Minggu, 03 November 2013

Dramma da Rome (Sandiwara dari Roma)


Cut!” teriakkan Pak Han praktis menghentikan jalannya geladi resik. “Vea, kemari sebentar!” Beliau mengedikkan dagu pada sosok gadis manis yang didaulat memerankan tokoh Putri Isolde.
Pak Han menaikkan kaca matanya yang melorot sebelum berbicara pada gadis manis penyandang nama Vea yang kini telah berdiri di depannya itu. Sepasang manik hitam mata nya yang kental akan ketegasan menulusuri wajah Vea sesaat. Membuat anak didiknya itu harus menetralkan degup jantungnya yang bertalu-talu karena mengira akan menerima hembusan lahar kemarahan.
 “Tatapan matamu ke Pangeran Tristan harusnya memuja karena Tristanlah cinta Isolde,” tukas Pak Han, “Sedangkan ke Raja Marke harusnya biasa saja. Tapi kenapa kamu malah membaliknya?!”
“Maaf, Pak. Saya akan berusaha lagi.” Vea menunduk, galau. Ia belum bisa mengekspresikan jatuh cinta pada sosok Pangeran Tristan yang diperankan Ryd karena ia membenci Ryd. Ia juga belum bisa mengekspresikan rasa benci pada sosok Raja Marke yang diperankan Tristan karena ia mencintai Tristan. Ia tahu ia harus profesional. Tapi, prahara yang membalur ketiganya amat sukar diusir sejenak demi totalitas akting. Ia masih memainkan hatinya di kehidupan nyata. Lagipula mengapa Pak Han tidak memilih Tristan yang memerankan Pangeran Tristan? Nama keduanya saja sudah ditakdirkan sama.
*
Berbutir-butir bintang yang tersemai di langit Roma kian meleburkan romantisme drama Tristan dan Isolde. Teater outdoor yang digelar di halaman Universitas La Sapienza ini cukup berhasil mengumpulkan para pemuda Indonesia yang menempa ilmu di Roma, serta para WNI yang tinggal di sana. Pertunjukkan ini memang untuk ajang kumpul orang Indonesia.

Sembari menunggu gilirannya tampil, Vea sibuk melakukan re-reading dengan orang yang paling ia benci. Ryd. Perannya sebagai Isolde menuntutnya banyak menghabiskan waktu dengan Ryd.
Seharusnya Tristan pemeran Pangeran Tristan. Karena ia murni memiliki bakat akting. Sedangkan Ryd, ia hanya modal tampang dan uang sogokan! Hatinya menggerutu masih tak terima.
“Seneng ya bisa ngalahin abang sendiri?” ia mencoba sedikit renyah.
Ryd menyeringai, “Tristan? Ya, abang tiriku itu memang jago akting. Tapi akhirnya aku pemeran utamanya kan? Dan dia hanya peran kedua.”
Well, Kamu hebat. Selama ini gak ada anak teater yang bisa nyaingin bakat alami Tristan. Kalaupun ada pasti nyogok. Haha...najis banget!” sindirnya.
Ryd berpura-pura mengumbar tawa menganggap hal itu bodoh. Padahal di hatinya rasa malu jelas terpapar. Vea tahu tabiat Ryd yang satu ini dan dalam hati ia menertawakannya. Itu sangat menyenangkan. Seperti berhasil melucuti topeng bidadari milik si buruk rupa yang mengaku secantik bidadari.
Tak lama kemudian, sosok Tristan turun dari panggung. Vea pun buru-buru mengejarnya dan  tak lupa mengatakan alasan klise kepada Ryd sebelum melenggang pergi, “Aku mau ke toilet!”
*
Tristan berdiri di jembatan kuno yang melengkung di atas kanal kecil tak jauh dari area teater. Pandangannya begitu serius menjurus pada riak sungai yang memantulkan sepotong bulan sabit.
Vea meredam bunyi langkah stilettonya agar Tristan tak pergi bila tahu ia datang.
“Mau apa ke sini?” Deg! Belum ada 5m ia mendekat, Tristan sudah menegurnya.
Sedikit kendur niatnya, tapi ia tetap memberanikan diri. “Boleh ngobrol sebentar? Kita udah lama gak ngobrol.”
“Habis ini adeganku,” tukas Tristan tanpa menaruh pandangan sedikit pun padanya dan buru-buru bertolak pergi.
Namun, ia segera menangkap tangan Tristan, menghalanginya pergi. “Gak baca script ya? Masih ada 2 scene lagi baru adeganmu.”
Tristan melepaskan gamitan lembut Vea yang membungkus lengannya. “Sori, aku mau ke toilet!”
Alasan basi! Batin Vea geram. “Gak! Kamu gak mau ke toilet. Aku tahu itu karena aku juga sering pakai alasan itu!” Ia mencegat langkah Tristan dan berdiri di hadapannya, “Aku punya hak untuk memilih, Tristan! Dan aku milih kamu!”
Tristan masih tak menatapnya sama sekali. Sikapnya begitu dingin sekarang. “Aku juga punya hak untuk menolak!”
“Atas dasar apa kamu menolak? Karena balas budi kepada ayah angkatmu? Karena ia telah berjasa kepada keluargamu dan kamu harus balas budi kepadanya dengan menyerahkan aku ke adik tirimu, Ryd?” Vea terengah-engah mengatakannya. Dadanya sampai naik turun terbawa emosi. “Kamu pikir aku bola yang bisa dioper-oper? Kamu gak mikir bola itu kesakitan ditendang-tendang?! Kamu gak gentle! Kamu gak ngehargain aku sebagai manusia! Kamu cuma mikirin dirimu sendiri dan nganggep aku barang barter!”
“Tristan, Vea! Ada instruksi sebentar!”
Suara itu memaksa Vea menahan kegeramannya yang kian menjadi karena suara itu menyebabkan Tristan pergi secara legal. Tristan terselamatkan oleh Pak Han!
Vea mendesah. “Kenapa kamu membuat cerita kita seperti kisah Tristan dan Isolde, Tristan?”
*
Tristan dan Isolde adalah legenda dari daratan Eropa pada jaman medievale1. Kisah ini mengisahkan cinta segitiga dimana Tristan harus menyerahkan gadis pujaannya, Isolde, kepada ayah angkatnya, Raja Marke. Pada akhirnya Isolde memang menikah dengan Raja Marke, namun diam-diam ia menjalin hubungan terlarang dengan Tristan.
Dan versi Tristan-Vea-Ryd pun memiliki kisah yang tak jauh beda. Tristan harus menyerahkan gadis pujaannya, Vea, kepada saudara tirinya, Ryd. Tapi bedanya, Vea dan Tristan tidak menjalin hubungan gelap walaupun menurut presepsi orang mereka memiliki hubungan spesial...
*
Didukung Backdrop2 taman, dan follow spot3 yang sempurna, adegan romantis Tristan dan Isolde sukses menghanyutkan penonton ke dalam ke-kartasis4-an.
Pangeran Tristan membelai sayang rambut Isolde. Malam ini akting Ryd sangat natural. Pandangan penuh kasihnya menghujan deras di matanya. Entahlah mungkin ia melibatkan perasaan pribadinya yang memang mengincar Vea. Sebaliknya, Vea melakukan semua adegan ini hanya atas dasar profesionalisme. Tidak lebih. Titik.
Di balik layar, diam-diam sosok Tristan selalu membidik setiap adegan yang dimainkan Vea. Hatinya kian retak tatkala adegan Pangeran Tristan mendaratkan kecupan di dahi Isolde. Sudah cukup sepanjang adegan tangan Vea diremat Ryd. Hatinya bak digurat lidah api cemburu. Tapi ia harus mulai membiasakan diri. Karena Ryd akan menuangkan semua adegan ini ke dalam alur nyata kehidupan kelak bila ia melepas gadisnya.
Tristan tak ingin melepas Vea. Tapi Ryd harus mendapatkan Vea. Ia terdiam. Abstain. Ia biarkan hatinya menelan ketidakpastian.
*
Gemuruh di dada Tristan kian meraja. Inilah saatnya ia sepanggung dengan Vea. adegan Raja Marke dengan Isolde akhirnya tiba. Itu sebabnya ia begitu gugup berakting. Ia belum siap menatap Vea. apalagi di scene ini ada adegan Raja Marke menyatakan cintanya pada Isolde, yang berarti ia menyatakan cinta pada Vea....
Di scene ini dikisahkan di acara makan malam, dusta Isolde terkuak karena saat Raja Marke menyatakan cintanya, Isolde tak sengaja malah menyebut nama Tristan bukan nama Raja Marke.
Sementara Vea, ia mengebalkan telinganya agar saat untaian kata cinta Tristan mengalun begitu merdu di lorong telinganya, ia tak melambung karena itu hanya dialog. Bukan kenyataan. Ia juga berusaha memingit hatinya di lingkup sandiwara. Aku adalah putri Isolde...batinnya.
Atmosfer canggung mulai membungkus. Mereka duduk berhadapan terpisahkan meja makan bergaya Baroque5.
“Isolde.” Diraihnya jemari lentik Vea yang terkulai anggun di sisi meja.  Ia menelan ludah susah payah. Inilah saatnya. Aku adalah Raja Marke... Bisiknya menstimulus diri.
 “Isolde, kau adalah ratuku...wanitaku...penghuni hatiku...pemilik cintaku,” desahnya mengungkapkan perasan Raja Marke yang sebenarnya selama ini juga sangat ingin ia ungkapkan. “Isolde, apakah aku juga pemilik cintamu?” Raja Marke menatap Isolde, menunggu jawaban.
Vea membeku. Akting Tristan yang menawan memburaikan pertahanannya. Ia terbuai dialog sakti Tristan dan melupakan kata pertama dalam kalimat itu.
“Vea,” Tristan mengguncang pelan tangan Vea, menyadarkan.
Vea terhenyak. Lalu lamat-lamat ia mengucapkan dialognya, “Aku...sangat mencintaimu...Tristan.” Vea menatap Tristan. Begitu dalam. Tristan dapat membaca tatapan mata Vea yang menegaskan bila Tristan yang Vea maksud bukanlah Tristan-nya Isolde. Melainkan ia. Hatinya remuk. Vea mencintainya begitu tulus. Tapi, ia harus melepasnya.
Di atas panggung, batin mereka saling terkoneksi. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di atas panggung sebenarnya. Ini bukan kisah Tristan & Isolde. Tapi Tristan & Vea.
“Raja Marke marah!” tiba-tiba Pak Han berbisik dari balik tirai, mengingatkan.
Tristan sedikit geragapan dan segera ingat dialognya. “Isolde, apa yang kau katakan?”
“Em...m-maksudku, aku mulai mencintai Tristan sebagai anakku, Raja.”
“Bohong! Kalian berhubungan di belakangku!” tuding Raja.
Kini, panggung yang sesungguhnya telah kembali. Raja Marke yang sedang murka kepada Isolde-lah yang ada di atas panggung.
“Pengawal, panggil Tristan!”
Ryd naik ke atas panggung sebagai Pangeran Tristan dan langsung meluncur bersujud di kaki Raja. “A-aku...mengaku bersalah. Ampuni aku, Ayah!” pintanya.
 “Aku bukan ayahmu! Kau hanya anak angkat!” bentak Raja. Bug! Tanpa belas kasih, Raja menendangnya. “Dasar anak hina!”
Pangeran terisak dan merangkak kembali meminta ampun, “Ayah, ampuni anak angkatmu yang hin―”
 “KAU BUKAN LAGI PANGERAN KERAJAAN CORNWALL! MENJIJIKAN! ANAK ANGKAT TAK TAHU DIRI! KAU TAK LAYAK HIDUP!” Bug! Lagi, Raja menendangnya  seperti menyingkirkan kucing kotor dari kakinya.
Ryd berakting terjerembab. Sedetik kemudian ia bangkit dari jatuhnya. Namun, ada yang ganjil di air mukanya. Seperti ekspresi marah dan tidak terima.
“DASAR ANAK ANGKAT ! KAU SAMPAH!”
“CUKUP!” Ryd tiba-tiba memotong dialog Tristan. Ada apa dengannya?
Bug! Tiba-tiba Ryd menghunuskan tinju di ulu hati Tristan. “Kau yang tak tahu diri, kau yang sampah, bodoh! Ayahku telah menyisihkan uang untuk pengemis sepertimu hingga kau bisa kuliah di Roma! Dan sekarang kau berniat mengambil Vea? Hah?! ”desis Ryd. Ini tak ada di script! Ryd tersulut emosi. Ia tak terima dikatai menjijikan, sampah, dan sebagainya karena menurutnya yang patut dipredikati kata itu adalah Tristan, si anak angkat.
“Ryd! Akting!” Tristan mengingatkan Ryd. Namun Ryd makin beringas. Semua orang tercengang. Para pemain yang ada di atas panggung bingung harus berbuat apa.
“Hei! Apa mereka masih berakting? Orang itu benar-benar berdarah!” pekik salah seorang penonton. Sial! Para penonton yang tadinya mengira itu bagian akting mulai cemas saat bibir Tristan sobek dan berdarah terkena tinju Ryd.
“Bodoh! Apa maksud Ryd?!” di balik layar, Pak Han khawatir. Ini bukan plotnya!
Mengerti drama ini di ujung tanduk, Vea segera ambil bagian walau ini bukan gilirannya. “Stop!” Ia menarik Ryd. “Tristan, ia ayahmu. Kau bukan pendendam! Jangan lakukan itu!” Ia memisahkan keduanya dengan topeng Isolde.
Ryd menatap Vea, bingung. Yang diucapkan Vea tak ada di script. Ia tak tahu Vea berimprovisasi. Ilmu aktingnya terlalu dangkal.
Alih-alih kasihan pada Tristan, Vea berpura-pura membatu Raja Marke. “Raja, Biar kubantu berdiri,” Isolde hendak mendirikan Raja. Tapi tanpa kasihan Raja malah mendorong Isolde hingga tersungkur.
“Aku terlalu suci kau sentuh!” bentak Raja tak begitu jelas dengan bibir berdarah-darah. Tristan menahan nyeri.
“Raja...maafkan kami!” Isolde kembali mengemis.
“Untuk apa memaafkan perempuan jalang sepertimu!” Sama seperti memperlakukan Pangeran Tristan, Raja juga menendang Isolde.
“Raja....” Isolde menghambur kembali bersujud di kaki raja dengan lelehan air mata.
Drama kembali berjalan normal. Bahkan lebih apik. Beberapa adegan yang hilang karena insiden Ryd, tak disadari penonton. Para penonton bahkan tak rela berkedip demi menontonnya. Di balik tirai, Pak Han tersenyum penuh rasa bangga terhadap pemainnya yang dapat melakukan improvisasi.
Sementara Ryd, ia menyadari bahwa bakat akting tak bisa dibeli. Ia malu kepada kakak tirinya, Tristan. Perlahan, ia ikut dalam improvisasi. Ia mau bersimpuh di kaki Tristan untuk akting dan... untuk semua tindakkannya kepada Tristan.
“Maafkan aku...,” mohon Ryd. “Tristan,” tambahnya lirih.
Tristan mendengar bukan nama Raja Marke yang disebut Ryd, melainkan namanya. Ia tersenyum samar kepada adik tirinya di balik akting penuh kemarahan yang sedang dilakoninya.
*
Cosa desidera da ordine?6 Pelayan itu menyuguhkan menu.
Prendero questo7,” Vea menunjuk gelato rasa fichi di kertas menu.
Si pelayan mencatat pesanan Vea lalu berganti menyodorkan kertas menu pada Tristan.
Stesso8.” Tristan menolak kertas menu itu. Lantas, si pelayan mengangguk dan segera hilang di keramaian kafe kecil di sudut kota Roma itu.
Disinilah, Tristan mengajak Vea untuk bertemu setelah sekian lama ia menarik diri begitu jauh dari Vea. Ia ingin menunjukkan sikap jantan. Ia ingin meminta maaf. Tapi ternyata itu tak semudah kelihatannya. Beberapa menit suasana kikuk menguasai mereka. Mereka hanya melakukan gerakan-gerakan tidak penting seperti garuk-garuk kepala dan mengubah posisi duduk, menandakan bila mereka salah tingkah.
Hanya agar ada sesuatu yang bisa dikerjakan, Tristan berinisiatif hendak mengeruk beberapa sendok gula dari cangkir gula di tengah meja untuk coffe late-nya. Tapi tak disangka, ternyata Vea memiliki ide yang sama. Akhirnya kedua tangan mereka bertemu di gagang sendok gula kuno bergambar Marcopolo itu. Keadaan pun menjadi semakin kikuk.
“Maaf,” Vea mengalah dan menarik tangannya. Namun, Tristan segera menariknya lagi. Takkan dibiarkannya Vea hilang dari genggamannya, lagi.
“Aku yang minta maaf,” tuturnya kalem. “Kamu sudah terlalu banyak mengalah.” didorongnya cangkir gula itu pada Vea.
Vea tercenung sejenak. Lekas, ia menngangsurkan gula ke dalam coffe lattenya sebanyak dua sendok.  Namun, di sendokkan kedua riak wajahnya berubah seperti terkejut dan ia menunda menakarkan gula itu ke dalam lautan coffe latte. Ia tertarik pada gundukkan gula di sendok itu. Sepertinya gundukkan gula itu mengubur sesuatu.
“Punya siapa ya?” Vea menemukan selingkar cincin terkubur di dalamnya. Diamatinya cincin itu. Ia tertawa kecil saat mengetahui hiasan cincin itu ternyata berbentuk televisi. Unik. Pikirnya.
“Televisi dilambangkan huruf T & V yang berarti Tristan dan Vea,” jelas Tristan tenang. Dikeluarkannya sebuah cincin yang sama persis dari sakunya.
Riak mata bening Vea seketika terperangah dibuatnya. “K-kamu...”
“Aku minta maaf, karena telah mencampakkanmu dan karena....terlalu lama memutuskan bertunangan.”
T-t-tristan....melamarnya? Benarkah? Speachless, Vea hanya bisa tertawa renyah dibarengi kilatan-kilatan air mata yang tanpa seizinnya menutupi kebeningan matanya.
Tristan tersenyum teduh dan mengeluarkan sehelai sapu tangan wanginya, “Dasar cewek! Aku udah siapin ini!” disodorkannya sapu tangan itu.
Lagi. Vea dibuatnya tak bisa berujar apa-apa. Di ujung sapu tangan itu terdapat jahitan huruf yang sangat tidak rapi yang membuktikan bahwa si penjahit itu adalah Tristan sendiri. Dan jahitan itu bertuliskan Ti amo9...
Ti amo troppo10, Tristan....”

Oleh. Aristi Pradana
Glosarium


1)        Abad pertengahan
2)        Latar belakang
3)        Lampu spot yang dapat mengikuti arah gerak pemain
4)        Pencucian jiwa
5)        Gaya interior abad ke-16 bernuansa klasik
6)        Mau pesan apa?
7)        Saya pilih yang ini
8)        Sama
9)        Aku mencintaimu
10)    Aku juga mencintaimu (Italia)



Hai-hai, ya itu tadi cerpen gue yang ditolak redaksi. Cerpen ini dulu mau gue kirim ke majalah Story. Nih cerpen gue tulis bulan Maret 2011. Di cerpen ini gue belum ngerti bahwa pentingnya sebuah cerpen itu adalah bagaimana membuat cerpen itu terasa "bernyawa". Di cerpen ini gue cuma berusaha tampil bagus dengan senjata "diksi". Padahal untuk nyiptain cerpen bagus itu nggak perlu diksi tingkat tinggi. Dengan diksi minimalis pun sebuah cerita juga bakalan jalan dan berasa apik. Kayak novel-novelnya Mbak Orizuka. Menurut gue novel beliau terasa apik justru karena diksinya yang minimalis. 
Ya udah deh, itu tadi persembahan cerpen dari gue. Thanks udah mampir baca-baca ya :D

NB: O ya, nih cerpen sama sekali nggak mengalami perbaikin. Cerpen ini keadaannya bener-bener sama kayak ketika nih cerpen gue kirim ke majalah.









Pikun yang Melanda Jiwa

Hai! Kali ini gue mau mosting cerpen gue yang gagal masuk redaksi alias ditolak. hehe... nggak punya malu banget yah. Udah ditolak malah diposting. Udah jelas nih cerpen pasti jelek. Hehe... yaa gue nggak punya maksud apa-apa sih. Cuma pengen blog gue rame aja. Lagian, daripada cerpen-cerpen gue nganggur di laptop, dihinggapi virus-virus trojan dan kawan-kawannya itu. Kali aja kalo diposting malah dapet komen. Ya walopun mungkin komennya bakalan nyelekit. Tapi gue nggak kaget kok. Soalnya emang gue akuin cerpen-cerpen gue yang ditolak media ini masih banyak kekurangan di sana-sini. Oya, dan cerpen ini bener-bener orisinil ya. Maksudnya keadaan cerpen ini bener-bener sama dengan keadaan cerpen waktu gue kirim. Sama sekali nggak gue perbaikin sedikit pun.
Well, so ini cerpen yang PERTAMMMMMAK kali gue kirim ke majalah. Waktu itu kalo nggak salah mau gue kirim ke majalah Hai. Kalo nggak salah. Hehe gue udah lupa. Cerpen ini gue tulis tahun 2007 (kalo nggak salah juga hehe) pokoknya pas gue awal-awal kelas 2 SMP gitu. Ya udah deh, siap-siap ilfil, berasa norak, atau gimana lah reaksi kalian. hahaha... Monggo diwaos (Silakan dibaca)


Pikun yang Melanda Jiwa

Hari ini emang asli sial banget. Nunggu bus lama gila. Udah berjam-jam gue berdiri di trotoar kayak tiang peringatan ‘Dilarang berjualan di sini’. Gue juga udah melakukan berbagai macam pose untuk mengatasi bengkaknya betis, dan kaki kesemutan. Mulai dari pose hot yakni nungging, sampe pose yang biasanya dikasi  peringatan ‘Dilarang meniru adegan berbahaya berikut’ yakni duduk lesehan.
Petualangan menderita gue ternyata nggak brenti sampe di sini aja. Selain udah disiksa dengan kaki pegel, sekarang perut gue ikut-ikutan nyiksa gue. Pagi tadi nyokap bertindak sadis banget. Masa anak sendiri nggak dikasi makan. Terpaksa deh ntar gue musti nyari makan di got ato di sampah sekolah. Lumayan lah buat mampet-mampetin perut.
Nggak dinyana-nyana bus yang gue damba-dambakan akhirnya datang juga. Gue pun  segera melambai centil secentil Torro Margen, “ Bang, bus donk ah!” teriak gue.
“Ayo ayo naik !”ajak Bang Kernetnya. Seketika gue jadi inget sama lagu paporit gue yang bunyinya gini,”Naik kereta api tut tut tut” tapi kalo naik bus aransemennya jadi gini, ”Naik bus warna ijo brot brot brot” gitu. Seru kan?
Guepun segera naik ke dalam bus. Tapi langkah gue terhenti di ambang pintu bus gara-gara Bangker (biar cepet Bang Kernet disingkat aja) ngajak ngobrol.
“Dik, mau nyari tarif murah ya?” tanya Bangker yang nggak ada cakep-cakepnya  itu.
“Nyari dimana Bang? Di kolong meja?” gue balik nanya. Bingung. 
Bangker tersenyum jumawa dan berkata, “Di dalem bus nggak ada meja, Dik!” katanya. Ya kalau di bus nggak ada meja juga gue tau!
“Itu lho! Kok pake seragam SMA? Mau nyari tarif  murah?” Bangker masih ngotot  membahas tentang tarif murah. Dan gue mulai males nanggepin dia.
“Tarif murah opo to iki? Aku ra donge, Mas!” tanya gue pake aksen Jawa. Biar mingkem deh tuh abang-abang satu. Terjemahan : Tarif murah apaan sih? Gue nggak ngerti, Bang!
Bener aja. Denger omongan gue Bangker langsung diem dan malah bingung sendiri. Ya sudah. Saya mengenyahkan diri saja dari hadapannya. Emang tarif murah apa sih? Terus tadi Bangker kenapa bingung gue pake seragam? Emang salah ke sekolah pake seragam? Atau jangan-jangan semalem pemerintah telah mencanangkan peraturan baru bahwa ke sekolah harus pake swim suit. Makanya Bangker bingung.
“Puuuuut!” di sela-sela hiruk pikuk keramaian bus, gue mendengar seseorang  memanggil nama gue. Yup! Nama gue Syarifudin. Udah itu doank. Nggak pake embel-embel nama depan atau belakang. Sejarah nama gue bisa dipanggil ‘Put’ adalah begini;  Tersebutlah seorang pangeran tampan nan ganteng bernama Syarifudin (Iye gue ngerti! Gue cakep itu cuma isapan jempol kaki gue aja!). Jadi, awalnya nama gue bermetamorfosis menjadi Fud. Lalu pada tahun 1500 SM  nama gue bereinkarnasi  menjadi Put gara-gara lidah orang kampung yang nggak bisa ngomong ‘F’. Jadi deh nama gue ‘Put’.
“Oiiiiii... Put!” suara itu manggil lagi. Gue nengok. Ternyata itu Arthur temen sekelas gue. Namanya rada-rada barat ya? Tapi tampangnya jauh dari kesan barat. Yang ada juga malah deket sama kesan Jawa Barat. Gue langsung mendatangi Arthur. Kebetulan kursi di sebelah Arthur kosong. Ya sudah saya samber saja kursi itu.
“Eh, Lo naek bus ini juga? Kok bisa kebetulan sebus ya? Jarang-jarang lho!” tutur Arthur.
“Mungkin kita emang  jodoh, Thur! Dua hati menjadi satu. Dan aku...aku...mau bilang...I love you!” ujar gue sok puitis.
“Hueek! Najong banget! Kita kan sama-sama lekong gemblung!” protes Arthur sambil noyor pala gue. Gue cuma ngakak ngeliat reaksi Arthur.
“Heh, Bro! BT banget nih sama tuh kernet. Masa gue dikira nyari tarif murah cuma gara-gara pake seragam? Ape hubungannye coba?” keluh gue.
“Mungkin hubungannya.......si tarif murah punya affair sama si seragam. Trus, si tarif mahalnya jelous. Dan akhirnya si tarif mahal ngelabrak si tarif murah! Mungkin gitu hubungannya.” Arthur menduga-duga dengan argumentasi ngawur. Gue hanya ber-istghfar  dan pasrah punya temen kayak si Arthur,”Yang gendeng sapa ya?” sindir gue.
“Mungkin yang gendeng si tarif mahal, Put! Eh...apa si tarif murah kali ya?” Arthur malah balik nanya.
“Gue salut sama lo, Thur!” gue menepuk pundaknya bangga. Arthur kontan aja jadi  ke-PD-an, “Karena elo memang lelaki yang menjunjung tinggi sikap idiotisme dan bloonisme!” lanjut gue sambil mengubah tepukan gue jadi tempeleng keras di mukanya.
“Yeee! Kok elo malah nampar gue sih?!”
“Habisnya elo begonya bersambung mulu nggak tamat-tamat!” gue mulai es-mo-si, ”Gue mau cerita kalo tuh Kernet nuduh gue nyari tarif murah cuma gara-gara gue pake seragam. Nah karena itu turun donk harga diri gue. Masa nyari yang murah-murah? Gue aja kalo naik taksi bayarnya gue lebihin 50.000 masa bus yang cuma serebu musti nyari tarif murah? Tengsin donk!” jelas gue berapi-api.
“Ya iyalah lo kalo  bayar dilebihin 50.000 kan buat bayar utang  lo yang udah karatan dari jaman babu lo belum lair!”
“Sialan lo! Gue sama babu gue  lairnya duluan dia tau! Lagian utang lo kan lebih banyak dari pada gue! Sampe buka cabang utang dimana-mana. Di kantin, warteg, sampe pengamen lewat juga lo utangin. Dan kemaren lo juga utang ke gue serebu tujuh ratus lima puluh rupiah! Sini balikin!” protes gue plus sekalian aja nagih utang.
“Iya itu ntar gampang.” Raut wajah Arthur mendadak serius. “Tapi, Put! Gue juga dituduh nyari tarif murah cuma karena make seragam. Gila tuh ker―” kalimat Arthur terputus karena kakinya gue  injek buat memperingatkan kalau Bangker datang.
Bangker itu berdiri belagu di samping kursi gue sambil menengadahkan tangan. Gue dan Arthur yang emang anak bus bahkan lahirpun di dalem bus, langsung  ngerti maksudnya. Gue merogoh kocek dan mengambil selembar uang seribuan trus gue kasih ke tangan Bangker. Awalnya gue rada bingung. Bangker ini nagih ongkos pake punggung tangan atau telapak tangan sih? Soalnya dua-duanya sama-sama item. So, gue nggak bisa bedain mana yang punggung tangan mana yang telapak tangan.
Lantas Bangker melempar senyum sinisnnya ke arah gue. Tuiiiiiiiiiiing plek. Jatuh deh tuh senyum belagu di hati gue. Dan gue ngerasa pingin muntah!
“Dhik, bener-bener nyari tarif murah?”tanya Bangker. Gue cuma diem. Cengok. Apaan sih! Dari tadi tarif murah-tarif muraaaaaaah terus.
“Bang maksud ente apa sih?”Arthur ikut nimbrung.
“Kalian ini kalau bohong jangan sama saya. Saya ini memang cuma kernet. Tapi saya kernet yang sudah ulung. Jadi akal-akalan kalian ini saya ngerti,” katanya bikin gue dan Arthur menjadi pusat perhatian.”Kalian ini belaga pake seragam cuma biar naik busnya  murah kan? Tapi sebenarnya kalian niatnya nggak ke sekolah kan? Saya kok mau di bohongi! Enak aja! Sini 2500!” Bangker jadi tambah galak.
“Maksudnya apa sih? Kita mau ke sekolah kok!”gue menyangkal.
“Halah! Hari gini nggak ada yang sekolah. Cepet! 2500!” Bangker terus mendesak.
Gue dan Arthur bingung. Tadi Bangker bilang kalo hari ini nggak ada yang sekolah? Ketinggalan berapa banyak berita sih gue. Apa semalem pemerintah juga mencanangkan progam wajib kawin bukan wajib belajar? Gue sih mau-mau aja kawin. Tapi Manohara sama Jill Gladys mau di poliklinik eh poligami nggak. Biar janda tetep yahud mereka.
“Cepetan 2500!” Bangker kembali malak.
“Bang, kasian donk! Belom sarapan nih.1000 ajalah” gue berusaha sebisa mungkin mengubah wajah gue menjadi melas (Yang ini gue juga ngerti! Mau dibolak-balik depan-belakang kanan-kiri juga tampang gue tetep melas tanpa harus dirubah) demi tarif seribu perak.
“Iya nih, Bang! Masa 2500?”Arthur turut mensponsori omongan gue. Kayaknya Arthur nggak terima temen sejatinya ini dituduh nyari tarif murah. Huhuhu...gue jadi terharu. Ternyata dia setia kawan juga huhuhu... sroooot...(ceritanya nyerot ingus).
“Seribu aja deh, Bang!” pinta  gue sekali lagi.
“Tarif pelajar kan 1000, Bang! Itu udah diatur dalam UU perlalu-lintasan, lho! UU no 14 tahun 1992!―bener nggak?” Arthur nengok ke gue. Gue cuma geleng-geleng. Orang gue juga nggak ngerti. Lagian Arthur ini nggak pernah ngerjain pr PKn aja belagu pake UU.
“Nggak bisa! 2500! atau saya  turunin kalian di sini, hah?!” ancam Bangker.
Kalo nggak inget ini udah jam mepet, gue bakal milih turun trus nyari bus lain, demi harga diri gue tetap utuh. Ya  udah deh terpaksa gue sama Arthur ngeluarin uang tambahan 1500 buat nutupin kurangannya tadi.
Setelah beberapa menit se-bus sama kernet berjiwa pemalak itu, gue dan Arthur dikeluarin dari bus dengan tidak terhormat. Dan untungnya sukses mendarat di atas tanah sekolah dengan selamat sentausa.
“Sialan tuh kernet! Masa tarif pelajar sejajar sama tarif umum? Itu bisa meredupkan semangat siswa yang ke sekolah naik bus. Trus akhirnya mereka males sekolah gara-gara berat di ongkos. Trus Indonesia bakal hancur karena pemuda yang tak berilmu,” cerocos Arthur berapi-api. Gue cuma diem ngerasa surprise. Apa gue sedang bercakap-cakap dengan Bung Tomo?
“Woi! Diem aja lo! Bener enggak?! Jadi orang tuh harus responsible terhadap semua hal.”
“BETUUUL! Bener-bener!” gue sok-sok an aja setuju cuma buat ngelegain Arthur.
“Gimana kalo kita demo aja ,Put?”
“Setuju!” jawab gue. Kali ini gue juga cuma asal jawab buat ngelegain do’i.
Arthur keliatan tertarik banget sama demo ini. Padahal nih demo nggak ada persiapan sama sekali. Mana  pasukannya cuma dua. Mau demo apa coba ?
Krkrkrkr ... tiba-tiba sebelum gue demo, perut gue udah demo duluan. Gue lupa kalo tadi critanya perut gue laper. Gue pun menghentikan langkah gue yang beriringan dengan Arthur. Mendadak Arthur juga ikut berhenti.
“Kenapa lo berhenti? Takut demo? Inget, Put! Kita demo agar tarif bus turun. Agar para siswa bisa sekolah tanpa beban!”
“Nggak gitu, Arthur! Tapi nih dengerin!” gue dorong kepala Arthur sampe kupingnya nempel di perut gue.
“Jenius, Put! Dengan suara gaduh perut lo, demo kita bakal tambah meriah!” pekik Arthur setelah denger bunyi-bunyi aneh di perut gue.
“Kasian lo, Thur! Nggak ada obat buat nyembuhin bego!” dengus gue desperate, ”THUR, PERUT GUE INI LAPER! GUE MAU MAKAN DULU, NGERTI?!”
“Sadar, Put! Seorang hero lebih mentingin bangsa dari pada perut!”
“Tapi, Put! Gue ini laper. Kalo mau demo tapi tiba-tiba perut berkokok trus pingsan gara-gara nggak kuat nahan laper gimana coba? Nggak jadi demo donk?! Trus bangsa nggak jadi terselamatkan dari kebodohan. Iya kan?!” gue mengumbar argumentasi secara jelas singkat dan padat biar skakmat tuh Arthur.
“Iya juga ya, Put?”Arthur keliatan blo-on,”Ya udah, Put! Sekarang seorang hero harus berazaskan utamakan perut dari pada bangsa. Iya nggak?”
“Ya terserah lo!” jawab gue bersungut-sungut. Arthur ini ternyata jiwa idiotisme-nya lebih tinggi dari yang gue bayangin.
Kami berdua kembali ke sekolah. Sejenak gue serasa homo jalan berdua-an aja ama  Arthur. Tapi it’s okay lah namanya juga prensip. Jadi rencananya kami mau makan di sekolah aja soalnya kalo di sekolah harganya lebih cocok sama saku anak sekolahan. Apa lagi buat anak yang abis dipalakin ama Bangker kayak gue ini.
Pas nyampe depan gerbang sekolah, ternyata sekolah sepi euy. Huh! Dasar muda-mudi sekarang emang pada males. Jam segini pada belum dateng. Pada lupa kalau pagi itu waktu paling tepat buat bikin contekan ya?
Nggak peduli sekolah lagi sepi atau rame, gue dan Arthur langsung menuju ke kantin. Ternyata kantin juga sama sepinya. Bahkan belum buka! Haduh...! Sabar ya perut.
“Lho, kalian masuk sekolah?” gue mendadak terlonjak saat tiba-tiba terdengar suara yang diiringi mendaratnya sebuah tepukan di pundak gue. Ternyata itu Pak Daud, penjaga sekolah. Beliau nampak heran memandangi kami berdua dengan kening keriting berkerut.
“Iya donk, Pak! Kita kan anak rajin!” ujar gue sambil membusungkan dada.
“Ada apa? Mau minta legalisir ijazah ya?” tanya beliau lagi.
“Ha?” gue dan Arthur langsung kompakan ber-ha.
“Aduh...kalau mau legalisir, petugas TU-nya baru masuk besok.” jelas beliau kelihatan sungkan.
“Legalisir ijazah? Kita kan masih kelas XI, Pak! Belum kelas XII! Jadi belum lulusan, Pak!” gue tertawa renyah berusaha menutupi suara hati yang menyuruh gue untuk memaklumi bahwa Pak Daud ini udah tua jadi maklum kalau pikun.
“Lho? Kalian baru kelas XI? Kalau begitu ngapain ke sekolah. Di sekolah sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Eksul juga lagi libur.” jelas beliau lagi.
Nggak ada kegiatan apa-apa? Lah belajar itu emangnya nggak diitung kegiatan?
“Kan kita mau belajar, Pak!” ujar Arthur.
“Wah kalian ini hebat memang ya!” Pak Daud menepuk pundak gue lagi kagum. Sesaat kayak ada balon udara yang membawa gue terbang membumbung tinggi saking tersanjungnya atas pujian Pak Daud.
“Ya-ya-ya-ya! Sebentar lagi kan kalian sudah kelas XII. Jadi benar tindakan kalian. Belajar sedini mungkin. Tapi belajarnya di rumah juga bisa kan? Wong ini hari libur, ya kan?’ beliau tertawa lepas.
HA? Gue serta Arthur kontan kembali melongo. ”Hari libur gimana, Pak?” tanya gue dan Arthur bersamaan.
“Ya hari libur. Ini kan...” Pak Daud sejenak memandang kami tak percaya, “Jangan-jangan kalian lupa kalau ini hari pertama libur kenaikan sekolah?” mata Pak Daud membelo. Nggak cuma mata Pak Daud. Mata gue dan Arthur pun sama. Bahkan hampir copot saking nggak percayanya kalau ternyata ini hari libur.
Ya amplop! Jadi ini hari pertama libur kenaikan kelas? Ampyun deh! Gue bener-bener lupa. Oh...gue mulai ngerti kenapa bangker tadi nuduh nyari tarif murah. Itu pasti karena gue pake seragam di hari libur. Secara apalagi tujuannya pake seragam di hari libur kalau nggak biar tarif bus dimurahin. Tapi BTW, kenapa gue sama Arthur bisa sam-sama lupa ya? Trus habis itu jadi se-bus pula. Jangan-jangan gue emang jodoh sama Arthur. Aduh...jangan deh! Dapet Eyang Yati Pesek juga masih mau dari pada Arthur yang udah bego, laki pula, trus juga idup lagi! Haduh...ini gara-gara PIKUUUUUUN!











Selasa, 29 Oktober 2013

Telepon yang kutunggu


Cieeee.... judul postingan gue kali ini so sweet abis nih. Telepon yang kutunggu. Asoy bener dah. Asek Asek hehehe...
Yo'i bro, gue emang lagi nungguin telepon dari seseorang yang sangat berarti di hati gue. Beliau adalah admin majalah Story. hehehehe...
Ya sesuai postingan gue yang lalu, gue dapet pesan melalui FB kalau cerpen gue bakalan dimuat, tapi berhubung nomor HP gue ganti, gue disuruh ngirim nomor HP gue yang baru karena mau ditelepon.
Trus-trus-trus, akhirnya tanggal 23 Oktober kemarin gue ditelepon. Uhuuuuuuy.... senangnya hatiku....
Yup-Yup-Yup, jadi cerpen gue bakalan dimuat hihihihi.
Trus, gue buka FB-nya majalah story. Di situ ada daftar cerpen yang bakalan diterbitin di edisi bulan November. Yah... ternyata nggak ada cerpen gue. Berarti cerpen gue bakalan kemuat di edisi Desember kali ya. Atau jangan-jangan Januari. Waaaah... lama banget. Padahal gue punya kupon diskonan togamas 25% berlaku sampe 18 november. Kan lumayan kalo gue pake buat beli tuh majalah. Taunya cerpen gue nggak dimuat di edisi November. Trus, kan gue juga pengen buru-buru pamer ke guru Bahasa Indonesia gue jaman SMK. hehehehe... gue mau pamer, "Nih lho pak akhirnya karya saya ada yang tembus. Berarti kemampuan saya udah diakui kan, pak. hehehehe..."

Hihihihi.... senengnya :)

Eh tapi-tapi-tapi... kemaren tanggal 26 Oktober gue udah ikutan lomba speech. Dan gue nggak masuk final. Yah... gagal lagi deh. Tapi, jujur gue emang belum ngerasa ada progres yang terbilang wow sih kalau dibandingin sama pas gue ikutan lomba english camp. Gue masih sama aja kayak dulu. Masih lebih menangin ego. Masih suka males latian, suka nyepelein waktu, suka nganggep remeh lawan, yang akhirnya gini deh...


Aduuuh... bego banget yah gue. Ya udahlah, ini koreksi besar terhadap diri gue. Nggak boleh nyia-nyiain waktu lagi, nggak boleh nganggep remeh lawan, dan harus rajin latian. Nggak boleh males. Next time, kalo ada lomba bahasa inggris lagi, gue bakalan ikut lagi-ikut lagi-dan ikut lagi sampe capek. hehehehe...

Ya udah deh, itu aja postingan gue kali ini. Maaf ya mostingnya telat. Harusnya pas tanggal 23 tet gue langsung mosting. Eeee tapi berhubung nggak ada waktu ( cieeee sibuk nih ceritanya? sok banget! ) Tapi beneran kok, gue lagi nggak ada waktu nih akhir-akhir ini. Jadi baru sempet mosting sekarang. Ini pun gue baru aja selesai ngerjain tugas Pengantar Ilmu Sejarah ( Nah lo, pelajaran gue aneh-aneh kan? )

Ya oke, thanks sudah mampir. Mungkin kapan-kapan gue bakalan mosting cerpen-cerpen gue yang ditolak majalah. Daripada nganggur di lapton, dihinggapi virus, jadi artefak. Mending gue posting. Tapi beberapa cerpen berasa norak banget. Yaaa maklum itu jaman-jaman gue masih SMP kayaknya. Jadi pola pikir gue masih anak-anak, dan karakter penulisan gue pun belum matang. (Emang sekarang udah mateng? Mangga kaliiii mateng! )

Ya sudah, sudah. Kebiasaan kan, mau nutup postingan pasti ada aja yang bikin nggak jadi-jadi nutup. Oke deh, once again thanks udah mampir dan baca-baca. See you next time. Bubyeeee :D