Hai! Anyway ini adalah hari kedua gue menjalani masa OSMARU (Orientasi Studi Mahasiswa Baru).
Eng-ing-engggg..... yup-yup-yup akhirnya tiba juga waktunya untuk gue terjun ke kampus yang yaaaaa agak nggak srek di hati.
Well, first day. It was so boring.... to be honesttt... dari temen-temennya, dari kakak tingkatnya, dari acaranya. I just wanna go out from there as soon as I caaaaaan..... O ma gaaaah....
Trus, trus, trus, trus... di hari kedua. I met a friend from Wonogiri. Her name is Inten, and emmm... she is a handicapped. Well, I adore her passion. She came so far away from Wonogiri--well, actually it's not so far--but, with her condition she won't give up. She is not as lucky as us, she come from Wonogiri, and her family was just moderate. But, with all the boundaries, she still want to study. I adore her passion.
Rasanya gue kayak ketampar. Gue ngerasa bego aja. Dengan kondisi gue yang begini, dengan dua tangan sempurna, dua kaki sempurna. Semuanya sempurna. Rumah ada di Solo, nggak perlu ngekost, masalah biaya kuliah aman, masalah uang jajan aman, masalah keperluan kuliah kayak laptop modem printer dll juga aman. Bahkan sekarang gue dikasi motor. Padahal gue nggak pernah minta. Bayangin bisa naik motor aja nggak pernah--hehe... gue pernah kecelakaan pas naik motor sendirian soalnya. Jadi cukup trauma dan nggak pernah bayangin bakalan berani naik motor lagi.
Well, balik lagi. I mean, hidup gue untuk kuliah tuh bener-bener udah dipermudah. Sangat-sangat jauh lebih mudah dari temen-temen gue. Tapi kenapa gue nggak bisa bersyukur?
Oke, gue masih sakit ati karena nggak bisa ketrima di universitas impian gue yang udah gue impiin dari kecil. Tapi kemudian, gue kayak dibangunkan secara lembut. Pelan-pelan Tuhan menyadarkan gue, bahwa ada yang hilang berarti ada yang datang. Gue kehilangan universitas yang gue cintai itu, tapi gue didatangi oleh sejumlah berkah yang ternyata banyak banget. Gue terlalu terlarut dalam kekecewaan, sehingga gue menutup mata dari segala berkah yang diberikan-Nya.
Well, idealis boleh. Bagus malahan. Tapi masalahnya, idealis sama egois itu beda dikit. Dikit banget.
Dan gue salah menakar rasa idealisme dalam diri gue, sehingga rasa itu malah berubah menjadi rasa egois. Gue pengen kuliah di univ yang gue pengenin itu karena gue liat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa. Kayak ekskul kalau di tingkat sekolahan) di sana maju. Gue punya beberapa kenalan yang kuliah di sana dan mereka keliatan bangga banget bisa kuliah dan ikut UKM di sana. Mimpi bisa kuliah di sana itu udah ada sejak SMP. Gue jaga mimpi itu dalam hati gue, gue lakuin seluruh hal yang menunjang gue untuk dapat kuliah di sana--lo tau apa, gue dulu pemalu banget. Introvert, minder, nggak berani speak up-lah pokoknya. Tapi kemudian gue sadar, untuk bisa masuk di universitas itu gue butuh soft skill. Itu sebabnya lulus SMP, gue berubah jadi power ranger. Hehe... nggak ding. Lulus SMP, gue berubah jadi manusia baru yang ekstrovert, percaya diri, dan berani menyuarakan pendapat. Semua itu gue lakuin supaya gue bisa sejajar dengan kandidat lain yang ngincer universitas itu. Gue berusaha meningkatkan kualitas diri gue baik dari segi hard skill maupun soft skill. Pokoknya gue belajar bener-bener deh, but then... tadaaaaa I failed.
Dari tulisan-tulisan gue sebelumnya, lo tau kan gue jadi frustasi banget. Gue ngerasa jadi orang paling broken di dunia. Bahkan, ada saatnya gue jadi nggak percaya Tuhan. Yaaah.... that was the worst...
Tapi yah, bener juga katanya Eyang Kartini. Habis gelap, terbitlah terang. Setelah masa-masa suram gue dilanda frustasi, perlahan gue mulai disadarkan bahwa gagal bukan berarti gue kalah. Gue masih menang, maaaan! Gue hanya nggak menyadarinya. Gue hanya belum mampu menyibak maksud Tuhan sebenarnya.
Gue mulai dapet suntikan semangat di hari kedua OSMARU. Di hari kedua itu para perwakilan UKM di UNS pada presentasi tentang UKM-UKM mereka. Mungkin UKM-nya nggak sebagus sama UKM yang ada di universitas impian gue. Tapi gue nggak mau banding-bandingin. Yang di depan gue sekarang adalah UNS. Maka gue akan melangkah di sana.
Gue tertarik sama UKM LPS. (Apa sih kepanjangannya gue lupa. Pokoknya tentang organisasi karya ilmiah gitu, tulis menulis, jurnalistik, begitulah pokoknya.). Dan-dan-dan-dan yang bikin hepi adalah di LPS itu ada lomba Speech! Speech contest! Aaaaaaaa..... mata gue langsung ijoooo! Speech contest, sejak gue ikutan lomba english camp--walau kalah--gue jadi ketagihan sama pidato bahasa inggris. Makanya waktu liat ada lomba Speech gue langsung tertarik. Gue langsung lupa kalau sebelumnya gue bete banget sama semua hal yang ada di kampus ini.
Well, sekali lagi gue harus menarik ucapan gue sendiri. Di postingan gue yang lalu, nggak tau postingan kapan, gue nggak percaya bahwa kegagalan itu adalah kemenangan yang tertunda. Tapi sekarang, gue mulai meyakini itu. Kegagalan gue di lomba English camp akan mengantarkan gue kepada kemenangan di Speech contest! Yuhuuuuu..... I'm comiiiiiiiing :)
Ya oke, maksud gue dengan mengatakan gue harus menarik ucapan gue adalah, kemarin-kemarin gue ngerasa diri gue useless banget. Kalah lomba English camp, gue merasa diri gue bodoh. But no! Walaupun gue kalah, tapi dari ikut lomba English camp itu, gue jadi ketagihan buat ikutan lomba-lomba bahasa inggris semacam itu. Gue juga lebih ngerti trik-trik berbicara dalam bahasa inggris, cara menarik perhatian audience, cara bersikap ketika pidato, cara menjembatani tema dari satu tema ke tema lain. Pokoknya banyak deh ilmu baru yang bisa gue ambil dari English camp itu.
Oke, oke, oke. Sekali lagi, gue ternyata terlalu terlarut dalam kekecewaan gue terhadap kekalahan gue di lomba English camp. Sehingga gue nggak nyadar bahwa betapa banyak manfaat yang gue dapat di lomba itu.
Yeah well, ternyata pola pikir gue masih terlalu childish. Gue hanya melihat apa yang terlihat di depan gue, tanpa menapak tilasnya terlebih dahulu. I mean, waktu itu gue hanya ngerasa iri dan dendam ngeliat para pemenang lomba English Camp itu saat maju ke depan. Gue nggak berpikir jauh, bahwa mungkin para pemenang di lomba English Camp itu dulunya juga udah
ngerasain gagal terlebih dahulu. Mungkin bahkan mereka nggak cuma harus
ngerasain sekali-dua kali gagal. Tapi berulang kali sampai akhirnya
mereka menang. Gue hanya melihat apa yang gue lihat saat itu aja, yaitu bahwa mereka menang dan gue kalah, dan gue iri, dan gue dendam. Gue nggak menapak tilas sejarah kemenangan mereka terlebih dahulu.
Yeah well, gue rasa sudah saatnya gue meng-make up my mind. Udah saatnya gue merubah pola pikir. It's time to grow up. Idealis boleh, tapi jangan sampai egois. Kecewa boleh, tapi jangan sampai lupa bersyukur. Gagal boleh, tapi jangan sampai enggan untuk bangkit. Dan terkahir, gue kembali percaya akan lagunya Nidji. Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia. Gue kembali memegang mimpi gue. dan nggak akan gue lepas. Jadi penulis, menang lomba speech, naik gunung, jadi wirausahawan, emm... apalagi yaaa? Kalo jadi arkeolog kayaknya udah nggak. Hehehe... Tapi kalau antropolog, mungkin... who knows?
Yah... inilah yang gue suka dari masa muda. Masa di mana gue akan melakukan kesalahan dan menemukan kebenaran secara bersamaan. Itu sebabnya gue suka novel teenlit. Haha... nggak ada hubungannya juga kali. Gue sih emang demen baca bacaan apa aja. Hehe
Well,
Last but not least,
Teriak dulu yooook. Yel-yelnya anak sejarah.
Sejarah... JASMERAH JASMERAH MERDEKA :)
Buat para bule yang kuliah di UNS, suatu saat nanti lo akan liat gue lagi speech tentang sejarah Indonesia yang oke punya. Dan lo, wahai para bule, bakalan kagum sama sejarah bangsa Indonesia. Bangsa gue niiiiih, bangsa yang besar, bangsa yang berani bermimpi...
:)
Bila mampu memaknai sekelumit bagian dalam hidup ini, maka liku-liku kecil pun akan terlihat unik. Dan melalui cerita cerita pendek berikut, semoga kita bisa memaknai setiap sudut kehidupan ini
Rabu, 21 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
The truth about love
(Atas : Cover baru, bawah : cover lama)
Hai! Malem-malem gini, gue kena insomnia. Nggak bisa tidur. Lagi bete, pula. Ya udah deh, mendingan gue ngeresensi novel.
Well, novel yang bakal gue resensi kali ini adalah novel karyaknya Orizuka, alias Okke Rizka Septania.
Novel ini, menurut gue punya beberapa kesamaan pola dengan novel Summer Breeze yang juga dikarang oleh mbak Orizuka. Di antaranya, karakter utama cowoknya yang diam-diam menderita penyakit dan didera frustasi akut. Trus karakter ceweknya tipikal yang hepi, easy going, perhatian banget sama si cowok walaupun si cowok itu udah antipati, sabar banget, dan mendukung si cowok banget. Looks so sweet, right? And that's right. Novel ini emang dikemas dengan begitu romantis. Bikin air mata meleleh. Bikin rasanya nggak masalah baca sampe jam dua pagi.
Well, ceritanya itu tentang Yogas (Hero di cerita ini) yang menderita suatu penyakit mematikan. Dia udah putus asa hidup. Satu-satunya yang masih bisa bikin dia pengen hidup adalah obsesinya untuk membunuh Joe, teman yang sudah menularkan penyakit itu ke Yogas. Itu satu-satunya alasan Yogas hidup. Kalau dia sudah bisa membunuh Joe, dia nggak masalah mati karena penyakitnya itu.
Oke, intinya si Yogas ini hidupnya udah frustated banget. Dia kehilangan teman, dan pacarnya bahkan papanya milih meninggalkan dia karena penyakit itu. One day, Yogas pergi ke Jogja buat nemuin Joe. Dia nge-kost di sebuah kost bobrok nan murah meriah di Jogja. Di sana dia ketemu Kana (Heroine di cerita ini). Kana memiliki karakter ceria dan easy going dia nggak ambil pusing sama sikap jutek dan tertutupnya Yogas. Dia malah mengira sikap jutek dan tertutupnya Yogas itu karena Yogas menyimpan permasalahan berat, dan Kana mau membantu.
Well, selanjutnya baca sendiri. Gue nggak mau nimbulin spoiler banyak-banyak nih di sini. Gue pengennya komentar aja. Wuss... lagaknya udah kayak yang paling bener aja komen-komen.
Well, oke, mari sikat!
Komentar pertama
Dari depan interaksi Kana dan Yogas udah asik banget diikutin. Lucu. Sifat ceria dan muka temboknya Kana bikin Yogas lama-lama nggak bisa mempertahankan sifat cueknya di depan cewek itu. Mau digalakin kayak apa juga Kana bakalan terus ramah, bakalan terus mau temenan sama Yogas. Padahal Yogas berusaha sekuat tenaga untuk menjauh, karena dia takut dijauhi, makanya lebih baik dia yang menjauh dari awal. Di halaman-halaman awal, kita bakal dibikin ngakak sama aksi berantem Yogas-Kana yang lucu bin konyol.
Komentar kedua.
Novel ini ditulis dengan bahasa yang nggak belibet. Bahkan bisa dibilang diksinya standar. Nggak ada pemilihan kata yang terbilang puitis atau nyastra. Tapi, novel ini meaningful banget. Ada banyak pemikiran mendalam yang ada di novel ini. Kayak... ini bentar gue cari. (Ambil novel, trus buka-buka halamannya, agak lama, soalnya lupa halaman berapa. hehe)
Aduuuh.... gue lupa di halaman berapa. Pokoknya banyak kok. Keren aja gitu. Dengan diksi yang minimalis, bisa merangkai kata-kata yang meaningful. Yang paling gue inget cuma satu; Apalagi yang tersisa untuk disakiti? Itu yang ngomong Kana pas curhat sama Lian--temennya Kana. Haha... Yogas emang bener-bener tega, sih. Dia berusaha banget menjauhkan diri dari Kana yang padahal sangat sayang ke dia.
Komentar Ketiga
Nah, ini udah mulai yang jelek-jelek nih komennya. Hehe... Oke, to the point ya, gue agak menyayangkan seting tempatnya yang menurut gue monoton. Kurang kaya seting tempat kalau menurut gue. Adegannya cuma seputar kost - roof top - kost - roof top - kost - roof top. Iya sih yang mengaitkan mereka berdua ya cuma kost. Nggak ada yang lainnya. Tapi, apa kek. Bisa ditambah lagi, deh, menurut gue. Objek wisata Jogja kan banyak. Ini yang keluar cuma Pantai Parangtritis. Ya, oke, deh. Yogas ceritanya ke Jogja cuma punya satu tujuan; nyari Joe. Otomatis dia nggak peduli sama keindahan kota Jogja. Tapi... aduh... miskin seting tempat deh, menurut gue.
Komentar Keempat
Yang jelek-jelek lagi nih komennya. Hehe... Oke, to the point lagi ya. Menurut gue hal yang satu ini cukup kompleks. Gini, kan si Yogas sangat berusaha menjauh dari Kana karena dia takut lama-lama Kana yang awalnya ngaku bersedia menerima Yogas dan penyakitnya itu, berubah pikiran jadi milih ninggalin Yogas karena mulai capek ngurusin Yogas yang penyakitan. (Aduuh.... nggak tega nyebut Yogas penyakitan). Itu ketakutan Yogas yang pertama. Ketakutan Yogas yang kedua adalah, Yogas takut Kana bakal ngerasa kehilangan kalau suatu hari nanti Yogas meninggal karena penyakitnya itu. Dia nggak mau Kana jadi sedih karena kehilangan dia. (Gentle banget, broooo). Trus, ketakutan ketiga adalah, penyakit Yogas ini penyakit berat. Jadi, Yogas takut bakal ngerepotin Kana kalau penyakitnya semakin parah. Yogas takut Kana bakalan sampe harus mengorbankan masa depannya hanya untuk ngurusin Yogas. Nah lo, kesannya penyakitnya parah banget, kan? Emang, sih, penyakitnya parah dan mematikan. Tapi di cerita ini, ditampilkan Yogas masih fine-fine aja sama penyakitnya. Emang di beberapa bagian ditunjukkan kalau kondisi Yogas udah mulai nggak fit. Kayak kelenjar getah beningnya mulai bermasalah, daya tahan imunnya menurun. Tapi, masih kurang tragis menurut gue. Jadi kesannya, penyakitnya Yogas nggak semenakutkan yang dia pikir. Well, oke. Penyakit ini membunuh secara perlahan-lahan dan butuh waktu lama untuk berkembang. Tapi kan, Yogas udah dapet penyakit itu sejak 6 tahun lalu. Harusnya kondisinya udah lumayan lemah, lho. Harusnya lebih parah dari ini. Apalagi di sini diceritain Yogas perokok. Nah lo, daya tahan tubuhnya harusnya lebih buruk. Jadi kesannya, apa yang ditakutkan Yogas; kayak dia takut Kana bakalan sampe harus mengorbankan masa depannya hanya untuk ngurusin Yogas, itu jadi kurang berasa. Harusnya ada pembuktian riil ketika Yogas udah bener-bener lemah, tapi Kana tetep mau nemenin. Di sini cuma diceritain pas Yogas demam, Kana mau nemenin. Cuma demam, bro. Tapi adegan itu udah cukup ngasih nilai plus, sih. Adegan itu menunjukkan kalau Kana tetep peduli sama Yogas sekalipun penyakit yang diderita Yogas mematikan dan menular. Dia nggak takut ketularan dan tetep bersedia ngerawat Yogas. (Uuuu... co cwiiiit ).
Tapi-tapi-tapi-tapi... yang mau gue sampein di komen keempat ini adalah; Kan, keadaan Yogas kurang tragis, jadi kesannya novel ini cuma sibuk menceritakan ketangguhan hati Kana yang tetap mau bersedia menerima Yogas walaupun Yogas udah berusaha supaya Kana menjauh darinya. Novel ini nggak menceritakan lebih lanjut parahnya penyakit Yogas yang bikin dia jadi segitu ngototnya menjauhkan Kana dari dirinya.
Well, itu aja sih yang gue sesalkan dari novel ini. Bukti riil kalau Kana mau menerima Yogas itu kurang nyata. Soalnya kondisi Yogas kurang parah. Jadinya, aksi Yogas melarang Kana deket-deket sama dia itu jadi kayak emm... omong kosong? (Aduuuh tega banget sih gue ngomong gitu) Ya... kira-kira begitu deh.
Yeah... over all, novel ini terbilang nggak akan bikin kalian nyesel karena telah menghabiskan waktu, tenaga, serta air mata demi membacanya. Paket lengkap kok nih novel. Bisa bikin ketawa, bisa bikin nangis, bisa bikin sebel. Ngaduk-aduk emosi pembaca deh. Masalah ending... ya... Orizuka banget. Agak ketebak sih endingnya gimana. Cuma eksekusinya yang bikin kaget. Kirain endingnya bakalan begitu karena penyakit Yogas. Ternyata karena hal lain. Nyebelin. Yaa... mungkin Kak Orizuka mau ngasih moral value bahwa tetap Tuhan yang tau segalanya. Bukan dokter, bukan diri kita, bukan siapa-siapa. Semua hal itu adalah ketetapan Tuhan. Manusia nggak bisa memprediksi. Mungkin itu maksud Kak Orizuka bikin ending begitu. Tapi, kok, otak jahat gue bilang kalau endingnya dibuat begitu supaya ceritanya lebih cepet, ya? Supaya nggak perlu nampilin masa-masa kritis Yogas karena penyakitnya semakin parah. Yaaah... who knows... Gue nggak mau menyela karya Kak Okke banyak-banyak. Karena ya emang cuma itu aja kekurangannya. Selanjutnya, semua oke. Bisa bikin ngakak, bisa bikin sedih, bisa bikin sebel, dan yang penting bisa bikin pembaca lupa sama masalah kehidupannya sendiri. Pembaca kan baca novel buat refreshing. Ya berarti harus terhibur dong. Dan gue merasa terhibur di novel ini. Sangat terhibur :)
Lima bintang deeeeh :)
Senin, 19 Agustus 2013
FRUSTRATED
Hai! Anyway, gue bersyukur blog gue nggak banyak dibaca. Karena apa? Karena blog gue isinya cuma mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Ya ya ya… gue tau gue manusia kufur yang yaaaa…. What the shit lah pokoknya.
Gue nggak ngerti nih. Kayaknya kefrustasian gue karena akumulasi dari rasa putus asa gue atas kegagalan gue sebelum-sebelumnya. Banyaaaaak banget kegagalan yang gue alami akhir-akhir ini. Ngirim cerpen 13 kali nggak ada yang diterima. Gagal, kan? Novel gue yang paliiiiing gue pikir bener-bener selama dua tahun ditolak. Gagal, kan? Lomba english camp kurang dikiiiiit lagi skor gue bisa masuk final. Tapi tetep aja judulnya nggak jadi masuk final. Itu berarti, Gagal, kan? Dulu gue pengen banget bisa magang di KAP Rahmad Wahyudi. Udah belajar bener-bener tapi nggak lolos seleksi. Gagal, kan? Ikut lomba poster, nggak menang. Gagal, kan? Punya target jadi juara umum nilai UAN, trus temen gue tuh yang jadi juara umum nilai rata-ratanya 9,6. Sementara gue 9,5. Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan? (Nih temen gue yang juara pasti ketawa-tawa nih baca blog gue. hehe… peace, mbak bro) Trus-trus, gue juga punya target nilai bahasa inggris gue bisa 10 pas UAN. Eeee… dapetnya 9,8. Lagi-lagi Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan?
Dan, yang paling bikin gue bete adalah yang baru aja terjadi. Gue pengen banget bisa kuliah di U** tapi ternyata gue nggak ketrima. Ketrimanya di UNS.
NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…………….
I mean, bukannya gue serakah. Gue cuma benci aja. I always lost my last puzzle. Kenapa tiap kali gue menyusun puzzle kehidupan gue, selalu aja gue kehilangan kepingan terakhir puzzle gue? Kenapa tiap kali gue hampir mencapai puncak, selalu aja ada yang bikin gue tergelincir dan gagal menempati puncak itu? Why? What’s the prob? What’s my mistake? Did I do something wrong?
Karena Tuhan belum percaya lo bisa nempatin puncak itu dengan bijaksana. Makanya lo dipertemukan dengan kegagalan terlebih dahulu! Tuhan takut lo jadi sombong kalau lo ada di puncak itu di saat lo belum cukup bijaksana!
AAAAAH…. SHITTTTTT! Selalu aja ya, selalu ketika gue marah-marah, ada aja sisi hati gue yang nasehatin gue.
Karena kalo nggak gitu lo bisa gila!
Tapi sekali-kali gue juga pengen marah!
Ya udah kalo gitu marah aja, tapi cukup sekali! Lo punya Tuhan yang ngeliat lo!
FINE! I really gonna be crazy. Lama-lama kalau gini gue takut untuk punya ekspektasi. Lama-lama gue takut untuk bermimpi. Buat apa gue punya target kalau ujung-ujungnya gue gagal? Kalau ujung-ujungnya gue nggak bisa menuhin target itu? Udah capek-capek berusaha, tapi gagal. Males banget kan kalau gitu. Mendingan diem di tempat, nggak usah berusaha. Toh ujung-ujungnya gue gagal. Ya, kan?
Kegagalan itu kemenangan yang tertunda, Ris!
Diem lo! Basi lo ngomong begitu! Pepatah basi!
Gue serius. Lo bisa ngomong itu pepatah basi karena lo belum menemukan kebenaran dari pepatah itu.
Trus kapan gue bisa menemukan kebenaran itu? Kapan? Besok kalau gue udah beranak cucu? Iya? Bullshit lo!
Fine! Terserah kalau lo mau marah-marah. Silakan. Tapi inget, ini pertama dan terakhir kali lo marah.
Setelah itu lo harus berpikir jernih lagi!
Gue nggak janji! Berisik!
Lo akan nyesel suatu hari nanti kalau lo marah-marah gini!
Kalau gitu gue akan nanggung rasa sesal gue itu sendiri!
Marah-marah bikin lo jadi bertindak impulsif!
Lo sendiri juga sekarang ikutan marah, bego!
Itu karena lo nggak bisa dibilangin!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA I’m nearly death… give me a favor…
YOUR OWN SELF WHO CAN GIVE YOU FAVOR!
capek... capek berkhayal ketinggian. rasanya kayak gue dipaksa bangun dari tidur gue, dipaksa meninggalkan mimpi indah gue, dipaksa menghadapi kenyataan yang nggak seindah mimpi gue, dan dipaksa sadar bahwa mimpi dan kenyataan itu beda. beda jauh. mendadak gue jadi benci sama lagunya nidji; laskar pelangi. mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, you think so, huh?
tapi lagu itu bener juga. lo hanya lagi putus asa sekarang. makanya lo bilang lagu itu jelek
Apanya? Emang jelek. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia? to againts the world? You serious? haha... wake up. come on up. it's nonsense. WAKE UP!
RIS! what the hell you think?! lo boleh putus asa. tapi jangan berlarut-larut. hidup lo nggak setragis orang cacat. lo jauh lebih memiliki harapan untuk menggapai cita-cita lo daripada mereka. lo nggak punya keterbatasan fisik, ortu lo masih lengkap, lo nggak berkekurangan secara apa pun. YOU WAKE UP!
Argggggghhhhh gue pusing, anyway, gue mau share lagu yang sekarang lagi gue denger. lagunya Robbie Williams. betterman. nggak ada hubungannya sih arti nih lagu sama apa yang lagi gue rasain sekarang. gue suka alunan nadanya aja. bikin tenang. here's the song....
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Go easy on my conscience
Bersikap lembut pada nuraniku
'Cause it's not my fault
Karena itu bukan salahku
I know I've been told
Aku tahu tlah ada yang memberitahu
To take the blame
Untuk akui kesalahan
Rest assured my angels
Yakin para bidadariku
Will catch my tears
Akan tadahi air mataku
Walk me out of here
Membawaku keluar dari sini
I'm in pain
Aku sedang kesakitan
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Once you've found that lover
Begitu kau temukan kekasih
You're homeward bound
Kau pasti 'kan ingin pulang
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
I know some have fallen
Aku tahu ada yang tlah jatuh
On stony ground
Di tanah berbatu
But love is all around
Tapi cinta ada di segala penjuru
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Gue nggak ngerti nih. Kayaknya kefrustasian gue karena akumulasi dari rasa putus asa gue atas kegagalan gue sebelum-sebelumnya. Banyaaaaak banget kegagalan yang gue alami akhir-akhir ini. Ngirim cerpen 13 kali nggak ada yang diterima. Gagal, kan? Novel gue yang paliiiiing gue pikir bener-bener selama dua tahun ditolak. Gagal, kan? Lomba english camp kurang dikiiiiit lagi skor gue bisa masuk final. Tapi tetep aja judulnya nggak jadi masuk final. Itu berarti, Gagal, kan? Dulu gue pengen banget bisa magang di KAP Rahmad Wahyudi. Udah belajar bener-bener tapi nggak lolos seleksi. Gagal, kan? Ikut lomba poster, nggak menang. Gagal, kan? Punya target jadi juara umum nilai UAN, trus temen gue tuh yang jadi juara umum nilai rata-ratanya 9,6. Sementara gue 9,5. Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan? (Nih temen gue yang juara pasti ketawa-tawa nih baca blog gue. hehe… peace, mbak bro) Trus-trus, gue juga punya target nilai bahasa inggris gue bisa 10 pas UAN. Eeee… dapetnya 9,8. Lagi-lagi Tipis banget, maaan. Tapi tetep aja judulnya nggak mencapai target. Alias, Gagal, kan?
Dan, yang paling bikin gue bete adalah yang baru aja terjadi. Gue pengen banget bisa kuliah di U** tapi ternyata gue nggak ketrima. Ketrimanya di UNS.
NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…………….
I mean, bukannya gue serakah. Gue cuma benci aja. I always lost my last puzzle. Kenapa tiap kali gue menyusun puzzle kehidupan gue, selalu aja gue kehilangan kepingan terakhir puzzle gue? Kenapa tiap kali gue hampir mencapai puncak, selalu aja ada yang bikin gue tergelincir dan gagal menempati puncak itu? Why? What’s the prob? What’s my mistake? Did I do something wrong?
Karena Tuhan belum percaya lo bisa nempatin puncak itu dengan bijaksana. Makanya lo dipertemukan dengan kegagalan terlebih dahulu! Tuhan takut lo jadi sombong kalau lo ada di puncak itu di saat lo belum cukup bijaksana!
AAAAAH…. SHITTTTTT! Selalu aja ya, selalu ketika gue marah-marah, ada aja sisi hati gue yang nasehatin gue.
Karena kalo nggak gitu lo bisa gila!
Tapi sekali-kali gue juga pengen marah!
Ya udah kalo gitu marah aja, tapi cukup sekali! Lo punya Tuhan yang ngeliat lo!
FINE! I really gonna be crazy. Lama-lama kalau gini gue takut untuk punya ekspektasi. Lama-lama gue takut untuk bermimpi. Buat apa gue punya target kalau ujung-ujungnya gue gagal? Kalau ujung-ujungnya gue nggak bisa menuhin target itu? Udah capek-capek berusaha, tapi gagal. Males banget kan kalau gitu. Mendingan diem di tempat, nggak usah berusaha. Toh ujung-ujungnya gue gagal. Ya, kan?
Kegagalan itu kemenangan yang tertunda, Ris!
Diem lo! Basi lo ngomong begitu! Pepatah basi!
Gue serius. Lo bisa ngomong itu pepatah basi karena lo belum menemukan kebenaran dari pepatah itu.
Trus kapan gue bisa menemukan kebenaran itu? Kapan? Besok kalau gue udah beranak cucu? Iya? Bullshit lo!
Fine! Terserah kalau lo mau marah-marah. Silakan. Tapi inget, ini pertama dan terakhir kali lo marah.
Setelah itu lo harus berpikir jernih lagi!
Gue nggak janji! Berisik!
Lo akan nyesel suatu hari nanti kalau lo marah-marah gini!
Kalau gitu gue akan nanggung rasa sesal gue itu sendiri!
Marah-marah bikin lo jadi bertindak impulsif!
Lo sendiri juga sekarang ikutan marah, bego!
Itu karena lo nggak bisa dibilangin!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA I’m nearly death… give me a favor…
YOUR OWN SELF WHO CAN GIVE YOU FAVOR!
capek... capek berkhayal ketinggian. rasanya kayak gue dipaksa bangun dari tidur gue, dipaksa meninggalkan mimpi indah gue, dipaksa menghadapi kenyataan yang nggak seindah mimpi gue, dan dipaksa sadar bahwa mimpi dan kenyataan itu beda. beda jauh. mendadak gue jadi benci sama lagunya nidji; laskar pelangi. mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, you think so, huh?
tapi lagu itu bener juga. lo hanya lagi putus asa sekarang. makanya lo bilang lagu itu jelek
Apanya? Emang jelek. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia? to againts the world? You serious? haha... wake up. come on up. it's nonsense. WAKE UP!
RIS! what the hell you think?! lo boleh putus asa. tapi jangan berlarut-larut. hidup lo nggak setragis orang cacat. lo jauh lebih memiliki harapan untuk menggapai cita-cita lo daripada mereka. lo nggak punya keterbatasan fisik, ortu lo masih lengkap, lo nggak berkekurangan secara apa pun. YOU WAKE UP!
Argggggghhhhh gue pusing, anyway, gue mau share lagu yang sekarang lagi gue denger. lagunya Robbie Williams. betterman. nggak ada hubungannya sih arti nih lagu sama apa yang lagi gue rasain sekarang. gue suka alunan nadanya aja. bikin tenang. here's the song....
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Go easy on my conscience
Bersikap lembut pada nuraniku
'Cause it's not my fault
Karena itu bukan salahku
I know I've been told
Aku tahu tlah ada yang memberitahu
To take the blame
Untuk akui kesalahan
Rest assured my angels
Yakin para bidadariku
Will catch my tears
Akan tadahi air mataku
Walk me out of here
Membawaku keluar dari sini
I'm in pain
Aku sedang kesakitan
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Once you've found that lover
Begitu kau temukan kekasih
You're homeward bound
Kau pasti 'kan ingin pulang
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
Love is all around
Cinta ada di segala penjuru
I know some have fallen
Aku tahu ada yang tlah jatuh
On stony ground
Di tanah berbatu
But love is all around
Tapi cinta ada di segala penjuru
Send someone to love me
Kirimkan seseorang 'tuk mencintaiku
I need to rest in arms
Aku butuh istirahat dalam dekapannya
Keep me safe from harm
Menjagaku dari mara bahaya
In pouring rain
Dalam guyuran hujan
Give me endless summer
Beri aku musim panas abadi
Lord, I fear the cold
Tuhan, aku takut dingin
Feel I'm getting old
Rasanya aku bertambah tua
Before my time
Sebelum waktuku
CHORUS
As my soul heals the shame
Saat jiwaku sembuhkan rasa malu ini
I will grow through this pain
Aku kan lewati luka ini
Lord, I'm doing all I can
Tuhan, kulakukan segala yang kubisa
To be a better man
'Tuk menjadi manusia yang lebih baik
Senin, 29 Juli 2013
Jujur deh sama diri sendiri
Hai! Guess what, hari ini gue ke sekolah dalam rangka cap tiga jari. Jeng-jeng-jengggg :)Hehe…
Ya, hari ini gue ke sekolah buat cap tiga jari ijazah dan skhu. Jadi tadi jari-jari gue jadi keliatan unyu-unyu kena tinta gitu deh. Kayak abis ikutan pemilu. Hehehe… tuh fotonya kalo nggak percaya…
Gokil kan gue? Cap tiga jari aja pake difoto segala. Kayak di dunia ini gue doang yang pernah cap tiga jari. Hahaha… o ya, btw tadi pas cap tiga jari nggak ada gambar-gambar smilies-nya gitu di tangan gue. Itu sih guenya aja yang iseng nggambarin smilies. Tapi kalo dipikir-pikir, sekarang kan jamannya alay. Kayaknya asik juga kalau cap tiga jari pake smilies gitu. Bisa bayangin nggak, di foto ijazah kita yang kena tinta cap tiga jari itu ada gambar smilies-nya. Pasti unyu abis deh. Wkwkwk
Well, tapi bukan tentang cap tiga jari dan segala tetek bengeknya itu yang mau gue bahas di sini. Yang mau gue bahas di sini adalah bentrok batin yang kembali bergejolak dalam diri gue. O-ma-gah…. Kayaknya gue tuh ribet banget ya, suka bikin pusing diri sendiri.
Ya, jadi tadi gue ketemu banyak banget temen-temen gue. Trus, biasalah abis lulusan, lama nggak ketemu, begitu ketemu pasti pada nanya-nanya. Apalagi gue lulusan SMK. Abis lulus bisa pilih kerja apa kuliah. Nah tadi tuh yang jadi masalah adalah tiap kali gue ditanyai selalu aja reaksinya sama. Well, gue kan masuknya di UNS pendidikan sejarah. Gue nggak tau orang-orang itu pada mikirnya gimana. Tapi rata-rata pada meng-underistimate jurusan ini. Temen gue aja yang udah ketrima di jurusan ini mau cabut pindah ke univ swasta. (Tapi nggak tau juga sih beneran jadi pindah apa nggak. Kayaknya dia masih mikir ulang.)
Bagi mereka, pendidikan sejarah itu masa depannya kurang menjajikan. Mungkin bagi mereka sejarah itu ngebosenin. Basi. Cupu. Atau whatever-lah mau mikir apa. Jadinya ya gue pas ditanyain, jawabnya kayak agak gimana gitu. Males nanggapinnya kalau jatoh-jatohnya cuma dipandang sebelah mata. Reaksi mereka tuh pasti gini loh… nih bayangin ya…
XY : Aristi, kamu sekarang lanjut kuliah apa kerja? (Ekspresinya masih ramah, full smile, wajah berbunga-bunga, kayak abis ditembak Jeremy Tety)
Gue : Aku lanjut kuliah nih. (Ekspresi standar, tetep ramah—karena emang dasarnya gue orangnya ramah. Wuss… omong kosong!)
XY : Wah… kuliah, ya! Jadi anak kuliahan nih. Kuliah di mana? (Masih full smile )
Gue : Di UNS
XY : Wow… UNS. Bagus tuh. ( Takjub banget. Soalnya nih universitas paling beken di Solo ) Trus kemarin bisa masuk UNS lewat jalur apa?
Gue : Jalur bus.
XY : (Toeeenggg…. Langsung ngakak dia. Makin full smile.) Aristi nih. Bercanda terus. Serius dong. Lewat jalur apa? Undangan, tertulis, apa swadana.
Gue : Undangan nggak ketrima. Jadi tertulis aja.
XY : Wah… tertulis. Ya ampun… hebat juga kamu. Katanya tesnya susah, ya? Pesertanya juga ribuan. Wah… bagus tuh kalau bisa lolos tertulis. Hebat. (Takjub tingkat dewa) Trus, di UNS ambil jurusan apa?
Gue : Pendidikan Sejarah.
XY : Oh.
Tuh kan, nyebelin banget kan?! Abis gue jawab gue ambil jurusan pendidikan sejarah tuh biasanya orang-orang bakalan pada diem. Yang tadinya ketawa-ketawa kagum, begitu denger gue masuk pendidikan sejarah trus mereka kayak “Oh….” Sambil tersenyum prihatin. Nggak sekagum tadi lagi. Nyebelin, tau nggak. Bagi mereka tuh kayaknya, percuma masuk UNS tapi cuma ambil pendidikan sejarah. Trus, gue makin benci lagi kalau mereka sok menguatkan gue, “Ya udah nggak pa-pa. Pendidikan sejarah juga bagus, kok.”
Ih… kenapa sih? Kenapa mereka harus sok menguatkan gue gitu? Itu tuh secara nggak langsung juga merendahkan pendidikan sejarah. Kayaknya doang beriktikad baik mau mendukung gue, tapi dengan SOK MENGUATKAN itu mereka sebenernya sama aja kayak mereka yang cuma bilang “Oh….” sambil tersenyum prihatin.
So far, cuma ada dua orang yang berhasil bikin ati gue adem ayem tiap jawab pertanyaan itu. Orang pertama, dia temen gue. Gue nggak mau sebut namanya, ntar dia sombong. Hehe…
Dia nanggepinnya santai. Dia trus malah bilang gini, “Wah… cita-cita jaman kecilan kamu tercapai dong? Dulu kamu suka sejarah, kan?”
Gue kaget. Gue jarang banget cerita sama temen-temen kalau gue dulu maniak sejarah. Soalnya gue sendiri juga udah lupa sama cita-cita gue itu. Jaman SD dulu gue pengen banget jadi arkeolog. (ngerti arkeolog nggak, itu lho orang-orang yang suka meneliti fosil-fosil, menemukan benda purbakala, peniliti gitu lah pokoknya.)
Nah, waktu temen gue nanggepinnya kayak gitu, gue kaget. Kaget karena dia inget cita-cita yang bahkan gue sendiri udah lupa. Dan gara-gara itu, jadi kayak ada semangat muncul dalam diri gue. Wusss…. Eh tapi serius. Iya beneran.
Trus, orang kedua, dia guru gue. Guru Bahasa Inggris. Beliau dulu mendukung banget biar gue masuk di bahasa inggris. Entah pendidikan atau sastra. Trus, pas beliau nanya gue ketrima di mana, ambil jurusan apa, gue agak tegang. Nih guru dulu ngedukung gue banget biar bisa masuk bahasa inggris. Jangan-jangan ntar begitu denger gue masuknya di pendidikan sejarah dia kecewa lagi. Aduuuh… gue udah capek nanggepin orang-orang yang memandang sejarah dengan sebelah mata.
Tapi di luar dugaan, ternyata beliau malah mendukung gue. Tanggapan beliau gini, “Wah… sejarah? Banyak peluang lho sekarang sejarah. Guru yang paling banyak dicari itu sekarang guru sejarah sama guru bahasa Indonesia. Wah… bisa lebih gampang berarti kamu besok nyari kerjanya. Ditekuni, ya. Ilmu sejarah sekarang dibutuhkan banget.”
Waduuuuuuh…. Berasa ketiup angin surga, tau nggak! Akhirnya setelah gue menemui puluhan orang yang selalu meng-underistimate pilihan gue, gue menemukan orang-orang yang beneran tulus menghargai pilihan gue. Seneng banget rasanya.
Well, emang sih gue nggak bisa menampik anggapan orang-orang yang menganggap bahwa nih jurusan bisa dibilang lebih rendah dari jurusan lain. Soalnya mereka mikirnya di zaman sekarang ini ilmu sejarah nggak terlalu dibutuhkan. Nggak kayak bahasa inggris yang sekarang aja anak TK pada berlomba-lomba diajarin emaknya biar bisa ngoceh bahasa inggris. Trus, nggak kayak ekonomi juga yang emang harus selalu mengikuti dinamika zaman. Sejarah itu ilmu tentang masa lalu, yang cenderung dilupakan. What a pity…
Gue sendiri jujur waktu tau gue ketrima di jurusan sejarah, gue agak kecewa. Gue ngerasa gue bener-bener nggak suka sejarah. Pola pikir gue sama kayak orang-orang. Sejarah ntar kerjanya apa coba? Jaga museum? Ntar kalau isi museumnya pada hidup pas malem hari kayak di night at the museum gimana, coba? Kan serem!
Tapi, trus gue berdialog dengan diri gue sendiri. Gue berusaha berpikir jernih. Gue mencoba jujur dengan diri gue. (Wusss…. Eh, tapi ini serius. Plis jangan diledekin dulu.)
Awalnya gue NGAKU nggak suka sejarah. Tapi begitu gue berusaha jujur dengan diri gue sendiri, gue ngerasa gue punya passion di sejarah. Dari dulu. Dari SD. Buktinya di saat anak-anak lain ditanyai cita-cita, mereka jawab pengen jadi dokter. Sementara gue jawab, juga pengen jadi dokter. Karena apa? Karena waktu itu gue pemalu banget. Gue nggak berani meneriakan suara hati gue yang menjerit-jerit pengen bilang kalau gue bercita-cita jadi arkeolog, sekaligus jadi penulis.
Jujur, sampai sekarang gue masih ngerasa penasaran sama sejarah. Gue ngerasa sejarah itu kayak petualangan. Kayak main detektif-detektifan. Musti menguak masa lalu, memutar ulang apa yang pernah terjadi, seru aja di mata gue. Kayak aksinya Nicholas Cage di film National Treasure.
Setelah berpikir jernih, gue berusaha menenangkan diri gue. Ya, mungkin bagi orang-orang jurusan ekonomi, teknik, pertanian, MIPA, or whatsoever, itu adalah jurusan paling baik. Tapi belum tentu itu yang paling baik buat gue. Gue ngerasa gue nggak ada chemistry sama segala hal tentang numerik. Otomatis gue nggak cocok kalau dimasukin ke ekonomi, teknik, pertanian, apalagi MIPA. Gue lebih ngerasa nyaman dengan segala sesuatu yang mengandalkan linguistik, seni, kreatifitas, dan public speaking. Jadi jurusan yang tepat buat gue kalau bukan di FISIP, FSSR, kalau nggak ya di pendidikan tapi kecuali pendidikan teknik, MIPA, dan ekonomika. It’s good for me. Even not only good, but the best. The greatest choice for me.
Gue berusaha menulikan telinga. Nggak usah meduliin orang mau bilang apa tentang pilihan gue. Toh gue yang tau apa yang terbaik buat gue. Mereka cuma tau apa yang terbaik secara garis besar, secara umum. Tapi mereka nggak tau apa yang terbaik buat gue. Itu poinnya. Lebih baik jujur sama diri sendiri kalau gue nggak suka sama apa yang orang lain suka. Daripada pura-pura suka, tapi menderita? Hayoooo…. I’m the one who understand my own self.
Selasa, 09 Juli 2013
Allah SWT Itu Suka Tantangan
Hai! Udah lama banget nih nggak curhat. Habisnya gue males nulis. Jadi ya jarang mengumbar curhatan huehehe….
Well then, hari ini gue mau curhat tentang kehidupan gue yang sebentar lagi bakal dipanggil mbak mahasiswi (suiiiit… suiiit… asik bener hahaha). Yeah… alhamdulillah gue bisa kuliah. Tapi, jauh di dalam hati sebenernya gue nggak begitu suka. Karena gue ketrima di pilihan ketiga alias pilihan terakhir dari tiga pilihan jurusan yang gue pilih. Gue ketrima di Pendidikan Sejarah UNS Solo. Hehehe… bakal jadi Bu Guru Aristi ntar gue. Nggak bisa bayangin deh. Sumpah. Manusia nggak jelas begini jadi guru? Sejarah pula. Harus sesuai fakta, kan? Sejarah mana bisa bisa diubah seenaknya sendiri. Mampus aja gue kalo salah menransfer ilmu ke murid-murid gue. wakakakak… menyesatkan.
Oke, go on. (Mulai serius nih) Ada beberapa hal yang gua jadikan hikmah dari rezeki ini.
Well, Tuhan itu sukanya bikin tantangan, ya? Gue pengennya ketrima di jurusan pertama. Jurusan ilmu politik. Tapi dikasihnya jurusan ketiga. Sempet nangis sih karena kecewa. Sempet merasa Tuhan nggak mendengar doa gue. Tapi kemudian, gue inget waktu jaman gue masuk SMK. Ya, dulu gue juga kepaksa buat masuk SMK. Gue ngerasa SMK apaan sih, kayak kampungan gitu menurut gue dulu. Tapi begitu gue tiga tahun sekolah di SMK, gue justru mendapat banyak hal yang gue yakin nggak bakalan gue dapet di SMA. Bukan dari segi pelajarannya sih. Tapi dari segi barokah. Wuss… udah ngomongin barokah nih. Iya beneran. Jadi gini, mau gue sekolah di SMA atau SMK, kalau dari segi pelajaran gue yakin gue bisa ngikutin pelajarannya. Mau gue sekolah di SMA atau SMK, gue yakin gue bisa tetep ranking sepuluh besar, bahkan lima besar, bahkan tiga besar, atau bahkan ranking satu. Bukannya sombong, tapi gue yakin gue bisa memotivasi diri gue untuk maju.
Tapi, yang jadi persoalan, di manakah gue mendapat barokah? Ternyata gue mendapat barokahnya di SMK, bukan di SMA. Sekalipun gue masuk SMA dan gue jadi anak paling pinter di sana, tapi kalau gue nggak dapet barokah, what would happen? Itu yang nggak bakalan gue dapetin di SMA. BAROKAH. (Kayak nama warung terang bulan deket rumah gue nih. Hehe)
Ngomongin barokah juga ngomongin ridha Allah, guys. What looks good on your eyes may not be so for Allah. Apa yang keliatan bagus di mata lo, belum tentu keliatan bagus bagi Allah.
Allah knows better than us, guys. Allah itu mengetahui segala sesuatu lebih baik dari kita. Bukannya sok menggurui, but this is what really happened to me. Tapi ini ya emang yang terjadi dalam hidup gue. Dulu awalnya gue ngerasa gue bakalan lebih enjoy di SMA. Tapi nyatanya gue di SMK pun bisa sukses. Belum tentu kalau gue masuk SMA dulu itu gue juga bisa sukses.
Nah, sekarang kejadian itu berulang lagi. Gue agak nggak begitu suka masuk jurusan Pendidikan Sejarah ini. Tapi, who knows? Allah will never bring us down. Allah nggak akan mengecewakan umat-Nya. Allah pasti punya kado terindah pada akhirnya nanti. Hanya aja gue ditantang duluan nih ama Allah. Bisa nggak gue ngedapetin kado itu dengan cara masuk di jurusan Pendidikan Sejarah YANG NGGAK GUE SUKA. Gue ditantang untuk belajar mencintai apa yang nggak gue suka. Gue ditantang untuk bersabar, ikhlas, dan berjuang untuk melakukan yang terbaik pada bidang yang nggak gue suka.
Okelah… dapet lagi nih gue satu hikmah. Ngelakuin sesuatu yang emang kita sukai, itu gampang. Tapi ngelakuin sesuatu yang NGGAK kita sukai, itu tantangan. So, what would happen to me? Let’s see. Gue yakin gue bakalan survive. Karena apa? Karena Allah nggak akan mengecewakan hamba-Nya. Just believe Allah will always be there for us, Allah will always shows us the best way. That’s it. How simple the life is if we can make it simple.
Dan satu lagi, kita hidup di dunia ini bukan buat nyari kesuksesan. Tapi nyari ridha Allah swt. Kalau lo sukses, tapi nggak diridhai Allah, lo mau apa? Nggak ada gunanya, man...
Langganan:
Postingan (Atom)


