Hai! Hari ini nothing special sih. Eh, ada juga ding yang special. Kesehatan. You know what, setelah kecelakaan itu gue sangat-sangat menghargai kesehatan. Gue bia jalan, bernapas, makan, minum, tanpa masalah itu adalah sebuah anugrah yang sangat besar, tau nggak! Hahaha…. Yah sisi positif dari kecelakaan. Jadi lebih pinter bersyukur.
Well, hari ini gue mau share tentang sejarah. Bukan sejarah nasional, sejarah asia, apalagi sejarah praaksara. Nooooo…. Gue mau share tentang sejarah sebuah lagu. Sejarah lagu milik Chris Brown yang judulnya with you. Ini lagu bersejarah banget buat gue. lagu ini ngetrend taun 2010-2011. Pas kelas dua SMK gitulah. Ya… lagu ini mengiringi sejarah perjalanan hidup gue selama kelas dua SMK. Lagu ini lagu yang gue denger waktu gue lagi punya HP baru sony ericson seri zylo. Tuh HP gilak keren abis. Apalagi kameranya. Dengan harga 800.000 (waktu itu) tuh hp udah terbilang lengkap, brooo. Belum andorid sih, tapi waktu itu emang belum ada android. Jadi ya gue fun fun aja pake tuh hp. Hehe… malah kayak sales HP nih gue promosi HP muluk. Hehehe…
Well, sejarah selanjutnya tentang lagu ini adalah nih lagu juga turut mengiringi kemenangan gue ketika lomba presenter berbahasa inggris, yang kemudian bikin gue jadi punya kesempatan nge-MC di acara pensi sekolah gue. Tuh, gini-gini gue pernah jadi MC pensi sekolah lho. Ya walaupun garing. Hahaha… gapapa kalik. Namanya juga pengalaman pertama. Wehehehe…
Trus, apalagi ya…. nih lagu juga mengiringi keberhasilan gue jadi juara satu ranking paralel. Hehe… kayaknya gue nyombong terus ya di postingan kali ini. Haha… sumprit gue nggak punya maksud untuk riya, mbak bro mas bro. emang nih lagu sering gue dengerin pas gue lagi di masa-masa jaya. Yaaaah… kalau lo ngikutin postingan gue lo pasti tau kan ada momen momen ketika gue jaya dan ada momen momen ketika gue runtuh. (Hadeeeh… jaya? Runtuh? My gooood… bahasa gue udah bener-bener anak sejarah nih. Kayak zaman kejayaan kerajaan kutai, runtuhnya kerajaan tarumanegara. Gilaaak… sebulan jadi anak sejarah gaya bahasa gue udah kuno. Gimana kalau empat taun? Tampang gue jangan-jangan juga ikutan kuno, lagi. Hahaha… )
Oke-oke, next next! Ngelantur kemana-mana, kaaan?!
Well, lagu ini juga mengiringi masa-masa kedekatan gue sama cowok kedua. Wuahaahaha… itu masa lalu… untung nggak jadian sama do’i. gue bersyukur banget karena dengan begitu gue masih menyandang status jomblo sejati. Yaaah well sampe sekarang percaya atau nggak gue belum pernah pacaran. 18 tahun. Dan gue bangga dengan status gue itu. jarang lhooo ada yang betah ngejomblo selama 18 taun. Hahaha… (membela diri wkwkwk. Ssst…. Jangan diketawain ah!)
Trus trus trus… lagu ini punya sejarah apa lagi ya?
Oh ya, ini lagu juga lagu kesukaan temen gue Annisa. Yaaa sebenernya bukan kesukaannya juga sih. Tapi dia bilang kalau nih lagu bagus. Trus, lagu ini juga sering gue dengerin pas jaman-jamannya gue mulai doyan nongkrong. Hahaha… gue mulai doyan klayapan itu kelas dua smk. Sama shindi, annisa, marina. Udah deh kayak trio kwek-kwek gitu kemana-mana berempat. Ke mall, karaoke, ngafe (ceilah ngafe. warung steak doang. hahaha), trus hunting foto. Aduuuh… trio kwek-kwek banget. (Eh, trio kwek kwek itu tiga orang ding ya? Kalo gitu… yang empat orang apaan? Teletubies aja deh. Hahaha…)
Ya well, postingan kali ini nggak begitu bermakna rupanya. (Emang kapan postingan gue pernah bermakna? hehe) Tapi ya nggak pa-pa lah. Biar dibaca temen-temen gue yang sekarang udah di Jakarta, di Semarang, di Surabaya, atau di Solo tapi udah jarang ketemu. Ooooh… teman-teman… kangen banget sama kalian. Kalo baca postingan gue komen dong! Pelit banget sih. Tujuan gue rela malu majang diary gue di sini tuh ya biar kita bisa silaturahmi. Biar kalian tau kabar gue, dan juga biar gue tau kabar kalian. Tapi kok kalian nggak pernah posting. Komen juga nggak pernah. Hiks hikss…. Ayolah teman-teman… update blog kalian. Cerita apa kek. Biar ilmu dari pak joko alias pak peppy ini nggak sia-sia. Ya? Oke? Janji bakalan update ya? Tar blog kalian pasti aku baca kok. (Kalian pasti bayangin gue lagi tersenyum dengan wajah merayu dan mata berbinar-binar. Yaaaa… you know me so well. Hahaha)
Intinya, oh… god. Gue pengen balik ke jaman SMK. Jaman ketika masih bisa seneng-seneng, masih bisa bermimpi tanpa takut kenyataan ternyata nggak semanis mimpi, nggak dibebani banyak tanggung jawab, asik banget deh pokoknya. Isinya cuma main sono main sini. Hunting foto di sana hunting foto di sini. Guys…. Kapan nih kita ngumpul? Pasti hebring banget deh kalau bisa ngumpul. Hiks hiks… sedih deh…
Yaudah deh. Kita tutup postingan kali ini dengan… dengan apa ya? Dengan lagu mars SMK 6. Hahaha… emang smk 6 punya mars ya? eh punya ding. Waktu pelepasan kemarin dinyanyiin. Dan gue bener-bener nggak tau nadanya gimana. nggak pernah diajarin sih. udah ah… mau nutup postingan nggak jadi-jadi nih. Beneran deh gue kayak lagi ngobrol sama kalian. Hahaha…
Oke deh… kita tutup dengan lagu Chris brown. With you. Bersama kalian. Bersama kalian teman-teman
So, this is the song. Enjoy it …
I need you, boo, I gotta see you, boo
And the hearts all over the world tonight
Said the hearts all over the world tonight
And I need you, boo, I gotta see you, boo
And the hearts all over the world tonight
Said the hearts all over the world tonight
Hey, little mama, ooh, you’re a stunner
Hot little figure, yes, you a winner
And I’m so glad to be yours
You’re a class all your own
And, ooh, little cutie, when you talk to me
I swear the whole world stops, you’re my sweetheart
And I’m so glad that you?re mine
You are one of a kind
And you mean to me what I mean to you
And together, baby, there is nothing we won’t do
?Cause if I got you I don’t need money
I don’t need cars, girl, you’re my all
And, oh, I’m into you
And, girl, no one else would do
?Cause with every kiss and every hug
You make me fall in love
And now I know I can?t be the only one
I bet it?s hearts all over the world tonight
With the love of their life
Who feel what I feel when I’m
With you, with you, with you
With you, with you, girl
With you, with you, with you
With you, with you, oh girl
I don’t want nobody else
Without you there?s no one left and
You’re like Jordans on Saturday
I gotta have you and I cannot wait now
Hey, little shorty, say you care for me
You know I care for you, you know that I’ll be true
You know that I won’t lie, you know that I will try
To be your everything, yeah
?Cause if I got you I don’t need money
I don’t need cars, girl, you’re my all
And, oh, I’m into you
And, girl, no one else would do
?Cause with every kiss and every hug
You make me fall in love
And now I know I can?t be the only one
I bet it?s hearts all over the world tonight
With the love of their life
Who feel what I feel when I’m
With you, with you, with you
With you, with you, oh
With you, with you, with you
With you, with you, yeah
And I will never try to deny
That you are my whole life
?Cause if you ever let me go I would die
So I won’t front
I don’t need another woman
I just need your all or nothing
?Cause if I got that then I’ll be straight
Baby, you’re the best part of my day
I need you, boo, I gotta see you, boo
And the hearts all over the world tonight
Said the hearts all over the world tonight
They need they boo, they gotta see they boo
Said the hearts all over the world tonight
Hearts all over the world tonight
And, oh, I’m into you
And, girl, no one else would do
?Cause with every kiss and every hug
You make me fall in love
And now I know I can?t be the only one
I bet it?s hearts all over the world tonight
With the love of their life
Who feel what I feel when I’m
With you, with you, with you
With you, with you, girl
With you, with you, with you
With you, with you, oh
With you, with you, with you
With you, with you, with you
With you, with you, with you
With you, with you, yeah
Bila mampu memaknai sekelumit bagian dalam hidup ini, maka liku-liku kecil pun akan terlihat unik. Dan melalui cerita cerita pendek berikut, semoga kita bisa memaknai setiap sudut kehidupan ini
Senin, 30 September 2013
Rabu, 25 September 2013
Finally, I found God
Hai! Akhir-akhir ini gue lagi seneng banget. Bukan karena banyak duit, dapet nilai bagus, atau karena pujian dari orang. Tapi karena akhirnya gue bertemu Tuhan.
Ya, gue baru aja tersesat. Tersesat dalam kealphaan, kebodohan, dan kekotoran hati yang bikin gue jadi merasa Tuhan menghilang. Tuhan ninggalin gue. Bahkan gue mulai mikir, sebenernya Tuhan itu beneran ada nggak, sih?
How stupid…
Lantas, gue menemukan satu tafsiran Al-Quran yang bener-bener ngena di hati gue.
“Ketika mereka melupakan apa-apa yang Kami peringatkan kepada mereka, justru Kami bukakan pintu segala kesempatan buat mereka. Maka kemudian ketika mereka merasa senang, merasa gembira, dengan keberhasilan, dengan kesuksesan mereka, tiba-tiba Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, jadilah mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)
Gilaaaa, maaan… mungkin ini cara Tuhan menunjukkan rasa kangennya ke gue. Well, dulu gue diberi masa kejayaan di mana semua target gue bisa tercapai dengan sempurna. Gue seneng, gue puas, gue bangga terhadap diri sendiri, dan pelan-pelan gue mulai songong.
Trus, lama-lama Tuhan bikin gue gagal dalam memenuhi target-target gue berikutnya. Satu per satu gue menemui kegagalan. Finalnya adalah ketika gue gagal masuk di univ yang gue pengenin. Tapi, ternyata itu masih belum final. Sebulan setelah gue kuliah di univ yang jujur nggak begitu gue pengenin itu, sebenernya gue udah mulai nerima kenyataan. Gue udah mulai enjoy the life to be there. Tapi kemudian gue ketimpa musibah. Gue kecelakaan. Tanggal 8 september. Kesrempet mobil pas perjalanan ke kampus.
Gue ngerasa, ya ampun… apa lagi sih? Belum cukup bikin gue harus bersabar menerima kenyataan kalau gue nggak ketrima di kampus impian? Masih dikasih cobaan lagi?
Setelah kecelakaan itu semuanya berubah. Gue bolos ngampus hampir dua minggu. Semua tugas kuliah terbengkalai. Gue musti nemuin dosen satu per satu buat minta pertimbangan karena udah banyak nggak ikut pelajaran. Nggak cuma tugas kuliah yang terbengkalai. Gue juga jadi musti ikut susulan bermacam-macam acara yang bikin gue jadi harus izin kuliah. Izin acara A susulan, izin acara B susulan. Makin banyaklah daftar ketidakhadiran gue di kelas. Trus, gue juga jadi harus melepas beberapa UKM yang mau gue ikutin karena udah ketinggalan hampir tiga minggu. Gue juga jadi parasit tiap kali ada tugas kelompok, karena sebelumnya gue nggak pernah ikut diskusi kelompok. Pokoknya semuanya serba menimbulkan masalah baru deh. Dan yang paling nyebelin selama tiga minggu gue harus menahan sakit di kaki kanan gue. Ketimpa motor, bos. Jelas bonyoklah. Tapi untung nggak retak, patah tulang, apalagi berakhir di meja amputasi. Astaghfirullahhh….
Gara-gara itu gue juga jadi merepotkan banyak orang. Tiga minggu gue diantar jemput ke kampus. Bener-bener ngerepotin ortu. Buat naik-turun tangga ke kelas gue pun kadang gue musti minta anter temen kalau bener-bener udah nggak kuat jalan. Ada tugas ngumpulin makalah, minjem buku perpus, semuanya ngandelin temen. Untung temen-temen gue pada baik. Hiks-hiks… thanks guys… gue berhutang budi ama kalian.
Hidup gue rasanya beraaaaaaat banget.
Seakan belum cukup, masih ada cobaan lagi datang. Kali ini dari bapak. Gue nggak bisa menceritakannya di sini. Intinya, ada masalah yang lagi menimpa ortu gue yang berbuntut pada kebobrokan finansial keluarga gue.
Apalagi coba?
Semuanya berasa datang bertubi-tubi. September yang katanya ceria berasa buram di kehidupan gue. Gue sering nangis diem-diem. Bertanya pada diri sendiri, sebenernya apa salah gue? Gue bukan orang yang macem-macem. Gue nggak pernah absen solat, nggak pernah ngelawan ortu, nggak pernah pacaran, sering ngaji, sering puasa sunah, sering solat sunah, sering beramal ….. tapi…. Tapi satu hal, gue pernah meragukan Tuhan….
Is this?
Satu pernyataan itu tiba-tiba muncul dalam diri gue. Gue pernah meragukan Tuhan. Gue pernah ngerasa Tuhan itu nggak adil. Gue pernah sempet nggak mau percaya lagi Tuhan itu sayang sama gue. Gue sempet mikir Tuhan nggak bakal ngabulin permintaan gue. Gue sempet merasa solat, puasa, sedelah dll itu hanya omong kosong. Gue sempet ngerasa doa gue sia-sia. Dan… gue sempet ragu, Tuhan itu beneran ada apa nggak. Gue sempet merasa sombong, bahwa keberhasilan yang gue raih adalah karena usaha gue sendiri dan keterpurukan yang gue raih pun juga karena kecerobohan gue sendiri. Gue sempet mikir apa andil Tuhan dalam kehidupan gue? Apa Tuhan beneran ada? Does God really exist?
Semua itu jauh lebih fatal daripada orang yang solatnya bolong-bolong.
Gue bukan cuma sekadar melanggar perintah-Nya. Tapi bahkan gue meragukan keberadaan-Nya. Astaghfirullah…
Gue bener-bener merasa tersesat. Di satu sisi gue takut keadaan gue akan semakin terpuruk kalau gue terus meragukan keberadaan Tuhan. Itu sebabnya walaupun gue ragu tapi gue tetep solat dll. Tapi di sisi lain, solat pun gue nggak khusuk. Ya karena ragu itu tadi. Gue ngerasa sebenernya ada gunanya nggak sih solat itu. Jangan-jangan ini sama aja kayak animisme dinamisme jaman purbakala.
Astaghfirullah haladziiim…
Gue ngerasa hidup gue sumpek. Berulang kali gue berusaha keluar dari kepenatan itu. Nonton film, ketemu temen, keluar rumah. Tapi semua itu cuma memberi gue kebahagiaan sementara. Setelah itu, semuanya kembali lagi. Kembali sumpek, penat, ruwet. Gue butuh kebahagiaan abadi. An eternal happiness. Tapi di mana gue bisa nemuin? Gimana caranya?
Satu momen yang membuat gue akhirnya membuka mata. Ibu. Beliau tiba-tiba buka buku doa-doa. Beliau juga adalah sosok yang solehah. Tapi baru kali ini beliau sampai buka buku doa-doa. Biasanya beliau kalau lagi ada masalah paling cuma solatnya jadi lebih lama, lebih banyak dzikir, doa, ngaji dll. Tapi kali ini beliau sampai buka-buka buku doa dan serius menekuninya.
Dari kejadian itu gue tau kalau ibu gue juga turut dirundung kegelisahan. Gue nggak pengen liat ibu gue sedih. Gue berdoa supaya semuanya berubah, supaya ortu gue nggak sedih lagi. Tapi gimana doa gue bisa terkabul kalau gue udah jadi orang munafik di depan Tuhan? Gimana Tuhan bakal denger doa gue?
Seharian gue nangis. Gue ngerasa jadi orang paling munafik. Gue ngerasa berlumur dosa. Siapa gue, berani banget ngerasa Tuhan itu nggak ada. Dengan segenap rasa malu, gue menghadap Tuhan. Gue cuma pengen nggak menambah beban orang lain. Kalau cuma gue yang menderita, nggak pa-pa. Tapi jangan libatkan orang lain. Apalagi orang tua. Jangan…
Gue kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Solat, ngaji, puasa, semuanya gue lakukan dengan sungguh-sungguh. Nggak asal-asalan. Gue jalanin semua hal dengan lebih sabar dan penuh rasa syukur.
Dan akhirnya, alhamdulillah… semuanya mulai membuahkan hasil. Tuhan benar-benar mendengar doa gue. Allah mendengar gue. Semuanya mulai membaik perlahan-lahan. Perkuliahan gue yang berantakan mulai stabil, bahkan gue ngerasa dimudahkan. Kaki gue udah mulai bisa dipake jalan secara normal. Perekonomian keluarga gue udah membaik. Gue udah bisa melihat ibu dan bapak tertawa lepas, tanpa beban. Beneran… gue nggak boong. Semuanya berasa ringan. I finally found God. Gue akhirnya bertemu Tuhan. Bertemu Allah. Setelah sekian lama gue tersesat… Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan rasa kangen-Nya ke gue dan Dia pengen gue balik ke pelukan-Nya.
“Dan tidaklah sekali-kali apa yang dijanjikan Tuhan itu akan didapatkan, kecuali bagi mereka yang bersabar. Dan siapa-siapa yang mendapatkannya maka berarti dia sudah mendapatkan keberuntungan yang luar biasa besarnya.” (Fushshilat: 35)
Anyway, sebagai rujukan gue juga sempet baca-baca buknya Yusuf masnyur. Judulnya mencari Tuhan yang Hilang. Bagus banget bukunya. Apalagi buat hamba-hamba labil kayak gue yang mudah goyah imannya. Ini sangat bagus buat meningkatkan keimanan.
Ya, gue baru aja tersesat. Tersesat dalam kealphaan, kebodohan, dan kekotoran hati yang bikin gue jadi merasa Tuhan menghilang. Tuhan ninggalin gue. Bahkan gue mulai mikir, sebenernya Tuhan itu beneran ada nggak, sih?
How stupid…
Lantas, gue menemukan satu tafsiran Al-Quran yang bener-bener ngena di hati gue.
“Ketika mereka melupakan apa-apa yang Kami peringatkan kepada mereka, justru Kami bukakan pintu segala kesempatan buat mereka. Maka kemudian ketika mereka merasa senang, merasa gembira, dengan keberhasilan, dengan kesuksesan mereka, tiba-tiba Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, jadilah mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)
Gilaaaa, maaan… mungkin ini cara Tuhan menunjukkan rasa kangennya ke gue. Well, dulu gue diberi masa kejayaan di mana semua target gue bisa tercapai dengan sempurna. Gue seneng, gue puas, gue bangga terhadap diri sendiri, dan pelan-pelan gue mulai songong.
Trus, lama-lama Tuhan bikin gue gagal dalam memenuhi target-target gue berikutnya. Satu per satu gue menemui kegagalan. Finalnya adalah ketika gue gagal masuk di univ yang gue pengenin. Tapi, ternyata itu masih belum final. Sebulan setelah gue kuliah di univ yang jujur nggak begitu gue pengenin itu, sebenernya gue udah mulai nerima kenyataan. Gue udah mulai enjoy the life to be there. Tapi kemudian gue ketimpa musibah. Gue kecelakaan. Tanggal 8 september. Kesrempet mobil pas perjalanan ke kampus.
Gue ngerasa, ya ampun… apa lagi sih? Belum cukup bikin gue harus bersabar menerima kenyataan kalau gue nggak ketrima di kampus impian? Masih dikasih cobaan lagi?
Setelah kecelakaan itu semuanya berubah. Gue bolos ngampus hampir dua minggu. Semua tugas kuliah terbengkalai. Gue musti nemuin dosen satu per satu buat minta pertimbangan karena udah banyak nggak ikut pelajaran. Nggak cuma tugas kuliah yang terbengkalai. Gue juga jadi musti ikut susulan bermacam-macam acara yang bikin gue jadi harus izin kuliah. Izin acara A susulan, izin acara B susulan. Makin banyaklah daftar ketidakhadiran gue di kelas. Trus, gue juga jadi harus melepas beberapa UKM yang mau gue ikutin karena udah ketinggalan hampir tiga minggu. Gue juga jadi parasit tiap kali ada tugas kelompok, karena sebelumnya gue nggak pernah ikut diskusi kelompok. Pokoknya semuanya serba menimbulkan masalah baru deh. Dan yang paling nyebelin selama tiga minggu gue harus menahan sakit di kaki kanan gue. Ketimpa motor, bos. Jelas bonyoklah. Tapi untung nggak retak, patah tulang, apalagi berakhir di meja amputasi. Astaghfirullahhh….
Gara-gara itu gue juga jadi merepotkan banyak orang. Tiga minggu gue diantar jemput ke kampus. Bener-bener ngerepotin ortu. Buat naik-turun tangga ke kelas gue pun kadang gue musti minta anter temen kalau bener-bener udah nggak kuat jalan. Ada tugas ngumpulin makalah, minjem buku perpus, semuanya ngandelin temen. Untung temen-temen gue pada baik. Hiks-hiks… thanks guys… gue berhutang budi ama kalian.
Hidup gue rasanya beraaaaaaat banget.
Seakan belum cukup, masih ada cobaan lagi datang. Kali ini dari bapak. Gue nggak bisa menceritakannya di sini. Intinya, ada masalah yang lagi menimpa ortu gue yang berbuntut pada kebobrokan finansial keluarga gue.
Apalagi coba?
Semuanya berasa datang bertubi-tubi. September yang katanya ceria berasa buram di kehidupan gue. Gue sering nangis diem-diem. Bertanya pada diri sendiri, sebenernya apa salah gue? Gue bukan orang yang macem-macem. Gue nggak pernah absen solat, nggak pernah ngelawan ortu, nggak pernah pacaran, sering ngaji, sering puasa sunah, sering solat sunah, sering beramal ….. tapi…. Tapi satu hal, gue pernah meragukan Tuhan….
Is this?
Satu pernyataan itu tiba-tiba muncul dalam diri gue. Gue pernah meragukan Tuhan. Gue pernah ngerasa Tuhan itu nggak adil. Gue pernah sempet nggak mau percaya lagi Tuhan itu sayang sama gue. Gue sempet mikir Tuhan nggak bakal ngabulin permintaan gue. Gue sempet merasa solat, puasa, sedelah dll itu hanya omong kosong. Gue sempet ngerasa doa gue sia-sia. Dan… gue sempet ragu, Tuhan itu beneran ada apa nggak. Gue sempet merasa sombong, bahwa keberhasilan yang gue raih adalah karena usaha gue sendiri dan keterpurukan yang gue raih pun juga karena kecerobohan gue sendiri. Gue sempet mikir apa andil Tuhan dalam kehidupan gue? Apa Tuhan beneran ada? Does God really exist?
Semua itu jauh lebih fatal daripada orang yang solatnya bolong-bolong.
Gue bukan cuma sekadar melanggar perintah-Nya. Tapi bahkan gue meragukan keberadaan-Nya. Astaghfirullah…
Gue bener-bener merasa tersesat. Di satu sisi gue takut keadaan gue akan semakin terpuruk kalau gue terus meragukan keberadaan Tuhan. Itu sebabnya walaupun gue ragu tapi gue tetep solat dll. Tapi di sisi lain, solat pun gue nggak khusuk. Ya karena ragu itu tadi. Gue ngerasa sebenernya ada gunanya nggak sih solat itu. Jangan-jangan ini sama aja kayak animisme dinamisme jaman purbakala.
Astaghfirullah haladziiim…
Gue ngerasa hidup gue sumpek. Berulang kali gue berusaha keluar dari kepenatan itu. Nonton film, ketemu temen, keluar rumah. Tapi semua itu cuma memberi gue kebahagiaan sementara. Setelah itu, semuanya kembali lagi. Kembali sumpek, penat, ruwet. Gue butuh kebahagiaan abadi. An eternal happiness. Tapi di mana gue bisa nemuin? Gimana caranya?
Satu momen yang membuat gue akhirnya membuka mata. Ibu. Beliau tiba-tiba buka buku doa-doa. Beliau juga adalah sosok yang solehah. Tapi baru kali ini beliau sampai buka buku doa-doa. Biasanya beliau kalau lagi ada masalah paling cuma solatnya jadi lebih lama, lebih banyak dzikir, doa, ngaji dll. Tapi kali ini beliau sampai buka-buka buku doa dan serius menekuninya.
Dari kejadian itu gue tau kalau ibu gue juga turut dirundung kegelisahan. Gue nggak pengen liat ibu gue sedih. Gue berdoa supaya semuanya berubah, supaya ortu gue nggak sedih lagi. Tapi gimana doa gue bisa terkabul kalau gue udah jadi orang munafik di depan Tuhan? Gimana Tuhan bakal denger doa gue?
Seharian gue nangis. Gue ngerasa jadi orang paling munafik. Gue ngerasa berlumur dosa. Siapa gue, berani banget ngerasa Tuhan itu nggak ada. Dengan segenap rasa malu, gue menghadap Tuhan. Gue cuma pengen nggak menambah beban orang lain. Kalau cuma gue yang menderita, nggak pa-pa. Tapi jangan libatkan orang lain. Apalagi orang tua. Jangan…
Gue kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Solat, ngaji, puasa, semuanya gue lakukan dengan sungguh-sungguh. Nggak asal-asalan. Gue jalanin semua hal dengan lebih sabar dan penuh rasa syukur.
Dan akhirnya, alhamdulillah… semuanya mulai membuahkan hasil. Tuhan benar-benar mendengar doa gue. Allah mendengar gue. Semuanya mulai membaik perlahan-lahan. Perkuliahan gue yang berantakan mulai stabil, bahkan gue ngerasa dimudahkan. Kaki gue udah mulai bisa dipake jalan secara normal. Perekonomian keluarga gue udah membaik. Gue udah bisa melihat ibu dan bapak tertawa lepas, tanpa beban. Beneran… gue nggak boong. Semuanya berasa ringan. I finally found God. Gue akhirnya bertemu Tuhan. Bertemu Allah. Setelah sekian lama gue tersesat… Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan rasa kangen-Nya ke gue dan Dia pengen gue balik ke pelukan-Nya.
“Dan tidaklah sekali-kali apa yang dijanjikan Tuhan itu akan didapatkan, kecuali bagi mereka yang bersabar. Dan siapa-siapa yang mendapatkannya maka berarti dia sudah mendapatkan keberuntungan yang luar biasa besarnya.” (Fushshilat: 35)
Anyway, sebagai rujukan gue juga sempet baca-baca buknya Yusuf masnyur. Judulnya mencari Tuhan yang Hilang. Bagus banget bukunya. Apalagi buat hamba-hamba labil kayak gue yang mudah goyah imannya. Ini sangat bagus buat meningkatkan keimanan.
Rabu, 21 Agustus 2013
make up my mind
Hai! Anyway ini adalah hari kedua gue menjalani masa OSMARU (Orientasi Studi Mahasiswa Baru).
Eng-ing-engggg..... yup-yup-yup akhirnya tiba juga waktunya untuk gue terjun ke kampus yang yaaaaa agak nggak srek di hati.
Well, first day. It was so boring.... to be honesttt... dari temen-temennya, dari kakak tingkatnya, dari acaranya. I just wanna go out from there as soon as I caaaaaan..... O ma gaaaah....
Trus, trus, trus, trus... di hari kedua. I met a friend from Wonogiri. Her name is Inten, and emmm... she is a handicapped. Well, I adore her passion. She came so far away from Wonogiri--well, actually it's not so far--but, with her condition she won't give up. She is not as lucky as us, she come from Wonogiri, and her family was just moderate. But, with all the boundaries, she still want to study. I adore her passion.
Rasanya gue kayak ketampar. Gue ngerasa bego aja. Dengan kondisi gue yang begini, dengan dua tangan sempurna, dua kaki sempurna. Semuanya sempurna. Rumah ada di Solo, nggak perlu ngekost, masalah biaya kuliah aman, masalah uang jajan aman, masalah keperluan kuliah kayak laptop modem printer dll juga aman. Bahkan sekarang gue dikasi motor. Padahal gue nggak pernah minta. Bayangin bisa naik motor aja nggak pernah--hehe... gue pernah kecelakaan pas naik motor sendirian soalnya. Jadi cukup trauma dan nggak pernah bayangin bakalan berani naik motor lagi.
Well, balik lagi. I mean, hidup gue untuk kuliah tuh bener-bener udah dipermudah. Sangat-sangat jauh lebih mudah dari temen-temen gue. Tapi kenapa gue nggak bisa bersyukur?
Oke, gue masih sakit ati karena nggak bisa ketrima di universitas impian gue yang udah gue impiin dari kecil. Tapi kemudian, gue kayak dibangunkan secara lembut. Pelan-pelan Tuhan menyadarkan gue, bahwa ada yang hilang berarti ada yang datang. Gue kehilangan universitas yang gue cintai itu, tapi gue didatangi oleh sejumlah berkah yang ternyata banyak banget. Gue terlalu terlarut dalam kekecewaan, sehingga gue menutup mata dari segala berkah yang diberikan-Nya.
Well, idealis boleh. Bagus malahan. Tapi masalahnya, idealis sama egois itu beda dikit. Dikit banget.
Dan gue salah menakar rasa idealisme dalam diri gue, sehingga rasa itu malah berubah menjadi rasa egois. Gue pengen kuliah di univ yang gue pengenin itu karena gue liat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa. Kayak ekskul kalau di tingkat sekolahan) di sana maju. Gue punya beberapa kenalan yang kuliah di sana dan mereka keliatan bangga banget bisa kuliah dan ikut UKM di sana. Mimpi bisa kuliah di sana itu udah ada sejak SMP. Gue jaga mimpi itu dalam hati gue, gue lakuin seluruh hal yang menunjang gue untuk dapat kuliah di sana--lo tau apa, gue dulu pemalu banget. Introvert, minder, nggak berani speak up-lah pokoknya. Tapi kemudian gue sadar, untuk bisa masuk di universitas itu gue butuh soft skill. Itu sebabnya lulus SMP, gue berubah jadi power ranger. Hehe... nggak ding. Lulus SMP, gue berubah jadi manusia baru yang ekstrovert, percaya diri, dan berani menyuarakan pendapat. Semua itu gue lakuin supaya gue bisa sejajar dengan kandidat lain yang ngincer universitas itu. Gue berusaha meningkatkan kualitas diri gue baik dari segi hard skill maupun soft skill. Pokoknya gue belajar bener-bener deh, but then... tadaaaaa I failed.
Dari tulisan-tulisan gue sebelumnya, lo tau kan gue jadi frustasi banget. Gue ngerasa jadi orang paling broken di dunia. Bahkan, ada saatnya gue jadi nggak percaya Tuhan. Yaaah.... that was the worst...
Tapi yah, bener juga katanya Eyang Kartini. Habis gelap, terbitlah terang. Setelah masa-masa suram gue dilanda frustasi, perlahan gue mulai disadarkan bahwa gagal bukan berarti gue kalah. Gue masih menang, maaaan! Gue hanya nggak menyadarinya. Gue hanya belum mampu menyibak maksud Tuhan sebenarnya.
Gue mulai dapet suntikan semangat di hari kedua OSMARU. Di hari kedua itu para perwakilan UKM di UNS pada presentasi tentang UKM-UKM mereka. Mungkin UKM-nya nggak sebagus sama UKM yang ada di universitas impian gue. Tapi gue nggak mau banding-bandingin. Yang di depan gue sekarang adalah UNS. Maka gue akan melangkah di sana.
Gue tertarik sama UKM LPS. (Apa sih kepanjangannya gue lupa. Pokoknya tentang organisasi karya ilmiah gitu, tulis menulis, jurnalistik, begitulah pokoknya.). Dan-dan-dan-dan yang bikin hepi adalah di LPS itu ada lomba Speech! Speech contest! Aaaaaaaa..... mata gue langsung ijoooo! Speech contest, sejak gue ikutan lomba english camp--walau kalah--gue jadi ketagihan sama pidato bahasa inggris. Makanya waktu liat ada lomba Speech gue langsung tertarik. Gue langsung lupa kalau sebelumnya gue bete banget sama semua hal yang ada di kampus ini.
Well, sekali lagi gue harus menarik ucapan gue sendiri. Di postingan gue yang lalu, nggak tau postingan kapan, gue nggak percaya bahwa kegagalan itu adalah kemenangan yang tertunda. Tapi sekarang, gue mulai meyakini itu. Kegagalan gue di lomba English camp akan mengantarkan gue kepada kemenangan di Speech contest! Yuhuuuuu..... I'm comiiiiiiiing :)
Ya oke, maksud gue dengan mengatakan gue harus menarik ucapan gue adalah, kemarin-kemarin gue ngerasa diri gue useless banget. Kalah lomba English camp, gue merasa diri gue bodoh. But no! Walaupun gue kalah, tapi dari ikut lomba English camp itu, gue jadi ketagihan buat ikutan lomba-lomba bahasa inggris semacam itu. Gue juga lebih ngerti trik-trik berbicara dalam bahasa inggris, cara menarik perhatian audience, cara bersikap ketika pidato, cara menjembatani tema dari satu tema ke tema lain. Pokoknya banyak deh ilmu baru yang bisa gue ambil dari English camp itu.
Oke, oke, oke. Sekali lagi, gue ternyata terlalu terlarut dalam kekecewaan gue terhadap kekalahan gue di lomba English camp. Sehingga gue nggak nyadar bahwa betapa banyak manfaat yang gue dapat di lomba itu.
Yeah well, ternyata pola pikir gue masih terlalu childish. Gue hanya melihat apa yang terlihat di depan gue, tanpa menapak tilasnya terlebih dahulu. I mean, waktu itu gue hanya ngerasa iri dan dendam ngeliat para pemenang lomba English Camp itu saat maju ke depan. Gue nggak berpikir jauh, bahwa mungkin para pemenang di lomba English Camp itu dulunya juga udah ngerasain gagal terlebih dahulu. Mungkin bahkan mereka nggak cuma harus ngerasain sekali-dua kali gagal. Tapi berulang kali sampai akhirnya mereka menang. Gue hanya melihat apa yang gue lihat saat itu aja, yaitu bahwa mereka menang dan gue kalah, dan gue iri, dan gue dendam. Gue nggak menapak tilas sejarah kemenangan mereka terlebih dahulu.
Yeah well, gue rasa sudah saatnya gue meng-make up my mind. Udah saatnya gue merubah pola pikir. It's time to grow up. Idealis boleh, tapi jangan sampai egois. Kecewa boleh, tapi jangan sampai lupa bersyukur. Gagal boleh, tapi jangan sampai enggan untuk bangkit. Dan terkahir, gue kembali percaya akan lagunya Nidji. Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia. Gue kembali memegang mimpi gue. dan nggak akan gue lepas. Jadi penulis, menang lomba speech, naik gunung, jadi wirausahawan, emm... apalagi yaaa? Kalo jadi arkeolog kayaknya udah nggak. Hehehe... Tapi kalau antropolog, mungkin... who knows?
Yah... inilah yang gue suka dari masa muda. Masa di mana gue akan melakukan kesalahan dan menemukan kebenaran secara bersamaan. Itu sebabnya gue suka novel teenlit. Haha... nggak ada hubungannya juga kali. Gue sih emang demen baca bacaan apa aja. Hehe
Well,
Last but not least,
Teriak dulu yooook. Yel-yelnya anak sejarah.
Sejarah... JASMERAH JASMERAH MERDEKA :)
Buat para bule yang kuliah di UNS, suatu saat nanti lo akan liat gue lagi speech tentang sejarah Indonesia yang oke punya. Dan lo, wahai para bule, bakalan kagum sama sejarah bangsa Indonesia. Bangsa gue niiiiih, bangsa yang besar, bangsa yang berani bermimpi...
:)
Eng-ing-engggg..... yup-yup-yup akhirnya tiba juga waktunya untuk gue terjun ke kampus yang yaaaaa agak nggak srek di hati.
Well, first day. It was so boring.... to be honesttt... dari temen-temennya, dari kakak tingkatnya, dari acaranya. I just wanna go out from there as soon as I caaaaaan..... O ma gaaaah....
Trus, trus, trus, trus... di hari kedua. I met a friend from Wonogiri. Her name is Inten, and emmm... she is a handicapped. Well, I adore her passion. She came so far away from Wonogiri--well, actually it's not so far--but, with her condition she won't give up. She is not as lucky as us, she come from Wonogiri, and her family was just moderate. But, with all the boundaries, she still want to study. I adore her passion.
Rasanya gue kayak ketampar. Gue ngerasa bego aja. Dengan kondisi gue yang begini, dengan dua tangan sempurna, dua kaki sempurna. Semuanya sempurna. Rumah ada di Solo, nggak perlu ngekost, masalah biaya kuliah aman, masalah uang jajan aman, masalah keperluan kuliah kayak laptop modem printer dll juga aman. Bahkan sekarang gue dikasi motor. Padahal gue nggak pernah minta. Bayangin bisa naik motor aja nggak pernah--hehe... gue pernah kecelakaan pas naik motor sendirian soalnya. Jadi cukup trauma dan nggak pernah bayangin bakalan berani naik motor lagi.
Well, balik lagi. I mean, hidup gue untuk kuliah tuh bener-bener udah dipermudah. Sangat-sangat jauh lebih mudah dari temen-temen gue. Tapi kenapa gue nggak bisa bersyukur?
Oke, gue masih sakit ati karena nggak bisa ketrima di universitas impian gue yang udah gue impiin dari kecil. Tapi kemudian, gue kayak dibangunkan secara lembut. Pelan-pelan Tuhan menyadarkan gue, bahwa ada yang hilang berarti ada yang datang. Gue kehilangan universitas yang gue cintai itu, tapi gue didatangi oleh sejumlah berkah yang ternyata banyak banget. Gue terlalu terlarut dalam kekecewaan, sehingga gue menutup mata dari segala berkah yang diberikan-Nya.
Well, idealis boleh. Bagus malahan. Tapi masalahnya, idealis sama egois itu beda dikit. Dikit banget.
Dan gue salah menakar rasa idealisme dalam diri gue, sehingga rasa itu malah berubah menjadi rasa egois. Gue pengen kuliah di univ yang gue pengenin itu karena gue liat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa. Kayak ekskul kalau di tingkat sekolahan) di sana maju. Gue punya beberapa kenalan yang kuliah di sana dan mereka keliatan bangga banget bisa kuliah dan ikut UKM di sana. Mimpi bisa kuliah di sana itu udah ada sejak SMP. Gue jaga mimpi itu dalam hati gue, gue lakuin seluruh hal yang menunjang gue untuk dapat kuliah di sana--lo tau apa, gue dulu pemalu banget. Introvert, minder, nggak berani speak up-lah pokoknya. Tapi kemudian gue sadar, untuk bisa masuk di universitas itu gue butuh soft skill. Itu sebabnya lulus SMP, gue berubah jadi power ranger. Hehe... nggak ding. Lulus SMP, gue berubah jadi manusia baru yang ekstrovert, percaya diri, dan berani menyuarakan pendapat. Semua itu gue lakuin supaya gue bisa sejajar dengan kandidat lain yang ngincer universitas itu. Gue berusaha meningkatkan kualitas diri gue baik dari segi hard skill maupun soft skill. Pokoknya gue belajar bener-bener deh, but then... tadaaaaa I failed.
Dari tulisan-tulisan gue sebelumnya, lo tau kan gue jadi frustasi banget. Gue ngerasa jadi orang paling broken di dunia. Bahkan, ada saatnya gue jadi nggak percaya Tuhan. Yaaah.... that was the worst...
Tapi yah, bener juga katanya Eyang Kartini. Habis gelap, terbitlah terang. Setelah masa-masa suram gue dilanda frustasi, perlahan gue mulai disadarkan bahwa gagal bukan berarti gue kalah. Gue masih menang, maaaan! Gue hanya nggak menyadarinya. Gue hanya belum mampu menyibak maksud Tuhan sebenarnya.
Gue mulai dapet suntikan semangat di hari kedua OSMARU. Di hari kedua itu para perwakilan UKM di UNS pada presentasi tentang UKM-UKM mereka. Mungkin UKM-nya nggak sebagus sama UKM yang ada di universitas impian gue. Tapi gue nggak mau banding-bandingin. Yang di depan gue sekarang adalah UNS. Maka gue akan melangkah di sana.
Gue tertarik sama UKM LPS. (Apa sih kepanjangannya gue lupa. Pokoknya tentang organisasi karya ilmiah gitu, tulis menulis, jurnalistik, begitulah pokoknya.). Dan-dan-dan-dan yang bikin hepi adalah di LPS itu ada lomba Speech! Speech contest! Aaaaaaaa..... mata gue langsung ijoooo! Speech contest, sejak gue ikutan lomba english camp--walau kalah--gue jadi ketagihan sama pidato bahasa inggris. Makanya waktu liat ada lomba Speech gue langsung tertarik. Gue langsung lupa kalau sebelumnya gue bete banget sama semua hal yang ada di kampus ini.
Well, sekali lagi gue harus menarik ucapan gue sendiri. Di postingan gue yang lalu, nggak tau postingan kapan, gue nggak percaya bahwa kegagalan itu adalah kemenangan yang tertunda. Tapi sekarang, gue mulai meyakini itu. Kegagalan gue di lomba English camp akan mengantarkan gue kepada kemenangan di Speech contest! Yuhuuuuu..... I'm comiiiiiiiing :)
Ya oke, maksud gue dengan mengatakan gue harus menarik ucapan gue adalah, kemarin-kemarin gue ngerasa diri gue useless banget. Kalah lomba English camp, gue merasa diri gue bodoh. But no! Walaupun gue kalah, tapi dari ikut lomba English camp itu, gue jadi ketagihan buat ikutan lomba-lomba bahasa inggris semacam itu. Gue juga lebih ngerti trik-trik berbicara dalam bahasa inggris, cara menarik perhatian audience, cara bersikap ketika pidato, cara menjembatani tema dari satu tema ke tema lain. Pokoknya banyak deh ilmu baru yang bisa gue ambil dari English camp itu.
Oke, oke, oke. Sekali lagi, gue ternyata terlalu terlarut dalam kekecewaan gue terhadap kekalahan gue di lomba English camp. Sehingga gue nggak nyadar bahwa betapa banyak manfaat yang gue dapat di lomba itu.
Yeah well, ternyata pola pikir gue masih terlalu childish. Gue hanya melihat apa yang terlihat di depan gue, tanpa menapak tilasnya terlebih dahulu. I mean, waktu itu gue hanya ngerasa iri dan dendam ngeliat para pemenang lomba English Camp itu saat maju ke depan. Gue nggak berpikir jauh, bahwa mungkin para pemenang di lomba English Camp itu dulunya juga udah ngerasain gagal terlebih dahulu. Mungkin bahkan mereka nggak cuma harus ngerasain sekali-dua kali gagal. Tapi berulang kali sampai akhirnya mereka menang. Gue hanya melihat apa yang gue lihat saat itu aja, yaitu bahwa mereka menang dan gue kalah, dan gue iri, dan gue dendam. Gue nggak menapak tilas sejarah kemenangan mereka terlebih dahulu.
Yeah well, gue rasa sudah saatnya gue meng-make up my mind. Udah saatnya gue merubah pola pikir. It's time to grow up. Idealis boleh, tapi jangan sampai egois. Kecewa boleh, tapi jangan sampai lupa bersyukur. Gagal boleh, tapi jangan sampai enggan untuk bangkit. Dan terkahir, gue kembali percaya akan lagunya Nidji. Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia. Gue kembali memegang mimpi gue. dan nggak akan gue lepas. Jadi penulis, menang lomba speech, naik gunung, jadi wirausahawan, emm... apalagi yaaa? Kalo jadi arkeolog kayaknya udah nggak. Hehehe... Tapi kalau antropolog, mungkin... who knows?
Yah... inilah yang gue suka dari masa muda. Masa di mana gue akan melakukan kesalahan dan menemukan kebenaran secara bersamaan. Itu sebabnya gue suka novel teenlit. Haha... nggak ada hubungannya juga kali. Gue sih emang demen baca bacaan apa aja. Hehe
Well,
Last but not least,
Teriak dulu yooook. Yel-yelnya anak sejarah.
Sejarah... JASMERAH JASMERAH MERDEKA :)
Buat para bule yang kuliah di UNS, suatu saat nanti lo akan liat gue lagi speech tentang sejarah Indonesia yang oke punya. Dan lo, wahai para bule, bakalan kagum sama sejarah bangsa Indonesia. Bangsa gue niiiiih, bangsa yang besar, bangsa yang berani bermimpi...
:)
Selasa, 20 Agustus 2013
The truth about love
(Atas : Cover baru, bawah : cover lama)
Hai! Malem-malem gini, gue kena insomnia. Nggak bisa tidur. Lagi bete, pula. Ya udah deh, mendingan gue ngeresensi novel.
Well, novel yang bakal gue resensi kali ini adalah novel karyaknya Orizuka, alias Okke Rizka Septania.
Novel ini, menurut gue punya beberapa kesamaan pola dengan novel Summer Breeze yang juga dikarang oleh mbak Orizuka. Di antaranya, karakter utama cowoknya yang diam-diam menderita penyakit dan didera frustasi akut. Trus karakter ceweknya tipikal yang hepi, easy going, perhatian banget sama si cowok walaupun si cowok itu udah antipati, sabar banget, dan mendukung si cowok banget. Looks so sweet, right? And that's right. Novel ini emang dikemas dengan begitu romantis. Bikin air mata meleleh. Bikin rasanya nggak masalah baca sampe jam dua pagi.
Well, ceritanya itu tentang Yogas (Hero di cerita ini) yang menderita suatu penyakit mematikan. Dia udah putus asa hidup. Satu-satunya yang masih bisa bikin dia pengen hidup adalah obsesinya untuk membunuh Joe, teman yang sudah menularkan penyakit itu ke Yogas. Itu satu-satunya alasan Yogas hidup. Kalau dia sudah bisa membunuh Joe, dia nggak masalah mati karena penyakitnya itu.
Oke, intinya si Yogas ini hidupnya udah frustated banget. Dia kehilangan teman, dan pacarnya bahkan papanya milih meninggalkan dia karena penyakit itu. One day, Yogas pergi ke Jogja buat nemuin Joe. Dia nge-kost di sebuah kost bobrok nan murah meriah di Jogja. Di sana dia ketemu Kana (Heroine di cerita ini). Kana memiliki karakter ceria dan easy going dia nggak ambil pusing sama sikap jutek dan tertutupnya Yogas. Dia malah mengira sikap jutek dan tertutupnya Yogas itu karena Yogas menyimpan permasalahan berat, dan Kana mau membantu.
Well, selanjutnya baca sendiri. Gue nggak mau nimbulin spoiler banyak-banyak nih di sini. Gue pengennya komentar aja. Wuss... lagaknya udah kayak yang paling bener aja komen-komen.
Well, oke, mari sikat!
Komentar pertama
Dari depan interaksi Kana dan Yogas udah asik banget diikutin. Lucu. Sifat ceria dan muka temboknya Kana bikin Yogas lama-lama nggak bisa mempertahankan sifat cueknya di depan cewek itu. Mau digalakin kayak apa juga Kana bakalan terus ramah, bakalan terus mau temenan sama Yogas. Padahal Yogas berusaha sekuat tenaga untuk menjauh, karena dia takut dijauhi, makanya lebih baik dia yang menjauh dari awal. Di halaman-halaman awal, kita bakal dibikin ngakak sama aksi berantem Yogas-Kana yang lucu bin konyol.
Komentar kedua.
Novel ini ditulis dengan bahasa yang nggak belibet. Bahkan bisa dibilang diksinya standar. Nggak ada pemilihan kata yang terbilang puitis atau nyastra. Tapi, novel ini meaningful banget. Ada banyak pemikiran mendalam yang ada di novel ini. Kayak... ini bentar gue cari. (Ambil novel, trus buka-buka halamannya, agak lama, soalnya lupa halaman berapa. hehe)
Aduuuh.... gue lupa di halaman berapa. Pokoknya banyak kok. Keren aja gitu. Dengan diksi yang minimalis, bisa merangkai kata-kata yang meaningful. Yang paling gue inget cuma satu; Apalagi yang tersisa untuk disakiti? Itu yang ngomong Kana pas curhat sama Lian--temennya Kana. Haha... Yogas emang bener-bener tega, sih. Dia berusaha banget menjauhkan diri dari Kana yang padahal sangat sayang ke dia.
Komentar Ketiga
Nah, ini udah mulai yang jelek-jelek nih komennya. Hehe... Oke, to the point ya, gue agak menyayangkan seting tempatnya yang menurut gue monoton. Kurang kaya seting tempat kalau menurut gue. Adegannya cuma seputar kost - roof top - kost - roof top - kost - roof top. Iya sih yang mengaitkan mereka berdua ya cuma kost. Nggak ada yang lainnya. Tapi, apa kek. Bisa ditambah lagi, deh, menurut gue. Objek wisata Jogja kan banyak. Ini yang keluar cuma Pantai Parangtritis. Ya, oke, deh. Yogas ceritanya ke Jogja cuma punya satu tujuan; nyari Joe. Otomatis dia nggak peduli sama keindahan kota Jogja. Tapi... aduh... miskin seting tempat deh, menurut gue.
Komentar Keempat
Yang jelek-jelek lagi nih komennya. Hehe... Oke, to the point lagi ya. Menurut gue hal yang satu ini cukup kompleks. Gini, kan si Yogas sangat berusaha menjauh dari Kana karena dia takut lama-lama Kana yang awalnya ngaku bersedia menerima Yogas dan penyakitnya itu, berubah pikiran jadi milih ninggalin Yogas karena mulai capek ngurusin Yogas yang penyakitan. (Aduuh.... nggak tega nyebut Yogas penyakitan). Itu ketakutan Yogas yang pertama. Ketakutan Yogas yang kedua adalah, Yogas takut Kana bakal ngerasa kehilangan kalau suatu hari nanti Yogas meninggal karena penyakitnya itu. Dia nggak mau Kana jadi sedih karena kehilangan dia. (Gentle banget, broooo). Trus, ketakutan ketiga adalah, penyakit Yogas ini penyakit berat. Jadi, Yogas takut bakal ngerepotin Kana kalau penyakitnya semakin parah. Yogas takut Kana bakalan sampe harus mengorbankan masa depannya hanya untuk ngurusin Yogas. Nah lo, kesannya penyakitnya parah banget, kan? Emang, sih, penyakitnya parah dan mematikan. Tapi di cerita ini, ditampilkan Yogas masih fine-fine aja sama penyakitnya. Emang di beberapa bagian ditunjukkan kalau kondisi Yogas udah mulai nggak fit. Kayak kelenjar getah beningnya mulai bermasalah, daya tahan imunnya menurun. Tapi, masih kurang tragis menurut gue. Jadi kesannya, penyakitnya Yogas nggak semenakutkan yang dia pikir. Well, oke. Penyakit ini membunuh secara perlahan-lahan dan butuh waktu lama untuk berkembang. Tapi kan, Yogas udah dapet penyakit itu sejak 6 tahun lalu. Harusnya kondisinya udah lumayan lemah, lho. Harusnya lebih parah dari ini. Apalagi di sini diceritain Yogas perokok. Nah lo, daya tahan tubuhnya harusnya lebih buruk. Jadi kesannya, apa yang ditakutkan Yogas; kayak dia takut Kana bakalan sampe harus mengorbankan masa depannya hanya untuk ngurusin Yogas, itu jadi kurang berasa. Harusnya ada pembuktian riil ketika Yogas udah bener-bener lemah, tapi Kana tetep mau nemenin. Di sini cuma diceritain pas Yogas demam, Kana mau nemenin. Cuma demam, bro. Tapi adegan itu udah cukup ngasih nilai plus, sih. Adegan itu menunjukkan kalau Kana tetep peduli sama Yogas sekalipun penyakit yang diderita Yogas mematikan dan menular. Dia nggak takut ketularan dan tetep bersedia ngerawat Yogas. (Uuuu... co cwiiiit ).
Tapi-tapi-tapi-tapi... yang mau gue sampein di komen keempat ini adalah; Kan, keadaan Yogas kurang tragis, jadi kesannya novel ini cuma sibuk menceritakan ketangguhan hati Kana yang tetap mau bersedia menerima Yogas walaupun Yogas udah berusaha supaya Kana menjauh darinya. Novel ini nggak menceritakan lebih lanjut parahnya penyakit Yogas yang bikin dia jadi segitu ngototnya menjauhkan Kana dari dirinya.
Well, itu aja sih yang gue sesalkan dari novel ini. Bukti riil kalau Kana mau menerima Yogas itu kurang nyata. Soalnya kondisi Yogas kurang parah. Jadinya, aksi Yogas melarang Kana deket-deket sama dia itu jadi kayak emm... omong kosong? (Aduuuh tega banget sih gue ngomong gitu) Ya... kira-kira begitu deh.
Yeah... over all, novel ini terbilang nggak akan bikin kalian nyesel karena telah menghabiskan waktu, tenaga, serta air mata demi membacanya. Paket lengkap kok nih novel. Bisa bikin ketawa, bisa bikin nangis, bisa bikin sebel. Ngaduk-aduk emosi pembaca deh. Masalah ending... ya... Orizuka banget. Agak ketebak sih endingnya gimana. Cuma eksekusinya yang bikin kaget. Kirain endingnya bakalan begitu karena penyakit Yogas. Ternyata karena hal lain. Nyebelin. Yaa... mungkin Kak Orizuka mau ngasih moral value bahwa tetap Tuhan yang tau segalanya. Bukan dokter, bukan diri kita, bukan siapa-siapa. Semua hal itu adalah ketetapan Tuhan. Manusia nggak bisa memprediksi. Mungkin itu maksud Kak Orizuka bikin ending begitu. Tapi, kok, otak jahat gue bilang kalau endingnya dibuat begitu supaya ceritanya lebih cepet, ya? Supaya nggak perlu nampilin masa-masa kritis Yogas karena penyakitnya semakin parah. Yaaah... who knows... Gue nggak mau menyela karya Kak Okke banyak-banyak. Karena ya emang cuma itu aja kekurangannya. Selanjutnya, semua oke. Bisa bikin ngakak, bisa bikin sedih, bisa bikin sebel, dan yang penting bisa bikin pembaca lupa sama masalah kehidupannya sendiri. Pembaca kan baca novel buat refreshing. Ya berarti harus terhibur dong. Dan gue merasa terhibur di novel ini. Sangat terhibur :)
Lima bintang deeeeh :)
Senin, 19 Agustus 2013
FRUSTRATED
Hai! Anyway, gue bersyukur blog gue nggak banyak dibaca. Karena apa? Karena blog gue isinya cuma mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Ya ya ya… gue tau gue manusia kufur yang yaaaa…. What the shit lah pokoknya.
Gue nggak ngerti nih. Kayaknya kefrustasian gue karena akumulasi dari rasa putus asa gue atas kegagalan gue sebelum-sebelumnya. Banyaaaaak banget kegagalan yang gue alami akhir-akhir ini. Ngirim cerpen 13 kali nggak ada yang diterima. Gagal, kan? Novel gue yang paliiiiing gue pikir bener-bener selama dua tahun ditolak. Gagal, kan? Lomba english camp kurang dikiiiiit lagi skor gue bisa masuk final. Tapi tetep aja judulnya nggak jadi masuk final. Itu berarti, Gagal, kan? Dulu gue pengen banget bisa magang di KAP Rahmad Wahyudi. Udah belajar bener-bener tapi nggak lolos seleksi. Gagal, kan? Ikut lomba poster, nggak menang. Gagal, kan? Punya target jadi juara umum nilai UAN, trus temen gue tuh yang jadi juara umum nilai rata-ratanya 9,6. Sementara gue 9,5. Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan? (Nih temen gue yang juara pasti ketawa-tawa nih baca blog gue. hehe… peace, mbak bro) Trus-trus, gue juga punya target nilai bahasa inggris gue bisa 10 pas UAN. Eeee… dapetnya 9,8. Lagi-lagi Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan?
Dan, yang paling bikin gue bete adalah yang baru aja terjadi. Gue pengen banget bisa kuliah di U** tapi ternyata gue nggak ketrima. Ketrimanya di UNS.
NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…………….
I mean, bukannya gue serakah. Gue cuma benci aja. I always lost my last puzzle. Kenapa tiap kali gue menyusun puzzle kehidupan gue, selalu aja gue kehilangan kepingan terakhir puzzle gue? Kenapa tiap kali gue hampir mencapai puncak, selalu aja ada yang bikin gue tergelincir dan gagal menempati puncak itu? Why? What’s the prob? What’s my mistake? Did I do something wrong?
Karena Tuhan belum percaya lo bisa nempatin puncak itu dengan bijaksana. Makanya lo dipertemukan dengan kegagalan terlebih dahulu! Tuhan takut lo jadi sombong kalau lo ada di puncak itu di saat lo belum cukup bijaksana!
AAAAAH…. SHITTTTTT! Selalu aja ya, selalu ketika gue marah-marah, ada aja sisi hati gue yang nasehatin gue.
Karena kalo nggak gitu lo bisa gila!
Tapi sekali-kali gue juga pengen marah!
Ya udah kalo gitu marah aja, tapi cukup sekali! Lo punya Tuhan yang ngeliat lo!
FINE! I really gonna be crazy. Lama-lama kalau gini gue takut untuk punya ekspektasi. Lama-lama gue takut untuk bermimpi. Buat apa gue punya target kalau ujung-ujungnya gue gagal? Kalau ujung-ujungnya gue nggak bisa menuhin target itu? Udah capek-capek berusaha, tapi gagal. Males banget kan kalau gitu. Mendingan diem di tempat, nggak usah berusaha. Toh ujung-ujungnya gue gagal. Ya, kan?
Kegagalan itu kemenangan yang tertunda, Ris!
Diem lo! Basi lo ngomong begitu! Pepatah basi!
Gue serius. Lo bisa ngomong itu pepatah basi karena lo belum menemukan kebenaran dari pepatah itu.
Trus kapan gue bisa menemukan kebenaran itu? Kapan? Besok kalau gue udah beranak cucu? Iya? Bullshit lo!
Fine! Terserah kalau lo mau marah-marah. Silakan. Tapi inget, ini pertama dan terakhir kali lo marah.
Setelah itu lo harus berpikir jernih lagi!
Gue nggak janji! Berisik!
Lo akan nyesel suatu hari nanti kalau lo marah-marah gini!
Kalau gitu gue akan nanggung rasa sesal gue itu sendiri!
Marah-marah bikin lo jadi bertindak impulsif!
Lo sendiri juga sekarang ikutan marah, bego!
Itu karena lo nggak bisa dibilangin!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA I’m nearly death… give me a favor…
YOUR OWN SELF WHO CAN GIVE YOU FAVOR!
capek... capek berkhayal ketinggian. rasanya kayak gue dipaksa bangun dari tidur gue, dipaksa meninggalkan mimpi indah gue, dipaksa menghadapi kenyataan yang nggak seindah mimpi gue, dan dipaksa sadar bahwa mimpi dan kenyataan itu beda. beda jauh. mendadak gue jadi benci sama lagunya nidji; laskar pelangi. mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, you think so, huh?
tapi lagu itu bener juga. lo hanya lagi putus asa sekarang. makanya lo bilang lagu itu jelek
Apanya? Emang jelek. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia? to againts the world? You serious? haha... wake up. come on up. it's nonsense. WAKE UP!
RIS! what the hell you think?! lo boleh putus asa. tapi jangan berlarut-larut. hidup lo nggak setragis orang cacat. lo jauh lebih memiliki harapan untuk menggapai cita-cita lo daripada mereka. lo nggak punya keterbatasan fisik, ortu lo masih lengkap, lo nggak berkekurangan secara apa pun. YOU WAKE UP!
Argggggghhhhh gue pusing, anyway, gue mau share lagu yang sekarang lagi gue denger. lagunya Robbie Williams. betterman. nggak ada hubungannya sih arti nih lagu sama apa yang lagi gue rasain sekarang. gue suka alunan nadanya aja. bikin tenang. here's the song....
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Go easy on my conscience
Bersikap lembut pada nuraniku
'Cause it's not my fault
Karena itu bukan salahku
I know I've been told
Aku tahu tlah ada yang memberitahu
To take the blame
Untuk akui kesalahan
Rest assured my angels
Yakin para bidadariku
Will catch my tears
Akan tadahi air mataku
Walk me out of here
Membawaku keluar dari sini
I'm in pain
Aku sedang kesakitan
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Once you've found that lover
Begitu kau temukan kekasih
You're homeward bound
Kau pasti 'kan ingin pulang
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
I know some have fallen
Aku tahu ada yang tlah jatuh
On stony ground
Di tanah berbatu
But love is all around
Tapi cinta ada di segala penjuru
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Gue nggak ngerti nih. Kayaknya kefrustasian gue karena akumulasi dari rasa putus asa gue atas kegagalan gue sebelum-sebelumnya. Banyaaaaak banget kegagalan yang gue alami akhir-akhir ini. Ngirim cerpen 13 kali nggak ada yang diterima. Gagal, kan? Novel gue yang paliiiiing gue pikir bener-bener selama dua tahun ditolak. Gagal, kan? Lomba english camp kurang dikiiiiit lagi skor gue bisa masuk final. Tapi tetep aja judulnya nggak jadi masuk final. Itu berarti, Gagal, kan? Dulu gue pengen banget bisa magang di KAP Rahmad Wahyudi. Udah belajar bener-bener tapi nggak lolos seleksi. Gagal, kan? Ikut lomba poster, nggak menang. Gagal, kan? Punya target jadi juara umum nilai UAN, trus temen gue tuh yang jadi juara umum nilai rata-ratanya 9,6. Sementara gue 9,5. Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan? (Nih temen gue yang juara pasti ketawa-tawa nih baca blog gue. hehe… peace, mbak bro) Trus-trus, gue juga punya target nilai bahasa inggris gue bisa 10 pas UAN. Eeee… dapetnya 9,8. Lagi-lagi Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan?
Dan, yang paling bikin gue bete adalah yang baru aja terjadi. Gue pengen banget bisa kuliah di U** tapi ternyata gue nggak ketrima. Ketrimanya di UNS.
NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…………….
I mean, bukannya gue serakah. Gue cuma benci aja. I always lost my last puzzle. Kenapa tiap kali gue menyusun puzzle kehidupan gue, selalu aja gue kehilangan kepingan terakhir puzzle gue? Kenapa tiap kali gue hampir mencapai puncak, selalu aja ada yang bikin gue tergelincir dan gagal menempati puncak itu? Why? What’s the prob? What’s my mistake? Did I do something wrong?
Karena Tuhan belum percaya lo bisa nempatin puncak itu dengan bijaksana. Makanya lo dipertemukan dengan kegagalan terlebih dahulu! Tuhan takut lo jadi sombong kalau lo ada di puncak itu di saat lo belum cukup bijaksana!
AAAAAH…. SHITTTTTT! Selalu aja ya, selalu ketika gue marah-marah, ada aja sisi hati gue yang nasehatin gue.
Karena kalo nggak gitu lo bisa gila!
Tapi sekali-kali gue juga pengen marah!
Ya udah kalo gitu marah aja, tapi cukup sekali! Lo punya Tuhan yang ngeliat lo!
FINE! I really gonna be crazy. Lama-lama kalau gini gue takut untuk punya ekspektasi. Lama-lama gue takut untuk bermimpi. Buat apa gue punya target kalau ujung-ujungnya gue gagal? Kalau ujung-ujungnya gue nggak bisa menuhin target itu? Udah capek-capek berusaha, tapi gagal. Males banget kan kalau gitu. Mendingan diem di tempat, nggak usah berusaha. Toh ujung-ujungnya gue gagal. Ya, kan?
Kegagalan itu kemenangan yang tertunda, Ris!
Diem lo! Basi lo ngomong begitu! Pepatah basi!
Gue serius. Lo bisa ngomong itu pepatah basi karena lo belum menemukan kebenaran dari pepatah itu.
Trus kapan gue bisa menemukan kebenaran itu? Kapan? Besok kalau gue udah beranak cucu? Iya? Bullshit lo!
Fine! Terserah kalau lo mau marah-marah. Silakan. Tapi inget, ini pertama dan terakhir kali lo marah.
Setelah itu lo harus berpikir jernih lagi!
Gue nggak janji! Berisik!
Lo akan nyesel suatu hari nanti kalau lo marah-marah gini!
Kalau gitu gue akan nanggung rasa sesal gue itu sendiri!
Marah-marah bikin lo jadi bertindak impulsif!
Lo sendiri juga sekarang ikutan marah, bego!
Itu karena lo nggak bisa dibilangin!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA I’m nearly death… give me a favor…
YOUR OWN SELF WHO CAN GIVE YOU FAVOR!
capek... capek berkhayal ketinggian. rasanya kayak gue dipaksa bangun dari tidur gue, dipaksa meninggalkan mimpi indah gue, dipaksa menghadapi kenyataan yang nggak seindah mimpi gue, dan dipaksa sadar bahwa mimpi dan kenyataan itu beda. beda jauh. mendadak gue jadi benci sama lagunya nidji; laskar pelangi. mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, you think so, huh?
tapi lagu itu bener juga. lo hanya lagi putus asa sekarang. makanya lo bilang lagu itu jelek
Apanya? Emang jelek. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia? to againts the world? You serious? haha... wake up. come on up. it's nonsense. WAKE UP!
RIS! what the hell you think?! lo boleh putus asa. tapi jangan berlarut-larut. hidup lo nggak setragis orang cacat. lo jauh lebih memiliki harapan untuk menggapai cita-cita lo daripada mereka. lo nggak punya keterbatasan fisik, ortu lo masih lengkap, lo nggak berkekurangan secara apa pun. YOU WAKE UP!
Argggggghhhhh gue pusing, anyway, gue mau share lagu yang sekarang lagi gue denger. lagunya Robbie Williams. betterman. nggak ada hubungannya sih arti nih lagu sama apa yang lagi gue rasain sekarang. gue suka alunan nadanya aja. bikin tenang. here's the song....
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Go easy on my conscience
Bersikap lembut pada nuraniku
'Cause it's not my fault
Karena itu bukan salahku
I know I've been told
Aku tahu tlah ada yang memberitahu
To take the blame
Untuk akui kesalahan
Rest assured my angels
Yakin para bidadariku
Will catch my tears
Akan tadahi air mataku
Walk me out of here
Membawaku keluar dari sini
I'm in pain
Aku sedang kesakitan
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Once you've found that lover
Begitu kau temukan kekasih
You're homeward bound
Kau pasti 'kan ingin pulang
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
I know some have fallen
Aku tahu ada yang tlah jatuh
On stony ground
Di tanah berbatu
But love is all around
Tapi cinta ada di segala penjuru
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Langganan:
Postingan (Atom)



