampe buka cabang utang dimana-mana. Di kantin, warteg, sampe pengamen lewat juga lo utangin. Dan kemaren lo juga utang ke gue serebu tujuh ratus lima puluh rupiah! Sini balikin!” protes gue plus sekalian aja nagih utang.
“Iya itu ntar gampang.” Raut wajah Arthur mendadak serius. “Tapi, Put! Gue juga dituduh nyari tarif murah cuma karena make seragam. Gila tuh ker―” kalimat Arthur terputus karena kakinya gue  injek buat memperingatkan kalau Bangker datang.
Bangker itu berdiri belagu di samping kursi gue sambil menengadahkan tangan. Gue dan Arthur yang emang anak bus bahkan lahirpun di dalem bus, langsung  ngerti maksudnya. Gue merogoh kocek dan mengambil selembar uang seribuan trus gue kasih ke tangan Bangker. Awalnya gue rada bingung. Bangker ini nagih ongkos pake punggung tangan atau telapak tangan sih? Soalnya dua-duanya sama-sama item. So, gue nggak bisa bedain mana yang punggung tangan mana yang telapak tangan.
Lantas Bangker melempar senyum sinisnnya ke arah gue. Tuiiiiiiiiiiing plek. Jatuh deh tuh senyum belagu di hati gue. Dan gue ngerasa pingin muntah!
“Dhik, bener-bener nyari tarif murah?”tanya Bangker. Gue cuma diem. Cengok. Apaan sih! Dari tadi tarif murah-tarif muraaaaaaah terus.
“Bang maksud ente apa sih?”Arthur ikut nimbrung.
“Kalian ini kalau bohong jangan sama saya. Saya ini memang cuma kernet. Tapi saya kernet yang sudah ulung. Jadi akal-akalan kalian ini saya ngerti,” katanya bikin gue dan Arthur menjadi pusat perhatian.”Kalian ini belaga pake seragam cuma biar naik busnya  murah kan? Tapi sebenarnya kalian niatnya nggak ke sekolah kan? Saya kok mau di bohongi! Enak aja! Sini 2500!” Bangker jadi tambah galak.
“Maksudnya apa sih? Kita mau ke sekolah kok!”gue menyangkal.
“Halah! Hari gini nggak ada yang sekolah. Cepet! 2500!” Bangker terus mendesak.
Gue dan Arthur bingung. Tadi Bangker bilang kalo hari ini nggak ada yang sekolah? Ketinggalan berapa banyak berita sih gue. Apa semalem pemerintah juga mencanangkan progam wajib kawin bukan wajib belajar? Gue sih mau-mau aja kawin. Tapi Manohara sama Jill Gladys mau di poliklinik eh poligami nggak. Biar janda tetep yahud mereka.
“Cepetan 2500!” Bangker kembali malak.
“Bang, kasian donk! Belom sarapan nih.1000 ajalah” gue berusaha sebisa mungkin mengubah wajah gue menjadi melas (Yang ini gue juga ngerti! Mau dibolak-balik depan-belakang kanan-kiri juga tampang gue tetep melas tanpa harus dirubah) demi tarif seribu perak.
“Iya nih, Bang! Masa 2500?”Arthur turut mensponsori omongan gue. Kayaknya Arthur nggak terima temen sejatinya ini dituduh nyari tarif murah. Huhuhu...gue jadi terharu. Ternyata dia setia kawan juga huhuhu... sroooot...(ceritanya nyerot ingus).
“Seribu aja deh, Bang!” pinta  gue sekali lagi.
“Tarif pelajar kan 1000, Bang! Itu udah diatur dalam UU perlalu-lintasan, lho! UU no 14 tahun 1992!―bener nggak?” Arthur nengok ke gue. Gue cuma geleng-geleng. Orang gue juga nggak ngerti. Lagian Arthur ini nggak pernah ngerjain pr PKn aja belagu pake UU.
“Nggak bisa! 2500! atau saya  turunin kalian di sini, hah?!” ancam Bangker.
Kalo nggak inget ini udah jam mepet, gue bakal milih turun trus nyari bus lain, demi harga diri gue tetap utuh. Ya  udah deh terpaksa gue sama Arthur ngeluarin uang tambahan 1500 buat nutupin kurangannya tadi.
Setelah beberapa menit se-bus sama kernet berjiwa pemalak itu, gue dan Arthur dikeluarin dari bus dengan tidak terhormat. Dan untungnya sukses mendarat di atas tanah sekolah dengan selamat sentausa.
“Sialan tuh kernet! Masa tarif pelajar sejajar sama tarif umum? Itu bisa meredupkan semangat siswa yang ke sekolah naik bus. Trus akhirnya mereka males sekolah gara-gara berat di ongkos. Trus Indonesia bakal hancur karena pemuda yang tak berilmu,” cerocos Arthur berapi-api. Gue cuma diem ngerasa surprise. Apa gue sedang bercakap-cakap dengan Bung Tomo?
“Woi! Diem aja lo! Bener enggak?! Jadi orang tuh harus responsible terhadap semua hal.”
“BETUUUL! Bener-bener!” gue sok-sok an aja setuju cuma buat ngelegain Arthur.
“Gimana kalo kita demo aja ,Put?”
“Setuju!” jawab gue. Kali ini gue juga cuma asal jawab buat ngelegain do’i.
Arthur keliatan tertarik banget sama demo ini. Padahal nih demo nggak ada persiapan sama sekali. Mana  pasukannya cuma dua. Mau demo apa coba ?
Krkrkrkr ... tiba-tiba sebelum gue demo, perut gue udah demo duluan. Gue lupa kalo tadi critanya perut gue laper. Gue pun menghentikan langkah gue yang beriringan dengan Arthur. Mendadak Arthur juga ikut berhenti.
“Kenapa lo berhenti? Takut demo? Inget, Put! Kita demo agar tarif bus turun. Agar para siswa bisa sekolah tanpa beban!”
“Nggak gitu, Arthur! Tapi nih dengerin!” gue dorong kepala Arthur sampe kupingnya nempel di perut gue.
“Jenius, Put! Dengan suara gaduh perut lo, demo kita bakal tambah meriah!” pekik Arthur setelah denger bunyi-bunyi aneh di perut gue.
“Kasian lo, Thur! Nggak ada obat buat nyembuhin bego!” dengus gue desperate, ”THUR, PERUT GUE INI LAPER! GUE MAU MAKAN DULU, NGERTI?!”
“Sadar, Put! Seorang hero lebih mentingin bangsa dari pada perut!”
“Tapi, Put! Gue ini laper. Kalo mau demo tapi tiba-tiba perut berkokok trus pingsan gara-gara nggak kuat nahan laper gimana coba? Nggak jadi demo donk?! Trus bangsa nggak jadi terselamatkan dari kebodohan. Iya kan?!” gue mengumbar argumentasi secara jelas singkat dan padat biar skakmat tuh Arthur.
“Iya juga ya, Put?”Arthur keliatan blo-on,”Ya udah, Put! Sekarang seorang hero harus berazaskan utamakan perut dari pada bangsa. Iya nggak?”
“Ya terserah lo!” jawab gue bersungut-sungut. Arthur ini ternyata jiwa idiotisme-nya lebih tinggi dari yang gue bayangin.
Kami berdua kembali ke sekolah. Sejenak gue serasa homo jalan berdua-an aja ama  Arthur. Tapi it’s okay lah namanya juga prensip. Jadi rencananya kami mau makan di sekolah aja soalnya kalo di sekolah harganya lebih cocok sama saku anak sekolahan. Apa lagi buat anak yang abis dipalakin ama Bangker kayak gue ini.
Pas nyampe depan gerbang sekolah, ternyata sekolah sepi euy. Huh! Dasar muda-mudi sekarang emang pada males. Jam segini pada belum dateng. Pada lupa kalau pagi itu waktu paling tepat buat bikin contekan ya?
Nggak peduli sekolah lagi sepi atau rame, gue dan Arthur langsung menuju ke kantin. Ternyata kantin juga sama sepinya. Bahkan belum buka! Haduh...! Sabar ya perut.
“Lho, kalian masuk sekolah?” gue mendadak terlonjak saat tiba-tiba terdengar suara yang diiringi mendaratnya sebuah tepukan di pundak gue. Ternyata itu Pak Daud, penjaga sekolah. Beliau nampak heran memandangi kami berdua dengan kening keriting berkerut.
“Iya donk, Pak! Kita kan anak rajin!” ujar gue sambil membusungkan dada.
“Ada apa? Mau minta legalisir ijazah ya?” tanya beliau lagi.
“Ha?” gue dan Arthur langsung kompakan ber-ha.
“Aduh...kalau mau legalisir, petugas TU-nya baru masuk besok.” jelas beliau kelihatan sungkan.
“Legalisir ijazah? Kita kan masih kelas XI, Pak! Belum kelas XII! Jadi belum lulusan, Pak!” gue tertawa renyah berusaha menutupi suara hati yang menyuruh gue untuk memaklumi bahwa Pak Daud ini udah tua jadi maklum kalau pikun.
“Lho? Kalian baru kelas XI? Kalau begitu ngapain ke sekolah. Di sekolah sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Eksul juga lagi libur.” jelas beliau lagi.
Nggak ada kegiatan apa-apa? Lah belajar itu emangnya nggak diitung kegiatan?
“Kan kita mau belajar, Pak!” ujar Arthur.
“Wah kalian ini hebat memang ya!” Pak Daud menepuk pundak gue lagi kagum. Sesaat kayak ada balon udara yang membawa gue terbang membumbung tinggi saking tersanjungnya atas pujian Pak Daud.
“Ya-ya-ya-ya! Sebentar lagi kan kalian sudah kelas XII. Jadi benar tindakan kalian. Belajar sedini mungkin. Tapi belajarnya di rumah juga bisa kan? Wong ini hari libur, ya kan?’ beliau tertawa lepas.
HA? Gue serta Arthur kontan kembali melongo. ”Hari libur gimana, Pak?” tanya gue dan Arthur bersamaan.
“Ya hari libur. Ini kan...” Pak Daud sejenak memandang kami tak percaya, “Jangan-jangan kalian lupa kalau ini hari pertama libur kenaikan sekolah?” mata Pak Daud membelo. Nggak cuma mata Pak Daud. Mata gue dan Arthur pun sama. Bahkan hampir copot saking nggak percayanya kalau ternyata ini hari libur.
Ya amplop! Jadi ini hari pertama libur kenaikan kelas? Ampyun deh! Gue bener-bener lupa. Oh...gue mulai ngerti kenapa bangker tadi nuduh nyari tarif murah. Itu pasti karena gue pake seragam di hari libur. Secara apalagi tujuannya pake seragam di hari libur kalau nggak biar tarif bus dimurahin. Tapi BTW, kenapa gue sama Arthur bisa sam-sama lupa ya? Trus habis itu jadi se-bus pula. Jangan-jangan gue emang jodoh sama Arthur. Aduh...jangan deh! Dapet Eyang Yati Pesek juga masih mau dari pada Arthur yang udah bego, laki pula, trus juga idup lagi! Haduh...ini gara-gara PIKUUUUUUN!